Senin, 13 November 2017

Resensi: Alazhi Perawan Xinjiang

Alazhi, gadis Muslimah Uyghur harus menerima kenyataan bahwa kedua adiknya, Gulina dan Aisha meninggalkan rumah mereka di Kasygar, Provinsi Xinjiang demi mengejar mimpi mereka di Guangzhou, kota yang jauh lebih maju dan modern.

Kepergian Gulina dan Aisha membuat Alazhi berpikir untuk menyusul kedua adiknya untuk menjalani kehidupan dan karir yang lebih baik di Guangzhou. Terlebih setelah mendengar kata-kata Gulina dan Aisha kepadanya beberapa waktu lalu

“Apa yang dijanjikan kota ini untuk kita? Tidak ada. Kita hanya sibuk menabung untuk membeli perbekalan jika muslim dingin datang. Seperti bajing saja,” kata Gulina.

“Benar, Gulina, padahal kita semua sarjana. Tapi, gaji kita hanya cukup untuk membantu Ana menghidupkan tungku. Tapi, terutama aku sudah bosan dengan suasananya. Coba kau lihat majalah-majalah itu. Dunia luar begitu menawan. Kita bisa berkembang!” kata Aisha.

Namun, siapakah yang akan menjaga Dada dan Ana menjalani sisa hidupnya di rumah yang sederhana mereka? Sementara saudaranya yang tersisa hanyalah Yasen, adik laki-laki satu-satunya.
Terlebih lagi mereka, sebagai orang Uyghur, etnis minoritas di Cina selalu mendapat perlakukan tidak adil dari pemerintah. Mereka menjadi terpinggirkan di kampung sendiri. Untuk urusan ibadah pun mereka tidak bebas melaksanakannya.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan mempertimbangkan, Alazhi pun meninggalkan rumahnya  yang sederhana di Kasygar menuju kota modern, Guangzhou. Namun, bekerja di sana pun tidak mudah. Ia harus rela melepaskan hijabnya, yang menjadi identitasnya sebagai Muslimah selama ini. Ia rela meninggalkan Ana, Dada, dan Yasen, tanpa pamit pada mereka. Betapa besar rasa malu yang ditanggung Dada sebagai tokoh agama di Kasygar, saat orang-orang mengatakan putrinya lari dari rumah.

Tapi, sekalipun Alazhi telah melepaskan hijabnya, ia tetaplah seorang Uyghur. Etnis Muslim keturunan Turki yang lebih mirip orang Eropa ketimbang orang Cina asli yang bermata sipit. Dan karena itu ia tidak akan pernah lepas dari celaan mereka.

Setelah menjalani hidup di Guangzhou, Alazhi merasa rindu pada kampungnya. Rindu suasana rumahnya yang sederhana tapi sangat akrab dan harmonis. Tapi, malu telah menghinggapinya. Ia malu telah lari dari rumah dan meninggalkan Dada dan Ana begitu saja.

Alazhi perawan Xinjiang, novel menarik dan menguras perasaan. Novel yng menceritakan perjuangan Muslimah Uyghur yang memilih berkarir ke Guangzhou dan hidup modern di tengah gemerlapnya kota. Meskipun begitu, dia tidak merasa puas. Jiwanya sebagai muslimah Uyghur tetap ada dalam hatinya. Dan ingin kembali ke kota kelahirannya.

Nathayla Anwar, sang penulis dengan serius berkunjung langsung ke Xinjiang, dan bertemu dengan Alazhi, Muslimah Uyghur yang dijadikannya tokoh utama dalam novel ini.


Judul               : Alazhi Perawan Xinjiang Perjalanan Cinta Gadis Muslim Uyghur

Penulis            : Nathayla Anwar

Penerbit           : Qanita


Tebal               : 440 halaman

Kamis, 09 November 2017

Ibnu Rusyd, Ilmuwan Besar dari Cordoba

Patung Ibnu Rusyd di Cordoba, Spanyol
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lebih dikenal dengan Ibnu Rusyd. Ia lahir di Cordoba, Andalusia pada tahun 1126 M.

Minatnya pada ilmu pengetahuan sangat besar, sampai-sampai disebutkan bahwa sejak dewasa, Ibnu Rusyd tidak pernah absen dari kegiatan membaca dan keilmuan kecuali pada malam ayahnya meninggal dan malam pertama pernikahannya.

Pendidikan awalnya ditempuh di Cordoba. Di kota pusat peradaban dan ilmu pengetahuan ini dia belajar tafsir, hadits, fiqih, ushuluddin, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan kedokteran.

Setelah menamatkan pendidikannya, pada 1159 M, ia dipanggil oleh Gubernur Sevilla untuk membantu reformasi pendidikan di sana. Pada tahun 1169 M, ia diangkat menjadi hakim di Sevilla. Pengangkatan ini karena ilmunya yang luas dalam bidang hukum (fiqih) di samping kedekatannya dengan khalifah.

