Tampilkan postingan dengan label Biografi Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

Bait Syair Sultan Idrus Kaimuddin Al-Butuni

 


Sultan Idrus Kaimuddin, salah satu sultan berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Buton. Bukan saja karena ia seorang pemimpin (amir), tapi juga karena ia seorang berilmu (alim-ulama). Ia juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Bait-bait  syairnya memuat nasihat-nasihat penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), menunjukkan kedalaman pemahaman agama dan kebersihan hatinya. Ia menasihati dirinya agar mengingat bagaimana awal kali ia tercipta yakni dari setetes air yang hina (mani).

Kamis, 09 Juli 2020

Asma binti Umais Wanita Dua Hijrah



Wanita kali ini adalah wanita yang mendapatkan keuntungan sebagai salah seorang yang mula-mula masuk Islam. Ia masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah sahabat Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzumi. Rumah tempat beliau menyeru orang-orang untuk masuk Islam di Makkah.

Dia adalah Asma binti Umais bin Ma’ad Al-Khats’amiyah. Istri seorang pemimpin syahid dan lambang para mujahid, Ja’far bin Abi Thalib, anak paman Rasulullah yang dijuluki “Pemilik dua sayap”.

Orang-orang di Makkah yang memeluk Islam terus mendapat tekanan dan siksaan dari orang-orang musyrik Quraisy. Tidak terkecuali Asma binti Umais dan suaminya. Untuk menyelamatkan keimanan mereka, Rasulullah memerintahkan sebagian umat Islam untuk berhijrah ke Habasyah. Di sana mereka akan hidup tenang di bawah naungan Raja Najasy yang adil.

Asma berangkat didampingi suaminya, Ja’far, sekaligus sebagai pemimpin para muhajirin ke bumi Habasyah. Mereka berdua tinggal di sana selama beberapa tahun. Dan baru kembali setelah delapan tahun Rasulullah tinggal di Madinah. Ja’far adalah orang yang cerdas dan fasih lisannya. Melalui dirinyalah Raja Najasy masuk Islam. Dan kaum Muslimin hidup di bawah naungan keadilan dan betah tinggal di dekatnya.

Di Habasyah, Asma melahirkan anak-anaknya, yaitu Abdullah, Aun, dan Muhammad. Ketika ia baru melahirkan Abdullah, Raja Najasy juga baru saja memiliki anak. Sehingga ia mengirim surat kepada Ja’far dan menanyakan nama anaknya. Ja’far menjawab bahwa nama anak mereka Abdullah. Akhirnya Najasy menamakan anaknya Abdullah.

Asma mengambil anak Najasy dan menyusuinya hingga disapih bersama anaknya sendiri. Itulah salah satu sebab Asma mendapatkan kedudukan yang terhormat di kalangan rakyat dan Raja Habasyah.

Hijrah Kedua

Hijrah Asma yang kedua adalah hijrah ke Madinah Al-Munawwarah pada tahun ketujuh hijriah. bertepatan dengan penaklukan Khaibar yang dilakukan oleh Rasulullah. Jadi hijrah Asma merupakan hijrah setelah hijrah. Rasulullah menyebut para Muhajirin dari Habasyah dengan sebutan Muhajirin dengan dua hijrah.

Ketika tiba di Madinah, Umar menyambut mereka dan mengatakan, “Wahai wanita Habasyah, kami mendahului engkau dalam berhijrah.” Asma menjawab, “Demi Allah engkau benar. Engkau selalu bersama Rasulullah, memberi makan orang yang kelaparan, dan mengajar mereka yang bodoh. Adapun kami terbuang sangat jauh.”

Namun pandangan Rasulullah berbeda. Beliau bersabda, “Semua manusia memiliki satu hijrah, sedangkan kalian memiliki dua hijrah. Kalian semua berhijrah kepada Najasy, lalu berhijrah kepadaku.” Satu keutamaan yang tidak dimiliki banyak orang, termasuk Umar bin Khatthab.



Hafalan Hadits

Asma binti Umais cukup banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang menandinginya dari kalangan para wanita Muhajirah dalam hal ini kecuali Ummul Mukminin Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma.


Ia meriwayatkan 60 buah hadits dari Rasulullah. Dari kalangan sahabat yang meriwayatkan hadits darinya adalah Umar bin Khatthab, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Ja’far. Adapun dari kalangan tabi’in di antaranya dalah Urwah bin Zubair, Abdullah bin Syidad, Sa’id bin Musayyib, Asy-Sya’bi, Al-Qasim bin Muhammad.

Senin, 18 November 2019

Orhan Pamuk Peraih Hadiah Nobel Sastra


Orhan Pamuk

Pada tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, novelis muslim asal Turki meraih penghargaan Nobel dalam bidang sastra (Nobel Prize in Literature). Ia menjadi satu-satunya muslim yang memenangkan penghargaan bergengsi tersebut dalam bidang sastra.

Awalnya, Pamuk mahasiswa teknik di Universitas Teknik Istanbul. Keluarganya menginginkan Pamuk menjadi seorang arsitek. Akan tetapi, setelah tiga tahun, Pamuk keluar dari universitas tersebut dan fokus menulis.

Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi di Institut Jurnalis di Universitas Istanbul, dan lulus pada tahun 1976. Karya pertamanya berjudul Karanlik ve Isik (Darkness and Light) yang terbit pada tahun 1979 berhasil meraih penghargaan Milliyet Press Novel.

Sejak itu, Orhan Pamuk terus melahirkan karya yang mengantarnya mendapatkan berbagai penghargaan dalam negeri.

My Name is Red (Benim Adim Kirmizi) yang diterbitkan pada 1998, merupakan novel yang mengangkat namanya di mata internasional. Novel yang berlatar kehidupan di Istanbul abad ke-16 itu telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan mengantarkan Pamuk menjuarai International Dublin Literary Award pada 2003.

Novelnya yang lain, berjudul Snow (Kar) terbit tahun 2002, dicatat The New York Times sebagai salah satu dari sepuluh buku terbaik (Ten Best Books) pada tahun 2004.

Karya-karya novelis kelahiran Istanbul, 7 Juni 1952 ini, telah terjual lebih dari 13 juta buku dan diterjemahkan ke dalam 63 bahasa di dunia. Di antara novelnya yang mendunia adalah The White Castle, The Black Book, The New Life, My Name is Red, dan Snow.

