Selasa, 29 September 2015

Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia

Mungkin namanya masih asing di telinga sebagian kaum muslimin. Ia tidak setenar Shalahuddin al-Ayyubi pembebas al-Quds. Tidak pula sepopuler Sultan Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Akan tetapi jasanya bagi kaum muslimin membuat namanya layak disejajarkan dengan dua pemimpin Islam tersebut dan juga pemimpin Islam lainnya.

Namanya barulah kita temukan ketika membaca sejarah penaklukkan Andalusia, negeri Islam yang hilang. Musa bin Nushair. Dialah yang memilih panglima dari suku Barbar, Thariq bin Ziyad dan mengirimnya pada tahun 711 M untuk menyeberang ke Andalusia beserta 7000 pasukan.

Setibanya di negeri Andalus, pasukan Islam di bawah komando Thariq bin Ziyad mendarat di sebuah gunung yang hingga hari ini dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar). Dari sinilah dimulai penaklukkan. Puncaknya, ketika Thariq beserta pasukannya bertemu dengan 100.000 pasukan Kristen yang dipimpin Raja Roderick di tepi Sungai Guadalete. Dengan semangat jihad yang berapi-api umat Islam berperang hingga sukses mengalahkan musuhnya. Roderick, Raja Kerajaan Goth yang congkak, menemui ajalnya dalam pertempuran tersebut.

Setelah mengalahkan pasukan Roderick, Thariq memasuki kota-kota penting di Andalusia. Jaen dapat didudukinya, Cordoba dapat ditaklukkan, kota kuno Granada juga dapat diatasi, Malaga bernasib serupa. Bahkan Toledo, ibukota kerajaan Goth dapat dikuasai Thariq tanpa peperangan.

Pada tahun 712, Musa bin Nushair menyusul bawahannya yang setahun sblumnya tiba di Andalusia. Ia bersama pasukannya yang terdiri dari orang-orang Arab dan Barbar melakukan penaklukan terhadap kota-kota penting lain di Andalusia yang belum ditaklukkan oleh Thariq bin Ziyad seperti Ecija, Sevilla dan Merida.

Pada akhirnya Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad bertemu pada tahun 713. Keduanya bersama-sama menyempurnakan penaklukkan sehingga hanya dalam waktu tiga tahun mereka dapat menguasai seluruh kota di Semenanjung Iberia tersebut, kecuali satu wilayah kecil di bagian utara yang kelak menjadi basis kekuatan Kristen dalam melakukan reconquista.

Musa bin Nushair memiliki cita-cita yang besar. Ia tidak puas dengan kesuksesannya menaklukkan Andalusia. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, ia ingin masuk lebih jauh lagi yaitu menaklukkan Eropa. Tujuannya adalah Konstantinopel. Kota metropolitan yang menjadi pusat kekaisaran Byzantium. Kota yang menjadi cita-cita setiap pemimpin muslim agar menjadi pemimpin sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik pemimpin.

Sungguh kota Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin. Pasukannya adalah sebaik-baik pasukan. (Al-Hadits)

Musa ingin menaklukkan kota yang dibangun oleh Kaisar Constantine itu melalui jalur Andalusia. Mula-mula ia ingin menaklukkan negeri terdekat Andalusia: Prancis, lalu negeri-negeri di sekitar Prancis, dan berakhir di Konstantinopel.

Namun, cita-cita besar nan mulia tersebut tinggal angan dan tak dapat ia wujudkan. Segera setelah mendengar rencana Musa bin Nushair, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik memanggilnya kembali ke Damaskus. Khalifah merasa khawatir akan keselamatan gubernurnya beserta pasukan jika bersikeras untuk masuk ke negeri yang belum mereka kenal betul kondisinya.

Meski merasa berat hati, Musa bin Nushair tetap menaati Khalifah. Ia beserta bawahannya, panglima gagah perkasa, Thariq bin Ziyad pulang ke Damaskus dengan membawa kemenangan dan tentunya ghanimah yang melimpah. Urusan Andalusia selanjutnya ia serahkan kepada putranya, Abdul Aziz.


Musa bin Nushair, panglima penakluk Afrika Utara dan Andalusia. Semangat juang dan pengorbanannya bagi kejayaan Islam patut dicatat dengan tinta emas. Ia meninggal dalam perjalanan haji ke Baitullah pada tahun 718 M.