Ibnu Rusyd sangat mumpuni dalam bidang hukum dan menjadi orang yang paling ahli dalam soal khilafiyah (perbedaan pendapat) di zamannya. Bidayatul Mujtahid, bukunya yang ia tulis pada 1168 M menguraikan tentang sebab-sebab munculnya perbedaan pendapat dalam hukum (fiqih) dan alasannya masing-masing. Bukunya itu dinilai sebagai karya terbaik di bidangnya.

Setelah beberapa lama bertugas di Sevilla, Ibnu Rusyd kembali lagi ke kota kelahirannya, Cordoba. Di sana ia diangkat sebagai hakim agung pada tahun 1182 M. Namun, beberapa bulan kemudian ia pindah ke Marakesy untuk menggantikan Ibnu thufail sebagai penasihat khalifah.

Di Marakesy inilah, Ibnu Rusyd mencurahkan ilmunya untuk mendalami filsafat. Ulasan-ulasan panjangnya atas filsafat Aristoteles kebanyakan ditulisnya ketika berada di Marakesy. Karena kehebatannya menjelaskan filsafat Aristoteles, Dante Alighieri dalam bukunya “Divine Commedia”, memberi gelar kepada Ibnu Rusyd sebagai “commentator”, sang pengulas filsafat Aristoteles.

Akan tetapi pada 1195 M, ia terkena mihnah, fitnah sehingga ia dibuang ke Lucena, di kepulauan Atlantik. Kemudian buku-bukunya dibakar di depan umum dan pemikirannya tentang filsafat dan sains dilarang untuk disebar luaskan, kecuali kedokteran dan astronomi. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Khalifah segera menarik kembali Ibnu Rusyd dan mengembalikan nama baiknya.
Pada tahun 1198, Ibnu Rusyd meninggal dunia di Marakesy dalam usia 72 tahun dan jenazahnya dibawa ke Cordoba untuk dimakamkan di sana.


 Karyanya di Berbagai Bidang

Ibnu Rusyd banyak menghasilkan karya tulis. Setelah diteliti, karya-karyanya berhasil diidentifikasi berjumlah 78 buah judul buku, meliputi 28 buah dalam bidang filsafat, 20 dalam bidang kedokteran, 5 buah dalam bidang ushuluddin (teologi), 8 buah dalam bidang hukum (fiqih), 4 buah dalam bidang astronomi, 2 dalam bidang sastra dan 11 buah dalam ilmu-ilmu lainnya.

Karya-karyanya dalam bidang teologi di antaranya, “Al-Kasyf ‘an Manahij Al-Adillah fi Aqaid Al-Millah”, “Fashl Al-Maqal fima bainal Hikmah wa Asy-Syariah min Al-Ittishal”. Dalam bidang hukum, karyanya yang paling terkenal adalah “Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid”. Karyanya dalam bidang astronomi antara lain “Maqalah fi Jirm As-Samawi” (Uraian benda-benda langit), dan “Maqalah fi Harakah Al-Falak” (Gerak Langit).

Dalam bidang kedokteran, ia menulis buku berjudul “Al-Kulliyat fi Ath-Thibb”, ensiklopedi kedokteran dalam tujuh jilid. Sedangkan dalam bidang metafisika antara lain “Syarh Kitab Ma Ba’da At-Thabiah li Aristhuthalis dan Maqalah fi ‘Ilm An-Nafs”.

Averroeisme di Eropa

Ibnu Rusyd memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran di Eropa. Orang Eropa menyebutnya Averroes. Pengaruh Ibnu Rusyd memunculkan gerakan Averroeisme di Eropa yang menuntut pembebasan dari belenggu taklid pemikiran gereja. Dari gerakan Averroeisme inilah lahir reformasi di Eropa pada abad ke-16 dan rasionalisme pada abad ke-17 M.

Beberapa buku karya Ibnu Rusyd beberapa kali dicetak di Eropa. Antara lain di Venezia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Juga diterbitkan di Napoli, Bologna, Lyon, dan Strasbourg pada abad ke-16. Serta di Jenewa pada abad ke-17.


Pengaruh-pengaruh peradaban Islam, termasuk pemikiran Ibnu Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda Kristen Eropa yang belajar di berbagai universitas Islam di Andalusia (Spanyol), seperti Universitas Cordoba, Universitas Sevilla, Malaga, dan Granada. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan Islam. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali ke negeri mereka dan mendirikan sekolah atau universitas serupa. Universitas pertama di Eropa.