Selain itu, Pamuk juga mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari berbagai universitas baik dalam negeri Turki maupun luar negeri. Di antaranya adalah dari Bogazici University (Turki), Florence University (Italia), Universitas Amerika Beirut (Lebanon), Georgetown University, Yale University, dan Sofia University (Bulgaria), dan St.Petersburg State University (Rusia).

Jumat, 26 Juli 2019

Imam Ahmad dan Madzhabnya



Dia adalah seorang imam besar, al-hafizh, ulamanya kota Baghdad. Sampai hari ini, madzhab fiqihnya banyak diikuti oleh umat Islam di berbagai negeri.

Namanya adalah Ahmad bin Hanbal bin Asad Adz-Dzuhli Asy-Syaibani, lahir di Baghdad pada tahun 164 Hijriyah. Ia lebih muda sekitar 14 tahun dari Imam Asy-Syafi’i. Sejak usia 16 tahun Ahmad bin Hanbal telah berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menuntut ilmu. Ia telah melakukan perjalanan ke berbagai kota pusat ilmu pengetahuan seperti di Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Khurasan, dan Syam.

Dari negeri-negeri yang dikunjunginya itu, Imam Ahmad belajar kepada ulama-ulama besar. Ia berguru kepada Sufyan bin Uyainah di Makkah dan Abdurrazzaq Ash-Shan’ani di Yaman. Dan guru yang paling dekat dengannya, sekaligus menjadi sahabatnya adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Tidaklah mengeherankan, setelah pencarian ilmunya ke berbagai negeri, ia kembali ke Baghdad dan menjadi ulama besar di sana. Orang-orang ramai mendatangi majelisnya, mengambil manfaat dari ilmu dan adabnya. Atau hanya sekadar melihat wajahnya yang tenang dan berwibawa.

Imam Asy-Syafi’i pernah memuji ketinggian ilmu Ahmad bin Hanbal, “Aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia mengatakan ‘haddatsana’ (artinya: telah menceritakan hadits kepada kami), maka orang-orang mengatakan, ‘Dia benar!’” Dia adalah Ahmad bin Hanbal, kata sang Imam.

Dalam kesempatan yang lain, ketika Imam Asy-Syafi’i meninggalkan Baghdad dan menetap di Mesir, ia tetap memuji muridnya itu. Ia mengatakan, “Aku meninggalkan Baghdad. Dan tidaklah aku meninggalkannya seorang yang lebih takwa dan lebih pandai fiqih dibandingkan Ibnu Hanbal.”

Di masa Khalifah Al-Mu’tashim Al-Abbasi, Imam Ahmad mendapatkan ujian yang berat. Saat itu, pemikiran Mu’tazilah dianut dan didukung oleh Khalifah. Mereka, orang-orang Mu’tazilah, menganggap Alqur’an adalah makhluk. Mereka menguji ummat Islam dengan masalah tersebut. Siapa yang mengatakan Alqur’an bukan makhluk ia akan dihukum bahkan dibunuh.

Imam Ahmad adalah salah satu yang dipanggil di hadapan Khalifah Al-Mu’tashim dan ditanyakan masalah tersebut. Imam Ahmad menjawab bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Ia hampir saja dihukum mati. Tapi akhirnya Khalifah memutuskan agar ia dihukum cambuk. Sang Imam dicambuk sampai pingsan. Karena peristiwa itulah ia digelari Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Setelah itu, Imam Ahmad dipenjara sampai Khalifah Al-Mu’tashim wafat dan digantikan Al-Watsiq. Al-Watsiq tidak sekeras Al-Mu’tashim. Hanya saja ia melarang Imam Ahmad untuk mengajarkan ilmunya. Ia dilarang keluar dari rumahnya. Imam Ahmad baru bisa mengajar kembali di masa Al-Mutawakkil.


Dasar-dasar Madzhab

Pijakan Imam Ahmad bin Hanbal dalam madzhabnya dan fatwa-fatwanya berlandaskan pada lima dasar. Pertama, Teks dari Alqur’an dan hadits. Kedua, fatwa para sahabat (ijma’ sahabat) jika tidak ditemukan nash dari Alqur’an dan hadits.

Ketiga, jika terdapat banyak pendapat para sahabat dalam satu kasus, maka ia memilih mana yang lebih dekat dengan Alqur’an dan hadits. Dengan kata lain, ia tidak keluar dari salah satu pendapat ini. Terkadang Imam Ahmad tawaqquf dari fatwa jika tidak ditemukan sesuatu yang menguatkan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.

Keempat, mengambil hadits mursal atau dhaif (lemah) lebih utama baginya dibandingkan qiyas selama tidak ada atsar lain yang menolaknya, juka tidak ada pendapat para sahabat yang bertentangan dengannya. Dan kelima, jika ia tidak menemukan sesuatu dari keempat dasar yang disebutkan sebelumnya, maka ia beralih kepada qiyas. Beliau menggunakan qiyas dalam keadaan darurat.

Murid-murid Imam Ahmad

Imam Ahmad memiliki banyak murid. Murid-muridnya itulah yang menyebarkan madzhab fiqih sang guru. Di antara mereka yang terkenal antara lain, Abu Bakar Al-Atsram bin Muhammad bin Hani Al-Khurasani Al-Baghdadi. Ia termasuk seorang fuqaha, ulama, dan penghafal hadits (al-hafizh). Karyanya adalah “Kitab As-Sunan fi Al-Fiqh ‘Ala Madzhab Ahmad wa Syawahiduhu min Al-Hadits”.

Lalu, Ahmad bin Muhammad bin Al-Hujjaj Al-Maruzi, wafat pada tahun 275 H. Ia termasuk salah satu murid Imam Ahmad yang paling mulia, seorang imam dalam fiqih dan haidits serta memiliki banyak karya.

Kemudian, Ibrahim Al-Harbi Abu Isqah, wafat pada tahun 285 H. Ia belajar fiqih kepada Imam Ahmad sehingga menjadi salah satu pemimpin para ulama. Ia banyak menulis kitab khususnya dalam bidang hadits. Dan masih banyak lagi murid beliau yang lainnya.