Minggu, 27 September 2015

Kemajuan Peradaban di Baghdad

Baghdad mencapai puncak kejayaan di masa Khalifah Harun ar-Rasyid, khalifah Abbasiyah ke-5 kemudian dilanjutkan anaknya Al-Makmun. Dr.Yusuf al-Isy menyebutkan bahwa masa Al-Rasyid adalah masa paling gemilang dan merupakan zaman paling sempurna dalam sejarah Arab-Islam dan sejarah dunia.[1] Ketika Ar-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin -walaupun ada juga pemberontakan-, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara hingga India.

Dalam waktu singkat, sejak pembangunannya pertama kali oleh Khalifah al-Manshur, Baghdad terus mengalami peningkatan. Baghdad berubah menjadi kota megah dan berperadaban tinggi yang membuat orang-orang datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan kemegahannya.

Khalifah Al-Makmun dan Periode Penerjemahan karya-karya Klasik Yunani
Perkembangan intelektual di Baghdad semakin maju di Baghdad dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Makmun. Khalifah al-Makmun sangat antusias dan memfokuskan pada penerjemahan kitab-kitab klasik. Di masanya mulai ditrjmahkan karya-karya Yunani klasik. Ia membentuk badan penerjemah, pengkaji, dan penganggung jawab terhadap kitab-kitab kuno tersebut. Untuk mengapresiasi kegiatan tersebut khalifah tidak segan mengeluarkan dana besar untuk menggaji mereka. Setiap bulan mereka digaji 500 dinar atau setara dengan dua kilogram emas.

Al-Makmun menulis surat kepada raja Romawi untuk meminta izin mengembangkan ilmu-ilmu kuno yang tersimpan dan menjadi warisan bangsa Romawi. Raja Romawi mengizinkannya dan menyambut baik hal tersebut.

Al-Makmun kemudian mengutus duta keilmuan dan rombongan penerjemah menuju negeri Romawi. Para utusan mengadakan perjalanan ke berbagai daerah untuk mencari dan mendapatkan kitab-kitab perbendaharaan Yunani kuno. Satu kisah disebutkan bahwa salah seorang utusan khalifah mendapati buku-buku kuno di bawah benteng kuno kota Paris. Kondisi buku-buku tersebut sudah lapuk dan berbau busuk lalu diambil oleh salah seorang utusan tersebut kemudian dibawa ke Baghdad dalam keadaan busuk seperti itu. Ketika kering dan baunya berubah, barulah buku-buku tersebut dikaji.

Hebatnya, buku-buku tersebut tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab tetapi juga dalam berbagai bahasa negara yang tersebar dalam kumpulan masyarakat Islam. Jadi, di Baitul Hikmah terdapat banyak buku selain bahasa Arab antara lain salinan naskah bahasa India, Yunani, Persia, Suryaniyah, dan Nibthiniyah.

Para ilmuwan Islam telah memberikan peran yang besar bagi umat manusia dengan memindahkan dan menerjemahkan buku-buku kuno yang hampir hancur dan musnah. Tanpa mereka, mungkin orang-orang di masa sekarang tidak akan mengetahui sedikitpun karangan Yunani dan India klasik. Di negeri mereka, sebagian karya-karya tersebut dibakar karena khawatir pengaruh dari pemikirnya sebagaimana terjadi terhadap buku karangan Archimedes, seorang ilmuwan terkenal. Kerajaan Romawi membakar banyak buku hasil karyanya.

Baghdad Kota Metropolitan
Baghdad mampu melebihi Konstantinopel dalam kemakmuran dan ukurannya pada masa khalifah Harun al-Rasyid.  Pemerintahannya berhasil memanfaatkan sungai Tigris dan Eufrat untuk pertanian gandum, dan sistem kanal, tanggul, serta cadangan air yang brilian berhasil mengeringkan rawa-rawa di sekitarnya. Aneka macam imigran Kristen, Hindu, Persia, Zoroaster dan lain-lain datang dari seluruh penjuru dunia. Saat itu Baghdad menjadi kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia.

Ada banyak pasar yang kaya dan kios-kios beratap sepanjang tanggul, dimana segala jenis seniman dan pengrajin pekerja pualam dari Antiokia, pembuat papyrus dari Kairo, pembuat tembikar dari Basrah dan ahli kaligrafi dari Peking menjalankan usahanya. Kios-kios makanan menjual ayam limau, domba dimasak di atas panggangan dengan kapulaga, gulungan-gulungan dadar kecil dicelupkan dalam madu, atau irisan-irisan roti pita yang diolesi lemak.