Panglima Perang Mu’tah (2)


Khalid bin Walid adalah tokoh kunci kemenangan kaum musyrikin Makkah atas pasukan kaum Muslimin pada Perang Uhud. Namun, ketika hidayah Islam menyapanya, ia berbalik menjadi pejuang Islam yang tak terkalahkan.

Seperti dikisahkan sebelumnya, Khalid bin Walid berhasil memenangkan pasukan Islam atas pasukan Romawi pada perang Mu’tah padahal sebelumnya umat Islam hampir saja menderita kekalahan dan tiga panglima, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah, telah syahid. karena itulah ia dijuluki Pedang Allah yang Terhunus oleh Rasulullah.

Kehebatan Khalid tidak hanya pada Perang Mu’tah saja. Setelah itu ia selalu ikut berperang bersama pasukan Islam di barisan paling depan pada Perang Tabuk dan Perang Hunain. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, banyak kabilah Arab yang murtad dan bergabung melakukan pemberotakan terhadap ummat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Beberapa kabilah yang ikut dalam pemberontakan adalah kabilah Asad, Ghatfan, Abbas, Dzubyan, Thaik, Bani Amir, Hawazin, Salim dan Bani Tamim. Mereka berhasil menghimpun kekuatan besar dengan jumlah puluhan ribu pasukan. Selain mereka penduduk Bahrain dan Oman juga ikut bergabung.

Pemberontakan tersebut semakin hari semakin membahayakan. Akhirnya Khalifah mengirim pasukan untuk memerangi mereka. Ia membagi pasukan menjadi 11 pasukan. Setiap pasukan diberi tugas masing-masing dan Khalid bin Walid terpilih sebagai panglima besar. Saat memberikan bendera kepada Khalid, Khalifah Abu Bakar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan adalah Khalid bin Walid. Dia adalah sebilah pedang dari pedang-pendang Allah yang dihunus untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik.”

Perang Riddah atau perang melawan orang-orang murtad adalah salah satu perang tersengit dalam sejarah. Saat itu, Musailamah sang nabi palsu menghimpun kekuatan bersama kabilah-kabilah lainnya di Yamamah. Beberapa kali pasukan Islam berhadapan dengan pasukannya namun belum dapat dikalahkan.

Lalu tiba giliran Khalid bersama pasukannya bertempur melawan nabi palsu itu. Dua pasukan saling menyerang dan banyak korban yang berjatuhan dari kubu muslimin. Semangat pasukan Islam semakin kendur karena serangan pasukan Musailamah. Namun, khalid berhasil mengembalikan kekuatan dan menyemangati pasukan.

Ia naik ke atas bukit dan mencari titik kelemahan pasukan Islam agar dapat dibenahi. Ia memanggil semua pasukan dan menyusun kembali strategi. Ia menyuruh setiap kabilah membentuk regu tersendiri. Dari Muhajirin satu regu dan Anshar juga satu regu. Dengan gema takbir dan tahlil pasukan bergerak menyerang. Dalam sekejap arah pertempuran berbalik. Ribuan pasukan Musailamah berjatuhan dan umat Islam akhirnya meraih kemenangan.


 Wafatnya Sang Pedang Allah

Khalid bin Walid telah mengikuti banyak perang bersama umat Islam baik sebagai pemimpin maupun prajurit. Di badannya terdapat banyak bekas tusukan tombak dan pedang. Namun Allah berkehendak lain, ia memilih hambanya itu meninggal di atas ranjangnya.

Saat ajal hendak menjemputnya, ia menangis. Menangis bukan karena takut kematian. Melainkan menangis karena kerinduannya untuk syahid di medan pertempuran sebagaimana para sahabat nabi lainnya seperti Mush’ab bin Umair, Ikrimah, Ja’far bin Abi Thalib, dan lainnya.

Ia berkata, “Aku ikut dalam berbagai pertempuran. Seluruh tubuhku penuh bekas luka pedang, tombak, dan panah. Kini, aku akan mati di atas ranjang seperti matinya seekor unta.” Khalid meninggal di Homs pada bulan Ramadhan tahun 21 Hijriah di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Pujian Bagi Khalid bin Walid

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Khalid bin Walid adalah Pedang Allah yang Terhunus.”

Rasulullah juga bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan adalah Khalid bin Walid.”

“Demi Allah, akan kusembuhan kegelisahan mereka dengan (hadirnya) Khalid,” kata Khalifah Abu Bakar ketika pasukan Muslimin merasa gentar menghadapi Romawi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh, Romawi akan melupakan gangguan setan disebabkan Khalid bin Walid.”

Umar bin Khatthab berkata, “Tak ada seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan laki-laki seperti Khalid.” 

Umar bin Khattab berkata saat meninggalnya Khalid, “Biarkan para wanita Bani Makzum menangisi Abu Sulaiman (Khalid bin Walid), karena sesungguhnya mereka tidak berdusta. Sesungguhnya orang seperti Abu Sulaiman akan ditangisi oleh siapapun.”