Rabu, 15 Mei 2019

Salma binti Qais Wanita Pemilik Dua Baiat



Tokoh muslimah ini bernama Salma binti Qais bin Amr Al-Anshariyah An-Najjariyah atau biasa dipanggil dengan sebutan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir merupakan bibi Rasulullah dari pihak ibu kakek beliau (Abdul Mutthalib). Ia memiliki dua saudara perempuan yaitu Ummu Sulaim bin Qais dan Amirah binti Qais. Kedua saudarinya itu masuk Islam dan ikut berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Setelah peristiwa Baiat Aqabah pertama, Rasulullah mengutus da’i pertama dalam Islam ke Madinah, yaitu Mush’ab bin Umair Radhiyallahu anhu yang telah memperoleh pendidikan langsung oleh Rasulullah di Makkah. Mush’ab pun berangkat ke Madinah, di sana ia mengajak semua penduduk Madinah dengan cara hikmah dan mauizhah yang baik. Maka, para pemilik hati yang bersih dan jernih serta fitrah yang lurus langsung menerima dakwah Mush’ab tersebut. Mereka mengucapkan kalimat syahadat yang dengannya mereka memperoleh nikmat iman dan Islam.

Di antara buah dakwah yang penuh berkah itu adalah masuk Islamnya Ummul Mundzir. Keimanan menyentuh relung hatinya dan dia pun menjelma sebagai salah satu wanita mulia yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surah At-Taubah, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik...”

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah Al-Munawwarah, hati kaum Anshar pun diliputi oleh kebahagiaan. Ummul Mundzir tidak mau ketinggalan, ia berangkat bersama sekelompok wanita untuk berbaiat kepada Rasulullah.

Ia berkisah, “Aku mendatangi Rasulullah, lalu aku berbai’at kepada beliau bersama beberapa wanita Anshar. Beliau mensyaratkan kepada kami untuk tidak menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan berdusta yang mereka ada-adakan di antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakai beliau dalam urusan yang baik. Dan Rasulullah bersabda, ‘Dan kalian tidak menipu suami-suami kalian.”

“Kami pun menerima syarat-syarat tersebut, kemudian kami pamit,” kisah Ummul Mundzir kembali. Di suatu kesempatan, di antara wanita Anshar itu menanyakan kepada Rasulullah apa yang dimaksud dengan menipu suami. Rasulullah menjawab, “Engkau mengambil hartanya, lalu engkau lebih cenderung kepada orang lain.”

Pada peristiwa Baiat Ar-Ridhwan, umat Islam berbaiat kepada Rasulullah, berjanji setia untuk membela beliau hingga mati. Dan di antara mereka yang berbai’at di bawah pohon itu adalah Ummul Mundzir. Mereka inilah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon...” (QS. Al-Fath: 18). Dan Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk neraka seorang pun yang berbai’at di bawah pohon.” Dengan demikian, Ummul Mundzir mengikuti dua kali Baiat. Sebab itulah ia dijuluki “Wanita dengan dua baiat”.

Kedudukannya di Sisi Rasulullah

Ummul Mundzir memiliki kedudukan mulia di mata Rasulullah. Buktinya, Rasulullah sering mengunjunginya dan makan di rumahnya. Dalam suatu kunjungan beliau kepada Ummul Mundzir, beliau didampingi Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali baru sembuh dari sakit.



Rasulullah memberikan isyarat kepada Ali agar memakan makanan buatan Ummul Mundzir dengan harapan agar fit dari sakitnya. Ummul Mundzir berkisah, “Datang kepadaku Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama Ali. Ketika itu aku memiliki dawal muallaqah (tandan kurma yang digantung).

Beliau memakannya, begitu juga Ali. Rasulullah bersabda kepada Ali, ‘Berhenti wahai Ali. Sesungguhnya engkau baru sembuh.’ Ali pun berhenti, sedangkan Nabi terus saja makan. Aku membuatkan mereka makanan dari sayur hijau (silq) dengan gandum. Rasulullah bersada kepada Ali, ‘Wahai Ali, makanlah ini karena ini sangat cocok untukmu (yang baru sembuh dari sakit.’” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Ahmad).

Rabu, 10 April 2019

Kisah Imam Al Bazzar: Buah dari Takwa



Al-Qadhi Abu Bakar bin Abdil Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari, seorang ulama abad ke-6 Hijriyah berkisah:

“Aku menetap di kota Makkah, suatu hari saya sangat lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk menghilangkan rasa lapar. Kemudian aku menemukan kantong terbuat dari sutera yang terikat dengan pita yang juga terbuat dari sutera.

Aku mengambilnya dan membawanya ke rumah kemudian membuka ikatannya. Aku dapati di dalamnya ada rantaian mutiara. Aku tidak pernah melihat barang seperti ini sebelumnya.

Lalu aku keluar, aku bertemu dengan seorangtua renta yang mencari kantong mutiara itu. Sambil memegang kantong berisi lima ratus dinar, orang tua itu berseru, “Ini untuk orang yang mengembalikan kantong kepada kami, kantong itu berisi mutiara.”

Aku (Al-Bazzar) berkata dalam hati, “Aku membutuhkannya, aku lapar. Jika aku mengambil emas (dinar) itu, aku bisa menggunakannya. Aku akan mengembalikan kantong itu.”

Aku pun mengajaknya ke rumah. Ia sebutkan tanda-tanda kantong dan pita yang ada pada kantong itu, tentang mutiara dan jumlahnya, juga tentang benang yang mengikatnya. Kemudian aku mengeluarkannya dan menyerahkannya kepada orang tua itu. Setelah itu, ia menyerahkan lima ratus dinar kepadaaku.

Aku katakan, “Aku mesti mengembalikannya kepadamu. Aku tidak ingin mengambilnya sebagai balasan.” Ia berkata kepadaku, “Engkau harus mengambilnya,” ia terus mendesak. Tapi, aku tidak mau menerimanya. Ia pun pergi meninggalkanku.

Kemudian, suatu hari, aku keluar dari kota Makkah menggunakan perahu. Di tengah perjalanan, perahu itu terbelah dan banyak orang tenggelam. Harta benda mereka hilang. Sementara aku selamat dengan kepingan perahu. Aku terombang-ambing beberapa hari di lautan, aku tidak tahu kemana aku akan pergi.

Tiba-tiba, aku sudah terdampar di sebuah pulau. Di pulau itu, aku mencari masjid dan duduk di dalamnya. Orang-orang di sana mendengar aku membaca Alqur’an. Setelah mereka mengetahui bahwa saya pandai membaca Alqur’an, maka semua penduduk pulau itu datang kepadaku dan berkata, “Ajarkanlah Alqur’an kepadaku.” Aku mendapatkan banyak uang dari mereka (karena mengajar mereka).

