Rabu, 13 Desember 2017

Panglima Penakluk Sisilia


Asad bin Furat

Pulau Sisilia merupakan pulau yang strategis dan terluas di Laut Tengah, serta paling melimpah sumber ekonominya. Orang-orang Romawi menguasai pulau ini selama beberapa waktu hingga kaum Muslimin datang ke sana.

Para panglima muslim seperti Muawiyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi’, Atha’ bin Rafi, hingga Abdurrahman bin Habib telah berusaha membuka pulau ini. Namun, kesuksesan sebenarnya baru terjadi pada masa Dinasti Aghlabiyah melalui panglimanya yang terkenal, Asad bin Furat.

Asad bin Furat adalah panglima besar kelahiran Harran, Syam pada 142 Hijriyah (759 M). Ayahnya adalah pejuang yang ikut membebaskan wilayah Maghrib. Ketika sang ayah pindah ke Qairuwan, Asad ikut serta ke sana. Sejak kecil Asad bin Furat telah menghafalkan Alqur’an seluruhnya. Setelah menyelesaikan hafalannya, ia mempelajari ilmu-ilmu syariah hingga ia ahli dalam bidang fiqih. Ia mempelajari kitab al-Muwattha’ langsung dari penulisnya, Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar di Madinah.

Setelah belajar dari Imam Malik, ia melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu ke Irak. Di sana, ia belajar kepada murid-murid terkemuka Imam Abu Hanifah seperti Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani dan Abu Yusuf Al-Qadhi. Dari mereka, ia belajar madzhab Hanafi. Dari Irak, ia kembali menjelajahi negeri Islam untuk belajar, hingga sampailah ia di Mesir.

Di Mesir banyak terdapat murid-murid Imam Malik, seperti Ibnu Wahab dan Ibnu Qasim. Dari kedua inilah Asad mempelajari madzhab Maliki lebih mendalam. setelah merampungkan pelajarannya kepada dua murid Imam Malik itu, Asad kembali ke Qairuwan pada tahun 181 Hijriyah. Dia telah mendatangi kota-kota, berpindah dari satu kota ke kota yang lain untuk belajar dari para ulama terkemuka. Dan ketika dia kembali ke Qairuwan, ia telah menjadi ulama kaum muslimin yang mencapai tingkat ijtihad.

Dalam diri Asad bin Furat telah tertanam rasa cinta terhadap jihad fi sabilillah. Ia telah mengambil keteladanan pada diri ayahnya yang merupakan seorang pejuang pembebas wilayah Maghrib. Maka ketika Ibnu Aghlab, gubernur Qairuwan, berencana mengirim pasukan menggunakan kapal laut untuk menyerang Pulau Sisilia, ia mengangkat Asad bin Furat sebagai panglimanya. Asad pun menerima tawaran itu, sekalipun ia telah menjadi ulama di Qairuwan, ia tidak melupakan jihadnya.

Bersama 10.000 pasukan, Asad bin Furat keluar dari Qairuwan menuju Laut Tengah, tepatnya di Pulau Sisilia. Armada Islam ini berangkat pada Rabi’ul Awwal 212 Hijriyah (827 M). Pulau itu dikuasai oleh bangsa Romawi Byzantium, mereka telah menanti Asad bin Furat dengan mengerahkan 100.000 pasukan. Jumlah yang sangat jauh melampaui jumlah pasukan Islam.

Menang Pertempuran

Asad bin Furat berdiri di hadapan pasukannya menyampaikan khutbah dan memberikan semangat kepada mereka. Ia memotivasi serta mengingatkan pasukannya bahwa surga sebagai balasan mereka karena menolong agama Allah. kemudian panglima gagah berani ini membacakan beberapa ayat Alqur’an. Setelah itu mereka maju berperang melawan tentara Sisilia yang sangat banyak jumlahnya.

Perang dahsyat meletus, terdengar suara gemerincing pedang-pedang yang beradu dan suara ringkikan kuda. Sementara itu, kaum muslimin terus memekikkan takbir. Atas pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran. Pasukan musuh serta pemimpinnya lari dari peperangan. Jumlah pasukan bukanlah satu-satunya syarat penentu kemenangan, melainkan ketakwaan. Dan inilah yang ditanamkan Asad bin Furat kepada pasukannya.


Setelah memenangkan pertempuran di Sisilia, Asad bin Furat melanjutkan perjalanannya menuju Palermo, satu kota di Italia. Mereka mengepung kota itu dengan ketat. Saat kota ini hampir berhasil dibuka, tiba-tiba kaum muslimin terserang wahab penyakit. Banyak kaum muslimin yang terjangkit penyakit ini, termasuk panglima mereka Asad bin Furat, yang saat itu telah berusia 70 tahun. Pada tahun 213 Hijriyah, ulama ini pun meninggal dan dimakamkan di sana, dalam keadaan berjihad fi sabilillah. Semoga Allah memberikan tempat tertinggi di sisi-Nya.