Ada sebuah bagian sanitasi yang luas, banyak pancuran air dan pemandian umum, jalan-jalan secara teratur dicuci bersih dari sampah makanan dan disapu. Kebanyakan rumah tangga mendapat pasokan air dari waduk dan memiliki ruangan bawah tanah yang didinginkan dengan tirai dari ilalang basah. Gorden basah juga digantung di jendela untuk membantu mendinginkan rumah dengan hembusan angin. Dan di sebagian rumah, cerobong untuk menyalurkan udara panas memanjang dari bangunan dalam hingga ke ventilator di atap. Jalan setapak mengapit sungai Tinggris dan tangga pualam menurun hingga ke pinggiran air. Tempat aneka macam perahu sungai ditambatkan di sepanjang dermaga yang lebar mulai perahu jung China sampai rakit Asyiria yang ditambatkan di atas kulit binatang yang diisi udara.[2]

Di pinggiran kota terdapat banyak wilayah sub urban dengan taman, kebun dan vila. Beberapa dihiasi dengan lukisan dinding yang dipernis berwarna biru cerah dan merah terang atau panel tembikar berlapis kaca dan lukisan ubin keramik. Sebuah lapangan yang sangat luas di depan istana utama digunakan untuk turnamen dan balapan, pemeriksaan dan apel militer. Sebuah hutan menara mendominasi cakrawala dan seratus lima puluh jembatan menyeberangi kanal-kanal.

Pusat pemerintahan yang dulu terbatas, sekarang melebar hingga ke sebidang tanah yang luas di kedua tepi Tigris dan mencakup sejumlah kediaman pejabat, barak militer, dan kawasan sub urban utara, dan sebuah kompleks istana yang sepenuhnya baru di tepi timur sungai.

Kebanyakan rumah dibangun dari batu bata yang dijemur atau batu bata yang dibakar dalam tungku. Rumah yang lebih miskin dibuat dari gundukan tanah yang disemen dengan mortar atau tanah liat.
Rumah-rumah pribadi yang besar memiliki ruangan untuk mandi dan wudhu. Di masa Harun al-Rasyid Baghdad memiliki ribuan pemandian umum.  Pemandian umum biasanya terdiri atas beberapa kamar berubin yang berkelompok di seputar sebuah ruangan pusat berukuran besar. Ruangan itu beratapkan sebuah kubah yang dipenuhi lubang-lubang kecil berbentuk bulat yang dipasangi kaca untuk masukkan cahaya, dan dipanasi dengan uap dari sebuah pancaran air pusat, yang tertangkap dalam sebuah kolam besar, yang muncul dari bawah lantai. Setelah membersihkan diri, orang-orang yang mandi biasanya beristrahat di ruangan di luar yang disiapkan untuk bermalas-malasan, di mana mereka menikmati makanan ringan dan minuman. Biasanya ada tukang cukur atau tukang pijat yang bertugas untuk memijat mereka. Dan di pengujung setiap hari, pemandian itu dibersihkan dengan dupa dan digosok secara seksama.

Baghdad tidak hanya sibuk di siang hari, melainkan juga di malam hari. Baghdad memiliki daya tarik pada malamnya yang diterangi cahaya lampu. Ada kabaret dan kedai minuman, pertunjukkan teater, konser dalam sebuah ruangan yang didinginkan dengan kipas angin dan akrobat untuk menghibur mereka yang berjalan-jalan di dermaga. Di pojok-pojok jalan para pendongeng menghibur kerumunan yang sesekali berkumpul dengan berbagai kisah seperti yang kelak mengilhami Kisah Seribu Satu Malam.[3]

Di  masa kejayaan Baghdad dan kemegahannya yang tertata, London dan Paris masih merupakan kota kecil yang sangat kotor dan kacau, yang terdiri atas labirin jalan dan gang yang berkelok-kelok tidak teratur dan dipenuhi rumah-rumah dari kayu atau anyaman ranting berlapis tanah liat yang diputihkan dengan kapur. Kebanyakan rumah sudah reyot, dan seperlima dari populasi hidup dan meninggal di jalanan. Sama sekali tak ada pengerasan jalan dalam bentuk apapun, dan untuk drainase hanya ada sebuah parit di tengah jalan. Selokan itu biasanya tersumbat oleh sisa-sisa makanan termasuk sampah dari rumah dan kotoran manusia dan dalam cuaca hujan jalan-jalan menjadi seperti rawa, terendam lumpur yang dalam. Jalan setapak di sepanjang jalan utama ditandai dengan tiang dan rantai.[4]

Untuk mengelola berbagai pelayanan dasarnya, Baghdad memiliki jumlah personel pegawai negeri yang besar. Ini meliputi para penjaga malam, penyulut lampu, juru siar kota, pengawas makanan, pengawas pasar yang mengawasi timbangan dan ukuran serta kualitas barang-barang, penagih hutang, dan semacamnya. Ia juga memiliki pasukan polisi dengan seorang kepala polisi yang bermarkas di dalam kompleks kediaman khalifah sendiri.