Setelah itu mereka berkata, “Ada seorang anak perempuan yatim, ia mempunyai harta, kami ingin agar engkau menikahinya.” Aku tidak mau tapi mereka terus memaksaku sehingga aku memenuhi permintaan mereka.
Ketika mereka menikahkanku dengan perempuan itu, mata tertuju padanya. Aku dapati kalung mutiara tergantung di lehernya. Aku terus memperhatikannya. Mereka berkata, “Wahai Tuan, engkau menyakiti hati wanita ini dengan pandanganmu seperti itu ke arah kalungnya. Mengapa engkau tidak memperhatikannya.”

Lalu aku mengisahkan tentang aku dan kalung itu kepada mereka. Setelah mendengar ceritaku, mereka bertakbir hingga ke seluruh penduduk pulau itu. Aku bertanya kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Orangtua pemilik kalung mutiara ini adalah ayah dari wanita ini. Ia pernah berkata, ‘Aku tidak pernah bertemu dengan seorang Muslim di dunia ini yang lebih bertakwa daripada orang yang mengembalikan kalung ini kepadaku.’ Sepulang haji ia terus berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengannya hingga aku menikahkan putriku ini.’”


Kamis, 04 April 2019

Sang Penakluk Sisilia

Pulau Sisilia


Pulau Sisilia merupakan pulau yang strategis dan terluas di Laut Tengah. Orang-orang Romawi menguasai pulau ini selama beberapa waktu hingga kaum muslimin datang ke sana.

Pulau Sisilia telah dibuka sejak masa Bani Umayyah. Para panglima muslim seperti Muawiyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi’, Atha’ bin Rafi, hingga Abdurrahman bin Habib telah berusaha membuka pulau ini. Namun, kesuksesan sebenarnya baru terjadi pada masa Dinasti Aghlabiyah (Aghalibah), melalui panglimanya yang terkenal, Asad bin Furat.

Asad bin Furat adalah panglima besar kelahiran Harran, Syam pada 142 Hijriyah (759 M). ayahnya adalah pejuang yang ikut membebaskan wilayah Maghrib. Ketika ayahnya pindah ke Qairuwan, Asad ikut serta ke sana. sejak kecil Asad bin Furat telah menghafalkan Alqur’an seluruhnya. Setelah menyelesaikan hafalannya, ia mempelajari ilmu-ilmu syariah hingga ia ahli dalam bidang fiqih. Ia mempelajari kitab al-Muwattha’ langsung dari penulisnya, Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar di Madinah.

Setelah belajar dari Imam Malik, ia melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu ke Irak. Di sana, ia belajar kepada murid-murid terkemuka Imam Abu Hanifah seperti Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani dan Abu Yusuf Al-Qadhi. Dari mereka, ia belajar madzhab Hanafi. Dari Irak, ia kembali menjelajahi negeri Islam untuk belajar, hingga sampailah ia di Mesir.

Di Mesir banyak terdapat murid-murid Imam Malik, seperti Ibnu Wahab dan Ibnu Qasim. Dari kedua inilah Asad mempelajari madzhab Maliki lebih mendalam. setelah merampungkan pelajarannya kepada dua murid Imam Malik itu, Asad kembali ke Qairuwan pada tahun 181 Hijriyah. Dia telah mendatangi kota-kota, berpindah dari satu kota ke kota yang lain untuk belajar dari para ulama terkemuka. Dan ketika dia kembali ke Qairuwan, ia telah menjadi ulama kaum muslimin yang mencapai tingkat ijtihad.

Asad bin Furat mengisi pengajian di Masji Uqbah, Qairuwan. Banyak para penuntut ilmu yang mendatangi majelisnya dan mendengar ilmu yang dibawakannya, terutama tentang madzhab Maliki dan Hanafi yang telah dipelajarinya.

Dalam diri Asad bin Furat telah tertanam rasa cinta terhadap jihad fi sabilillah. Ia telah mengambil keteladanan pada diri ayahnya yang merupakan seorang pejuang pembebas wilayah Maghrib. Maka ketika Ibnu Aghlab, gubernur Qairuwan berencana mengirim pasukan menggunakan kapal laut untuk menyerang Pulau Sisilia, ia mengangkat Asad bin Furat sebagai panglimanya. Asad pun menerima tawaran itu, sekalipun ia telah menjadi ulama di Qairuwan, ia tidak melupakan jihadnya.

Berjihad ke Sisilia

Bersama 10.000 pasukan, Asad bin Furat keluar dari Qairuwan menuju Laut Tengah, tepatnya di Pulau Sisilia. Armada Islam ini berangkat pada Rabiul Awwal 212 Hijriyah (827 M). pulau itu dikuasai oleh bangsa Romawi Byzantium, mereka telah menanti Asad bin Furat dengan mengerahkan 100.000 pasukan. Jumlah yang sangat jauh melampaui jumlah pasukan Islam.

Asad bin Furat berdiri di hadapan pasukannya menyampaikan khutbah dan memberikan semangat kepada mereka. ia memotivasi serta mengingatkan pasukannya bahwa surga sebagai balasan mereka karena menolong agama Allah. kemudian panglima gagah berani ini membacakan beberapa ayat Alqur’an. Setelah itu mereka maju berperang melawan tentara Sisilia yang sangat banyak jumlahnya.

Perang dahsyat meletus, terdengar suara gemerincing pedang-pedang yang beradu dan suara ringkikan kuda. Sementara itu, kaum muslimin terus memekikkan takbir. Atas pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran. Pasukan musuh serta pemimpinnya lari dari peperangan. Jumlah pasukan bukanlah satu-satunya syarat penentu kemenangan, melainkan ketakwaan. Dan inilah yang ditanamkan Asad bin Furat kepada pasukannya.

Setelah memenangkan pertempuran di Sisilia, Asad bin Furat melanjutkan perjalanannya menuju Palermo, satu kota di Italia. Mereka mengepung kota itu dengan ketat. Saat kota ini hampir berhasil dibuka, tiba-tiba kaum muslimin terserang wahab penyakit. Banyak kaum muslimin yang terjangkit penyakit ini, termasuk panglima mereka Asad bin Furat, yang saat itu telah berusia 70 tahun. Pada tahun 213 Hijriyah, ulama ini pun meninggal dan dimakamkan di sana, dalam keadaan berjihad fi sabilillah. Semoga Allah memberikan tempat tertinggi di sisi-Nya.


Minggu, 24 Maret 2019

Fathimah Az-Zahra



Fathimah putri Rasulullah merupakan satu sosok wanita terbaik dalam sejarah Islam. Rasulullah pernah bersabda bahwa Sebaik-baik wanita di semesta alam ada empat, di antara mereka adalah Fathimah binti Muhammad.