Panglima Perang Mu’tah (1)


Tokoh kali ini adalah ahli siasat, panglima perang, Sang Pedang Allah yang terhunus. Dialah Khalid bin Walid bin Mughirah. Lahir di Mekah sekitar 20 tahun setelah lahirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Khalid memiliki nasab dan kedudukan yang tinggi. Ayahnya, Walid bin Mughirah salah satu pembesar Quraisy yang kaya raya, selalu memberi makan dan minum kepada jamaah haji yang datang ke Baitullah. Meskipun begitu, Walid bin Mughirah sangat membenci Rasulullah dan selalu menentang dakwah beliau.

Khalid memiliki enam saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Sejak kecil dia telah berlatih menunggang kuda dan mahir dalam memainkan pedang. Karena kemahirannya itu ia dijadikan salah satu komandan kavaleri Quraisy.

Ketika dakwah Islam muncul, Khalid tidak serta merta memeluk Islam. Ia bahkan menjadi penentang ummat Islam di Perang Uhud. Pada perang tersebut, Khalid memainkan peran utama dalam mengalahkan kaum Muslimin. Hal itu disebabkan terbunuhnya pasukan pemanah kaum muslimin yang masih tersisa di atas bukit. Khalid berputar mengelilingi tentara Muslimin dan menusuknya dari belakang membuat barisan Muslimin kocar kacir sehingga banyak yang terbunuh.

Dari waktu ke waktu, Khalid terus memikirkan kebangkitan agama Islam yang kian berkibar. Dan ia sangat ingin bergabung di dalamnya. Hingga akhirnya Allah memberinya hidayah dan memantapkan hatinya masuk Islam. Ia pun meninggalkan Mekah menuju Madinah untuk menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah.

Sebelum ke Madinah, Khalid terlebih dahulu bertemu dengan Utsman bin Thalhah dan menceritakan keinginannya masuk Islam. Ternyata Utsman setuju dan ia juga ingin masuk Islam. Tak lama mereka berdua bertemu dengan Amr bin Ash. Dan ternyata Amr juga ingin bertemu Rasulullah untuk menyatakan keinginannya masuk Islam.

Pada tanggal 1 Shafar tahun 8 Hijriah, mereka bertiga tiba di kota Rasul. Ketika bertemu dengan Rasulullah, Khalid mengucapkan salam, dan Rasulullah membalas salamnya dengan wajah penuh keceriaan. “Sejak dulu, aku mengetahui bahwa engkau memiliki kecerdasan. Dan aku selalu berharap kecerdasanmu itu hanya digunakan untuk kebaikan,sabda Rasulullah pada Khalid.

Kemudian Khalid meminta agar dimohonkan ampun atas semua kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu. Terutama karena memerangi kaum Muslimin. Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya, keislaman itu menghapus segala perbuatan buruk di masa lalu....” Rasulullah kemudian mendoakannya, “Ya Allah ampunilah Khalid bin Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu.” Keislaman Khalid disusul Amr dan Utsman bin Thalhah.

Melawan Pasukan Romawi

Perang Mu’tah adalah perang pertama yang diikuti Khalid bin Walid bersama ummat Islam. Dalam perang melawan Romawi tersebut, tiga panglima Islam gugur sebagai syahid. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah Radhiyallahu Anhum. Maka dengan cepat Tsabit bin Arqam mengangkat bendera dan memberikannya kepada Khalid.

Awalnya Khalid menolak karena merasa tidak pantas. Namun Tsabit meyakinkannya, “Ambillah, karena engkau lebih tahu dan berpengalaman tentang peperangan dibanding aku.” Semua pasukan setuju Khalid mengambil alih komando pasukan.

Khalid mengambil bendera lalu memimpin kaum Muslimin. Dengannya Allah menyelamatkan pasukan. Khalid berkata, “Aku telah mematahkan sembilan pedang musuh. Semuanya patah di tanganku kecuali pedang dari Yaman (Pedang yang lebar mata pedangnya). Karena peristiwa inilah Rasulullah memberinya julukan Saifullah, Sang Pedang Allah.

Keutamaan Khalid bin Walid     

Sahabat Rasulullah yang masuk Islam tahun 8 Hijriah.

Rasulullah memberinya julukan Saifullah al-Maslul (pendang Allah yang terhunus).

Berasal dari klan Makzhum, salah satu klan terhormat di Mekah.

Setelah masuk Islam, ia terus berjuang bersama Rasulullah.

Memerangi para murtaddin setelah Rasulullah wafat.

Menjadi komandan perang di masa Khalifah Abu Bakar.

Membebaskan negara Persia.

Membebaskan wilayah Syam.