Kamis, 04 Desember 2014

05.59 - 1 comment

Pengaruh Peradaban Islam terhadap Eropa

Sebelum zaman Renaissance, Eropa berada dalam kegelapan (dark age). Dark age ini adalah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan ilmu pengetahuan. Kegelapan juga berarti tidak ada prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Situasi ini ada karena tindakan dan cengkraman kuat pihak berkuasa agama yaitu Gereja Kristen yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengongkong pemikiran masyarakat.

Gereja berhak untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya banyak kaum cendikiawan yang terdiri dari ahli-ahli sains mereka ditekan dan dikontrol. Pemikiran mereka juga ditolak dan bagi yang mengeluarkan teori bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan dihukum, bahkan dibunuh. Golongan cendikiawan senantiasa memberontak terhadap gereja.

Pada kurun kedua belas, gerakan intelektual telah mulai berjalan. Cerdik pandai Eropa mulai bersikap lebih berminat untuk tahu dan lebih gairah terhadap kebudayaan bangsa Timur yang telah lama maju.

Kubah Masjid Cordoba, Spanyol.
Sementara itu, beberapa kota besar di Timur Tengah telah menjadi kota ilmu pengetahuan, seperti Iskandariah, Harran, dan Baghdad. Diskusi akademis yang melibatkan judul besar seperti metafisika, kedokteran, astronomi, detik, politik, fisika, dan sejenisnya dibahas secara terbuka dan ilmiah. Ini berarti saat dunia Islam sudah menikmati kemajuan dan peradaban yang tinggi, Eropa masih diselimuti dengan kegelapan dan kemunduran. Dunia telah diperlihatkan tentang hebatnya perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan di dunia Islam antara abad ke-9 hingga ke-12.

Di masa pemerintahan khalifah-khalifah Abbasiyah yang masyhur: al-Mansur (754-75), Harun al-Rasyid (786-809), dan al-Makmun (813-833) wilayah-wilayah Islam khususnya di Baghdad telah disuburkan dengan munculnya ahli-ahli pemikir besar seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Biruni, Ibn Miskawayh, al-Razi, al-Khawarizmi, Ibn Haitsam, Ibn Rusyd, dan Ibn Khaldun. Mereka menjadi pemikir dalam bidang-bidang falsafah, metafisika, fisika, matematika, etik, politik, psikologi, kedokteran, geografi, astronomi, kimia, optik, dan musik.

Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol (Andalusia) dan Pengaruhnya bagi Dunia Barat.

Spanyol adalah negeri terpenting bagi Eropa untuk menyerap peradaban Islam. Ketika negeri ini berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah, ia mengalami perkembangan pesat dari segi ilmu pengetahuan. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol yang berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara Eropa lainnya dalam pemikiran, sains, dan pembangunan.[1]

Dari Spanyol pemikiran ilmiah dan pemikiran filsafat Islam ditransmisikan ke Eropa. Dengan penaklukkan Toledo tahun 1085 dan penaklukkan Saragossa pada 1118, kultur Islam menjadi sangat berpengaruh dalam pola kehidupan umat Kristen. Kalangan bangsawan dan dewan gereja Eropa membangun rumah-rumah mereka dengan meniru motif-motif kultur Islam Hispanik untuk keilmuan mereka. Mereka berpakaian dengan tradisi Arab dan sejumlah kepustakaan bangsa Muslim diterjemahkan ke dalam bahasa latin.[2]

Di antara tokoh Islam Spanyol yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran di Eropa adalah Ibnu Rusyd (1120-1198 M), yang dikenal dengan Averroes oleh orang-orang Eropa. Pengaruh Ibnu Rusyd atau Averroes ini sangat besar di Eropa sehingga muncul gerakan Averroisme yang menuntut kebebasan berpikir menentang pemikiran gereja yang dogmatis ketika itu.

Dari gerakan Averroisme inilah di Eropa lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.[3] Beberapa karya Ibnu Rusyd dicetak di Venesia, Italia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. juga di Napoli, Bologna, Lyon, dan Strasbourg, Prancis pada abad ke-16. Lalu di Jenewa di awal abad ke-17.

Pengaruh peradaban Islam termasuk di dalamnya pemikir Ibnu Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di berbagai Universitas Islam di Spanyol, speerti Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, dan Granada. Selama belajar, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama.[4] Di antaranya adalah Universitas Paris tahun 1231 M, kemudian di akhir zaman pertengahan Eropa berdiri 18 universitas. Di dalam universitas-universitas tersebut, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran dan ilmu filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.[5]

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa sejak abad ke-12 itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (Renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa ini adalah melalui buku-buku terjemahan arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.

Ilmu pengetahuan tentang aljabar telah disebarkan ke Barat melalui terjemahan latin oleh Adelard dari Bath, John dari Seville, dan Robert dari Chester. Geometri mencapai Eropa melalui terjemahan bahasa Arab.[6] Kitab al-Manazir karya Ibnu al-Haitsam yang menguraikan tentang optik, telah diterjemahkan ke bahasa latin oleh Gerard dari Cremona.[7] Demikian pula dengan ilmu trigonometri, astronomi, ilmu kimia, kedokteran, dan lain-lain.

Demikian juga dengan bahasa Arab berpengaruh besar di Eropa. Selama Islam berkuasa di Spanyol, banyak nama-nama benda yang dikenal di Barat berasal dari bahasa Arab. Tidak kurang dari 7.000 kata spanyol berasal dari bahasa Arab.[8] Di antara kata-kata bahasa Arab yang masuk ke dalam suku kata bahasa Eropa: Spanyol dan Inggris, misalnya kata al-sukkar menjadi azukar dalam bahasa Spanyol, dan sugar dalam bahasa Inggris. Syarab (minuman cair), menjadi syirup dalam bahasa Inggris.

Oleh: Mahardy Purnama



[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Cet.2, Jakarta: Amzah, 2010), h.177.

[2] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam bagian kesatu dan dua (Cet.1, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1999), h.593.

[3] S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern (Cet.1, Jakarta P3M, 1997), h.67.

[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam., h. 178.

[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Cet.VII, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1998), h.109.

[6] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat (Cet.II, Yogyakarta: Risalah Gusti, 2003), h.271.

[7] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, h.272.

[8] Abdullah Salim, Sumbangan Andalusia Kepada Dunia Barat (Cet.I, Semarang: Unissula Press, 1999), h.61.

1 komentar:

Assalamu alaikum

Terimakasih Ilmunya pak, membuat gelora mempelajari Sejarah peradaban Islam semakin mumuncak.

misi pak,.. kira-kira dari berbagai buku rujukannya masih ada cetak gak ? dimana kiranya bisa saya beli ?

Makasih :)

Posting Komentar