Rasulullah hidup bersama Fathimah tidak lebih dari lima belas tahun, dan Fathimah akhirnya wafat hanya enam bulan setelah wafatnya Rasulullah dalam usia dua puluh lima tahun. Bukan rahasia lagi jika Fathimah adalah putri kesayangan Rasulullah. Bentuk cinta dan sayang Rasulullah pada putrinya itu dapat dilihat setiap kali Fathimah mendatangi beliau, beliau selalu bangkit untuk menyambutnya lalu menggamit lengannya sembari mempersilahkannya duduk di samping beliau. Dengan hangat Rasulullah akan bertanya soal ini itu kepada Fathimah. Dan ketika putri beliau itu mohon diri, Rasulullah akan bangkit mengantar kepergiannya dengan santun.

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib berniat menikahi putri Abu Jahal yang sudah memeluk Islam. Hanya saja, pernikahan tersebut tampaknya akan menyakiti Fathimah. Pada saat itu, Ali sama sekali tidak menyangka Fathimah akan keberatan dengan rencananya menikahi putri Abu Jahal. Fathimah menghadap Rasulullah dengan wajah muram menyampaikan apa yang terjadi.

Mendengar keluhan putrinya, Rasulullah langsung menuju mimbar Masjid Nabawi dan berkhutbah, “Sesungguhnya Bani Hisyam bin Mughirah telah memohon izin kepadaku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Tapi aku tidak mengizinkan mereka, aku tidak mengizinkan mereka, aku tidak mengizinkan mereka. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib mau menceraikan putriku dan menikahi putri mereka. Sesungguhnya putriku adalah bagian dari diriku. Semua yang menyenangkannya, pasti menyenangkan aku, dan semua yang menyakitkan baginya, pasti menyakitkan aku.” Ali bin Abi thalib yang ikut mendengarkan khutbah Rasulullah tersebut langsung mengurungkan niatnya menikahi putri Abu Jahal.

Jika saja Rasulullah mencintai putrinya sedemikian besarnya, sudah selayaknya umat yang mengaku mencintai beliau untuk mencintai putri beliau beserta Ahli Bait. Mencintai Fathimah sama dengan mencintai Rasulullah. Sebaliknya membenci Fathimah beserta ahli Bait beliau sama saja membenci Rasulullah.

Mempersiapkan Kehidupan Akhirat

Rasulullah adalah sosok yang selalu mengutamakan kehidupan kekal di akhirat. Dan itulah yang ia ajarkan kepada anak-anak beliau, termasuk kepada Fathimah. Suatu ketika Rasulullah melihat di leher Fathimah melingkar seuntai kalung emas. Ia pun berkata, “Wahai Fathimah, apakah kau

senang jika orang-orang berkata bahwa putri Rasulullah sedang memegang sebuah kalung dari api neraka?” Setelah berkata, Rasulullah langsung pergi meninggalkan Fathimah tanpa duduk sama sekali. Fathimah lalu membawa kalung emas itu ke pasar dan menjualnya. Uang hasil penjualan itu ia gunakan untuk memerdekakan seorang budak. Ketika hal itu sampai ke telinga Rasulullah, ia bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api neraka.”


Sebenarnya, tindakan Fathimah menggunakan perhiasan emas bukanlah suatu yang haram. Tapi, rupanya Rasulullah ingin menjaga agar putrinya tetap berada di lingkaran para muqarrabun. Di sisi lain, ia juga mengingatkan Fathimah untuk tidak terlalu memedulikan kehidupan dunia. Rasulullah sangat menginginkan agar Fathimah menjadi teladan bagi umat dengan posisinya sebagai ibu para Ahli Bait.

Kamis, 17 Januari 2019

Cheng Ho, Laksamana Muslim yang Tangguh



Cheng Ho atau Zheng He dalam bahasa Mandarin adalah seorang pelaut terkenal tidak hanya di kalangan umat Islam, tapi juga di luar Islam. Meskipun ia lebih dikenal sebagai seorang laksamana handal, sebenarnya Cheng Ho adalah seorang perwira militer muslim era Dinasti Ming.

Selain dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho juga memiliki nama lain, yakni Sam Po Kong. Nama ini dianugerahkan oleh Kaisar Yong Le padanya. Sam Po Kong memiliki arti kecerdasan, kebijaksanaan, dan gagah perkasa. Kaisar memberinya nama tersebut karena ia menganggap Cheng Ho sebagai pribadi yang memiliki ketiga karakter tersebut.

Cheng Ho lahir sekitar tahun 1371 M dari keluarga muslim. Jadi, sejak kecil Cheng Ho telah memeluk agama Islam karena kedua orang tuanya juga muslim. Bahkan disebutkan bahwa kakek Laksamana Cheng Ho yang pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Yunan, telah melaksanakan rukun Islam yang kelima, berhaji. Jadi tidaklah benar ada yang mengatakan Cheng Ho seorang muallaf.

Laksamana Cheng Ho telah berkarir di dunia militer sejak usia dua puluh tahun. Sejak itu karirnya terus menanjak. Pada tahun 1405 atau diusianya yang menginjak 34 tahun, Kaisar Yong Le mengutus Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke luar Tiongkok. Kaisar bermaksud memperluas pengaruh kekaisaran Dinasti Ming ke berbagai negeri.

Pada pelayaran pertamanya, Cheng Ho menyiapkan sekitar 203 kapal yang terdiri dari kapal militer dan kapal perniagaan serta membawa 28.000 orang. Jumlah tersebut jauh melebihi pelaut-pelaut terkenal Eropa. Christopher Colombus misalnya, yang disebut-sebut sebagai penemu benua Amerika, pada pelayarannya ke benua Amerika tahun 1492, ia hanya melibatkan tiga kapal kecil bernama Santa Maria, Nina, dan Pinta. Ketika kapal buatan Portugis itu total memuat 104 orang.

Setiap pelayarannya ke berbagai negeri, Cheng Ho selalu melibatkan ratusan kapal. Kapal-kapal Cheng Ho membawa barang-barang perniagaan seperti kain sutra, emas, dan karya seni yang bernilai tinggi. Barang-barang itu biasanya akan ditukar dengan bahan obat-obatan, rempah-rempah, permata, dan sebagainya.