Di taman-taman umum bisa ditemukan segala jenis penghibur seperti penjinak ular, manusia karet, pemain sulap, orang dengan monyet dan beruang yang bisa menari, pelawak, orang yang menelan pedang, pemain akrobat, ahli bela diri, pegulat profesional, orang yang bisa berjalan di atas api, dan ahli yoga yang berjalan di atas tali di udara.[5]

Di lingkungan yang lebih terhormat, warga Baghdad memusatkan perhatian mereka pada olah raga dan permainan. Balapan dan polo kuda yang diperkenalkan oleh Harun ar-Rasyid pada bangsa Arab dari Persia, termasuk di antara perlombaan berkuda yang populer di kalangan elit. Anggar adalah olahraga yang lazim, bersama lomba renang dan balapan perahu di Tigris. Balapan anjing, unta, dan merpati juga lazim dijumpai pada semua kelas.[6]

Jumlah masjid sama banyaknya dengan jumlah pemandian. Di masa kekuasaan Abbasiyah, khususnya di masa Harun, ciri paling khas pada masjid adalah menara menjulang yang dihubungkan dengan masjid dan sebuah jembatan. Sebuah tangga spiral mengitarinya dari dasar sampai puncak dengan diselingi balkon atau galeri dan sebuah kerucut atau pavilion terbuka di puncaknya. Menara-menara ini, yang bertingkat-tingkat menuju langit, seperti zigurat bertingkat buatan bangsa Kada di masa lalu, menambah ketinggian masjid dan merupakan bangunan kerajaan yang dihubungkan dengan tingginya kedudukan keagamaan sang khalifah yang ditetapkannya sendiri.

Taman-taman di Baghdad
Di Baghdad, taman-taman indah dibangun. Istana-istana memiliki taman-taman yang menakjubkan. Istana khalifah al-Muqtadir memiliki taman yang pohonnya terbuat dari emas dan perak yang berada di tengah-tengah kolam. Pohon tersebut memiliki delapan belas dahan yang terbuat dari emas dan perak. Setiap dahan memiliki ranting-ranting yang dilengkapi dengan berbagai macam mutiara dalam bentuk buah-buahan. Di dahan-dahannya terdapat burung-burung yang juga terbuat dari emas dan perak. Ketika angin bertiup burung-burung tersebut terdengar bersiul-siul. Di sisi istana di sebelah kanan dan kiri kolam terdapat lima belas patung prajurit penunggang kuda. Patung-patung tersebut dihiasi dengan pakaian-pakaian sutera dan pedang-pedang. Sementara tangan-tangan mereka memegang tombak yang mereka gerakkan secara seragam sehingga dikira masing-masing dari mereka ingin menyerang temannya.

Sekolah di Baghdad
Negeri dengan peradaban yang maju sudah tentu memiliki sekolah-sekolah yang unggul dan maju pula. Baghdad pun dmikian, banyak terdapat sekolah-sekolah modern dan berkualitas. Nizham Mulk at-Thusi (408-485/1018-1092), seorang mentri Bani Abbasiyah memulai membangun sekolah-sekolah negeri, memberikan infak untuk mendirikan akademi-akademi dasar di sekolah dan memberikan pakaian khusus kepada para pengajar sekolah.

Sekolah-sekolah di Baghdad dinisbatkan kepadanya: Pendidikan Nizhamiyah. Sekolah Nizhamiyah mengkhususkan untuk mempelajari fikih dan hadits. Di setiap wilayah kekuasaan Abbasiyah seperti Khurasan pasti terdapat sekolah. Sekolah tersebut bahkan terdapat sampai di tempat terpencil sekalipun. Ketika di satu negeri terdapat seorang alim (memiliki banyak ilmu) maka didirikan sekolah di tempat tersebut. Sekolah tersebut diberikan kepadanya sebagai wakaf kemudian dibangun perpustakaan dan para murid belajar secara gratis.