Kunjugan Ke Nusantara

Tiga puluh tahun Cheng Ho menghabiskan hidupnya berlayar dan memimpin ekspedisi. Selama itu pula ia telah mengunjungi berbagai negeri seperti benua Afrika, Jazirah Arab, Vietnam, India, dan negara-negara di Asia Tenggara termasuk Nusantara
Laksamana Cheng Ho mengunjungi Nusantara sebanyak lima kali. Lokasi yang pernah dikunjunginya adalah Samudera Pasai di Aceh, Palembang, Semarang, Cirebon, dan Surabaya. Kedatangannya di Nusantara diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. 
Perbandingan Kapal Cheng Ho dan Kapal Columbus

Hal ini disebabkan pribadi Laksamana Cheng Ho yang mengedepankan akhlak dan budi pekerti yang baik. Di antara bukti kunjungan Cheng Ho di Nusantara adalah adanya Lonceng Cakra Donya, Lonceng raksasa setinggi 1,25 meter yang dihadiahkan Cheng Ho kepada  Raja Pasai, Aceh.

Tak lupa pula di setiap negeri yang dijumpainya ia berdakwah menyebarkan agama Islam dengan penuh keluhuran. Jadi, Cheng Ho bukan saja seorang pelaut dan diplomat ulung, tapi juga seorang da’i.

Tentang Cheng Ho

>Laksmana Cheng Ho lahir dari keluarga Muslim.
>Pernah mengunjungi Nusantara sebanyak lima kali.
>Cheng Ho menjalin kerjasama dan hubungan dagang di setiap negeri kunjungannya.
>Selain itu ia juga menyebarkan agama Islam.
>Setiap pelayarannya melibatkan 200-an kapal besar.

Minggu, 02 Desember 2018

Ath-Thabari Syaikhnya Ahli Tafsir



Tokoh kali ini disebut-sebut sebagai Syaikh Al-Mufassirin, gurunya para ahli tafsir. Sekalipun ia dikenal sebagai ahli tafsir, ia juga memiliki karya besar lainnya dalam bidang sejarah, hadits, fiqih dan ushul fiqh.

Imam Ath-Thabari bernama lengkap Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir, bin Ghalib. Adapun nama kuniyahnya adalah Abu Ja’far. Sebab itulah ia dikenal dengan Abu Ja’far Ath-Thabari. Sejak kecil Muhammad bin Jarir Ath-Thabari telah senang menuntut ilmu. Pada usia tujuh tahun ia telah menghafal Alqur’an. Ia telah menjadi imam shalat di usia delapan tahun. Dan telah menulis hadits saat usianya masih sembilan tahun.

Ath-Thabari memang dikenal memiiki kecerdasan di atas rata-rata dan sangat kuat hafalannya. Kecerdasan inilah yang dilihat oleh ayah dari Abu Ja’far Ath-Thabari. Sang ayah lalu mendukungnya untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri sejak usia belia. Ia selalu mengirimkan uang sebagai biaya bagi puteranya untuk menuntut ilmu.

Pertama-tama ia pergi belajar ke Rayy. Salah seorang gurunya di sana adalah Muhammad bin Humaid Ar-Razi, sejarawan besar pada masa itu. Dari sana ia pergi ke Baghdad, pusat peradaban Islam. di Baghdad, ia hendak menimba ilmu dari Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar dan paling masyhur saat itu.

Akan tetapi, Imam Ahmad telah meninggal dunia sebelum Ath-Thabari sampai ke kota itu. Kemudian, ia menuju ke Basrah lalu ke Kufah dimana ia menimba sekitar 100.000 hadits dari Syaikh Abu Kurayb. Tidak lama setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana untuk jangka waktu yang cukup lama. Setelah itu, pada tahun 876 M, ia pergi ke Fustath, Mesir. Tetapi ia singgah dulu di Syam untuk menuntut ilmu hadits. Setelah lama tinggal di Mesir, ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana hingga meninggal dunia pada tahun 310 Hijriyah (923 M).

Di antara kecerdasan Ath-Thabari disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ketika ia berada di Mesir. Ketika itu banyak yang datang kepadanya untuk belajar dan menanyakan berbagai masalah dalam berbagai bidang ilmu. Suatu hari ada yang datang kepadanya dan bertanya tentang permasalahan dalam ilmu Arudh (ilmu yang mempelajar tentang syair), ilmu yang belum dikuasai oleh Ath-Thabari. Lalu Ath-Thabari meminjam kitab Al-Arudh kepada temannya dan dipelajarinya selama satu hari. Esoknya, ia telah ahli dalam masalah Arudh. 

Sejak usia 12 tahun, Ath-Thabari telah akrab dengan buku-buku, kitab-kitab para ulama, dan menghabiskan waktu dengannya. Ia juga tidak berhenti menulis ilmu yang didapatkannya. Kecintaannya kepada ilmu, kesibukannya belajar dan menulis membuatnya lupa untuk menikah. Karena itu, hingga wafat, Ath-Thabari tidak menikah.

Sifat Zuhud

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari adalah seorang ulama yang zuhud dan wara’. Ia tidak menginginkan sedikitpun dari harta dunia. Padahal dengan ilmunya yang tinggi, ia bisa mendapatkan semua itu dengan mudah. Khalifah Al-Muqtadir dari Dinasti Abbasiyah pernah meminta untuk dituliskan kitab tentang wakaf, yang syarat-syaratnya disepakati di antara para ulama.

Maka orang-orang menyarankan kepadanya untuk memerintahkan Abu Ja’far Ath-Thabari menulis kitab tersebut. Khalifah Al-Muqtadir kemudian memanggil Ath-Thabari ke istana. Setelah ia menyanggupi permintaan Khalifah, Khalifah pun ingin agar Ath-Thabari meminta sesuatu darinya, biasanya jika diminta seperti itu, yang dimaksud adalah dinar dan dirham.

Namun, tidak seperti orang lain yang tidak segan meminta kepada Khalifah, Ath-Thabari malah tidak meminta apa-apa. Ia tidak mengharapkan apa pun sebagai imbalan apa yang dikerjakannya. Tapi Khalifah tetap memaksanya. “Engkau harus meminta keperluan atau sesuatu kepadaku,” kata Khalifah Al-Muqtadir. Dengan terpaksa Ath-Thabari pun meminta sesuatu. “Aku meminta kepada Amirul Mukminin agar memerintahkan kepada polisi agar menghalangi para peminta-minta pada hari Jum’at memasuki areal masjid,” Khalifah pun mengabulkannya.

Karya-karya Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari melahirkan banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu. yang paling popular adalah “Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Alqur’an” atau lebih dikenal dengan “Tafsir Ath-Thabari”. Sedangkan karya sejarahnya yang paling terkenal adalah “Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk” (Sejarah Bangsa-bangsa dan Raja-Raja) atau “Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk wa Al-Khulafa”. Kitabnya dalam bidang sejarah ini dikenal juga dengan nama Tarikh Ath-Thabari.

Karena karyanya inilah ia dikenal sebagai ahli sejarah dan ahli tafsir. Para ulama di masanya maupun sesudahnya banyak memuji karyanya tersebut dan menjadikannya rujukan utama dalam bidang sejarah dan tafsir.

Selain kedua kitab itu masih banyak lagi kitab-kitab karya Ath-Thabari yang lain. Di antaranya Adab Al-Qudhah, Ikhtilaf Ulama Al-Amshar fi Ahkam Syara’i Al-Islam, Tahdzib Al-Atsar wa Tafshil Ats-Tsabit an Rasulillah min Al-Akhbar, Ar-Radd ala Dzi Al-Asfar, Ar-Risalah fi Ushul Al-Fiqh, Al-Adad wa At-Tanzil, Musnad Ibni Abbas, dan masih banyak lagi.

Selasa, 11 September 2018

Sang Halilintar Anatolia




Turki pernah mengalami masa kejayaan ketika berada di bawah Dinasti Utsmaniyah selama ratusan tahun. Pemimpin mereka dikenal sebagai sultan-sultan pemberani yang ditakuti oleh raja-raja Eropa.

Di antara sultan Utsmani yang disegani musuh adalah Sultan Bayazid (Bayazid I). Bayazid adalah keempat dalam silsilah Dinasti Utsmaniyah, ayahnya adalah Sultan Murad, dan kakeknya adalah Sultan Orkhan, putra dari Sultan Utsman, pendiri Daulah Utsmaniyah.

Bayazid dikenal sebagai seorang pemberani dan gemar berjihad fi sabilillah, sebagaimana para pendahulunya. Kehebatannya di medan pertempuran dan kecepatannya dalam menghadapi musuh membuat orang-orang memberinya julukan “Yildirim”, yang berarti Halilintar. Jika nama itu disebut, orang-orang Eropa, khususnya Konstantinopel, akan merinding mendengarnya. Begitulah para pemimpin Islam dahulu, disegani musuh-musuh Allah.

Bayazid  menjadi sultan menggantikan ayahnya, Sultan Murad yang syahid dalam pertempuran Kosovo pada 1389 M melawan orang-orang Salib Serbia. Ia ditikam oleh seorang pasukan Serbia dengan menggunakan pisau beracun.

Sultan Bayazid semenjak menduduki jabatannya sebagai sultan Utsmani, mampu memimpin negerinya dengan baik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia berhasil menguasai Bulgaria, salah satu negara penting di Balkan. Hal ini tentu saja membuat khawatir pasukan Salib Eropa, sehingga mereka bersatu menggabungkan kekuatan menghadapi Sultan Bayazid.

Eropa yang dipimpin Raja Hungaria, Sigismund, berhasil menggabungkan kekuatan mereka yang terdiri dari berbagai negeri: Prancis, Jerman, Inggris, Swiss, dan yang lainnya. Jumlah pasukan mereka mencapai 120.000 pasukan. Pasukan besar ini bertemu dengan 100.000 pasukan Utsmani yang dipimpin Sultan Bayazid di Nikopolis. Perang pun tak terelakkan, atas izin Allah, pasukan Islam berhasil meraih kemenangan.

Kekalahan pasukan Salib pada Perang Nikopolis membuat orang-orang Eropa khawatir. Mereka menganggap kekalahan itu sebagai bencana yang besar. Tidak lama lagi, orang-orang Turki Utsmani akan menguasai negeri-negeri mereka dengan mudah. Sementara bagi Sultan Bayazid, kemenangan di Nikopolis melambungkan namanya. Beritanya tersebar di seluruh negeri Islam, hingga Khalifah Abbasiyah di Kairo memberinya gelar “Sultan Romawi”, dan mendukung perjuangan jihadnya melawan pasukan Salib Eropa.

Setelah kemenangan yang gemilang ini, banyak kaum muslimin yang hijrah ke Anatolia, ibu kota pemerintahan Dinasti Utsmaniyah. Mereka semua mendukung perjuangan dan jihad Sultan Bayazid I. Tapi, tidak sedikit juga di antara mereka yang datang karena lari dari serbuan Timurlenk, pemimpin bangsa Mongol. Sultan Bayazid telah mengepung Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur. Bahkan disebutkan, di dalam kota itu telah dibangun masjid atas permintaan Sultan Bayazid. Penaklukkan Konstantinopel memang menjadi target utama sang Sultan. Hanya saja, rencananya terhenti akibat serangan dari Timurlenk.

Pasukan Timurlenk

Ketika Sultan Bayazid berkuasa, di Samarkand, salah satu wilayah Khurasan, telah berdiri pemerintahan kuat yang dipimpin oleh Timurlenk, salah satu keturunan Mongol. Ia memang telah masuk Islam, tapi sifat-sifat leluhurnya yang bengis masih melekat pada dirinya. Timurlenk memiliki wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari India, Damaskus, Transaxonia, dan wilayah Rusia.

Kehadiran Timurlenk membuat senang para pemimpin Eropa. Adanya Timurlenk membuat kerja mereka menghadapi Sultan Bayazid menjadi lebih ringan. Pada tahun 1402, terjadilah pertempuran antara Sultan Bayazid menghadapi pasukan Timurlenk yang berjumlah 800 ribu pasukan. Sementara pasukan Sultan Bayazid hanya 120.000 pasukan.


Perbedaan jumlah pasukan yang sangat jauh itu memberi kekalahan telak pada pihak Utsmani. Banyak dari tentara Bayazid yang mati kehausan karena kekurangan air, terlebih pada waktu itu musim kemarau sedang berlangsung. Sultan Bayazid pun ditangkap dan menjadi tawanan Timurlenk.

Kematian Sultan Bayazid

Setelah delapan bulan menjadi tawanan Timurlenk, pada tahun 1403 (805 Hijriyah), Sultan Bayazid I meninggal dunia. Ia meninggal masih dalam kondisi terbelenggu. Kekalahan Turki Utsmani, dan kematian Sultan Bayazid membuat senang orang-orang Eropa. Mereka mengirimkan ucapan selamat kepada Timurlenk atas keberhasilannya mengalahkan pasukan Turki Utsmani.

Ketika Sultan Bayazid meninggal, Timurlenk memperkenankan anaknya, Sultan Amir Musa mengambil mayat ayahnya. Ia dipulangkan ke Anatolia dan dimakamkan di sana, tidak jauh dari masjid di Anatolia. Sampai saat ini makamnya masih sering dikunjungi para peziarah. Sultan Bayazid meninggal dunia dalam usia 44 tahun.


Kematiannya memberikan luka yang mendalam bagi ummat Islam. Sementara itu, terjadi konflik di antara putra-putra Sultan yang berlangsung selama sepuluh tahun. Selama masa itu, seakan-akan pemerintahan Utsmaniyah telah runtuh sampai Sultan Muhammad Jalabi, putra Sultan Bayazid tampil dan memimpin kembali kesultanan Utsmani pada tahun 1379 M.

Selasa, 04 September 2018

Teknologi Robot Era Kejayaan Islam


Telah berkembang di Dunia Islam pada abad ke-12   
     

Para ilmuwan Barat selalu mengatakan bahwa perintis teknologi robot adalah ilmuwan mereka asal Italia yang hidup pada abad ke-15, Leonardo Da Vinci. Da Vinci merancang pembuatan robot pada tahun 1478 M.

Padahal jauh sebelum Leonardo Da Vinci lahir, seorang ilmuwan Muslim yang hidup pada abad ke-13 telah mampu merancang dan menciptakan robot mirip manusia. Ilmuwan itu bernama Abul Izz bin Ismail bin Ar-Razzaz al-Jazari, lebih dikenal dengan al-Jazari.

Al-Jazari seorang insinyur jenius merupakan orang pertama yang merumuskan konsep robotik pertama dalam sejarah. Ia membuat rancangan sebuah robot humanoid yang dapat diprogram pada tahun 1206 M, lebih dua ratus tahun sebelum Leonardo Da Vinci merancang robotnya yang baru sebatas di atas kertas. Robot rancangan al-Jazari ini pada dasarnya menyerupai sebuah mekanisme berbentuk perahu dengan empat robot pemain musik otomatis yang dapat mengapung di tengah danau untuk menghibur para tamu dalam acara jamuan minum di istana kerajaan.

Robot temuan al-Jaziri tersebut terdiri dari dua penabuh drum, seorang peniup harpa dan pemain suling logam. Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Ini adalah robot pertama yang bisa diprogram. Robot penabuh drum yang dirakit al-Jazari dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Penemuan al-Jaziri ini adalah pencapaian penting yang belum pernah ditemukan oleh peradaban-peradaban sebelumnya.

Selain robot yang mampu bermusik, al-Jazari juga berhasil menciptakan sebuah robot pramusaji berbentuk manusia yang bertugas untuk menghidangkan air, teh, dan minuman lainnya. Minuman disimpan dalam sebuah tank dengan penampung air. Dari penampung air itu, air dialirkan ke dalam sebuah ember dan setelah tujuh menit mengalir ke sebuah cangkir. Setelah itu, robot itu mengeluarkan minumannya.

Al-Jazari juga menciptakan pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan sistematis al-Jazari itu berbentuk manusia yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air. ketika seorang pengguna menarik tuas, air akan mengering dan robot itu akan kembali mengisi baskom dengan air. Sangat canggih. Robot canggih lainnya yang diciptkan insyinyur muslim ini adalah bunga merak yang bisa bergerak otomatis. Al-Jazari menggerakkan robot burung merak itu dengan tenaga air.

Lebih Dekat Dengan Al-Jazari

Dia adalah As-Syaikh Ra’is al-Amal Badiuzzaman Abu al-Izz bin Ismail bin ar-Razzaz al-Jazari. Lahir sekitar tahun 561 H (1165 M). Ra’is al-Amal (Kepala Insinyur) merupakan gelar yang diberikan para insinyur muslim di abad ke-13 kepadanya. Sedangkan sebutan Badiuzzaman dan Syaikh yang disandangnya menunjukkan bahwa al-Jazari adalah seorang ilmuwan yang memiliki ilmu yang tinggi dalam bidang robotika ini.


Al-Jazari berasal dari Jazirah Ibnu Umar di Diyar Bakr, Turki. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa ia lahir di al-Jazira, sebuah kawasan yang terletak di sebelah utara Mesopotamia, yakni kawasan di utara Irak dan timur laut Suriah. Tepatnya antara Sungai Tigris dan Eufrat.

Al-Jazari hidup pada masa Dinasti Ayyubiyah. Karena kejeniusannya, ia dipekerjakan sebagai insinyur di istana Artuqid di Diyar Bakr, Turki pada penghujung abad ke-12, atau sejak tahun 570 H (1174 M) dan 602 H (1206 M). Al-Jazari menyusun kitab Risalah tentang Mekanisme Automata yang berisi ilustrasi dari mesin-mesin karya rancangannya yang menakjubkan. Di dalamnya juga tertulis rinci silsilah nama-nama para sultan dan para filosof kenamaan abad ke-12. Mereka inilah yang memberikan perlindungan dan dukungan dana sepenuhnya bagi al-Jazari untuk menghasilkan berbagai temuan berharganya. Ia wafat pada tahun 607 H (1210 M).

Jam Gajah Otomatis

Pada tahun 1206, al-Jazari membuat sebuah jam berbentuk agajah yang menjadi cikal bakal jam mekanis modern. Jam gajah ini merupakan jam bertenaga air yang dimodifikasi sedemikian rupa. Komponen-komponen utama jam tersebut diletakkan di atas sebuah patung gajah besar yang penuh hiasan kerajaan.


Seluruh mekanisme komponen jam tersebut didesain khusus agar dapat menggerakkan jarum jam dan mengeluarkan bunyi-bunyian setiap setengah jam sekali. Model jam ini mengingatkan kita pada jam-jama berdentang yang banyak dijumpai di kota-kota besar di Eropa pada abad pertengahan yang dilengkapi dengan patung-patung yang dapat bergerak dan menari. Kemungkinan jam-jam Eropa tersebut terinspirasi oleh jam gajah al-Jazari.

Temuan-temuan al-Jazari

  • Jam otomatis bertenaga air.
  • Robot penabuh drum.
  • Robot pramusaji yang menghidangkan minuman.
  • Roda gigi (gear).
  • Pompa dan perangkat untuk mengambil air dari sumur.
  • Dan puluhan penemuan lainnya.