Di antara sekolah yang terkenal di Baghdad adalah sekolah Nizhamiyah yang dibangun pada 457 H. Khalifah Abbasiyah sendiri yang menentukan guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. Di antara ilmuwan yang pernah mengajar di Nizhamiyah adalah Imam al-Ghazali penulis kitab Ihya Ulumuddin dan Imam Haramain, Abu al-Ma’ali al-Juwaini.[7] 
Nizham al-Mulk memberikan setiap tahun kepada para pengajar dan para ulama sebesar 300.000 dinar. Ibn Jubair dalam Rihlah-nya mengatakan:
“Sekolah-sekolah di sana (Baghdad) sekitar 30 sekolah, semuanya berada di daerah Timur. Semua sekolah dibangun seperti istana megah. Yang paling besar dan terkenal adalah sekolah Nizhamiyah yang dibangun oleh Nizham al-Mulk kemudian diperbaharui pada tahun 504 H. skolah ini merupakan wakaf yang sangat besar….”

Selain Nizhamiyah, terdapat pula sekolah tinggi terkenal yaitu al-Muntashiriyah yang didirikan oleh Khalifah al-Muntashir Billah. Sekolah al-Muntashiriyah terdapat peneliti, guru kedokteran, dan perpustakaan bagi anak-anak yatim. Sekolah juga memberi makan bagi siswanya.

Pada hari kamis, bulan rajab, seluruh pelajar hadir. Khalifah al-Muntashir Billah dengan jiwa yang mulia datang sendiri para pejabat ngaranya dari kalangan pemerintah, mentri, hakim, ahli fikih, kelompok sufi dan penyair. Tidak ada yang tidak ikut serta dalam acara tersebut. Dibuat meja hidangan yang sangat besar. Para hadirin diperkenankan makan, dibawa darinya ke segala penjuru Baghdad dari rumah-rumah orang berilmu dan kalangan awam. Diberikan kepada seluruh pengajar dan hadirin ke segala penjuru negeri. Pada hari itu merupakan hari yang disaksikan oleh seluruh rakyat. Para penyair mengumandangkan syair-syair bagi khalifah dan sanjungan yang tinggi dan kasidah pilihan.


[1] Dr.Yusuf al-Isy, Dinasti Abbasiyah (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2014), h. 51
[2] Benson bobrick, The Caliph’s Splendor Islam and The West in The Golden Age of Bagdad (Jakarta: Alvabet, 2013), h. 100.
[3] Benson Bobrick, Ibid., h. 103.
[4] Benson Bobrick, Ibid., h. 103.
[5] Benson Bobrick, ibid., h. 106.
[6] Benson Bobrick, h. 107.
[7] Raghib al-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia (Jakarta: Pustaka al-Kautsar), h. 225.

Rabu, 23 September 2015

Abdurrahman I (Ad-Dakhil) dan Berdirinya Keemiran Bani Umayyah di Andalusia

Pada tahun 132 H/ 750 M, orang-orang Bani ‘Abbas melakukan penyerangan terhadap Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Bani Abbas yang dipimpin oleh Abū al-‘Abbās al-Saffāh membantai orang-orang Umawiyyun dan berhasil membunuh khalifah terakhir Bani Umayyah, Marwān ibn Muhammad ibn Marwān. Dengan dendam yang telah lama tersimpan dan telah mendarah daging terhadap Bani Umayyah, orang-orang ‘Abbas membunuh semua keturunan laki-laki Bani Umayyah agar tidak ada lagi dari kalangan mereka yang dapat menjadi khalifah di kemudian hari.

Pihak ‘Abbasiyyun membunuh semua orang yang dianggap layak menjadi khalifah dari kalangan Umawiyyun kecuali sedikit saja yang tidak terjangkau oleh pedang-pedang mereka. Di antara yang berhasil lolos dari pembunuhan tersebut adalah ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu‘āwiyah, cucu dari Hisyam ibn ‘Abd al-Malik yang berkuasa pada tahun 723 hingga tahun 743 M.

‘Abd al-Rahmān berhasil melarikan diri menuju wilayah Magrib karena ibunya adalah seorang wanita yang berasal dari suku Barbar. Ia bermaksud menemui keluarga ibunya di sana. Dari Syam, ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah menujuk ke Mesir, lalu sampai ke Burqah (Libya) dan bersembunyi di sana selama lima tahun setelah itu barulah ia keluar menuju Qairuwan. Pada masa itu Qairuwan dipimpin oleh ‘Abd al-Rahmān ibn Ḥabīb al-Fiḥrī. Afrika Utara termasuk Qairuwan berdiri sendiri dan tidak termasuk bagian dari kekuasaan Daulah Abbasiyah.

Sebagai penguasa Magrib, ‘Abd al-Rahmān ibn Habīb al-Fihrī merasa terancam dengan kehadiran ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu’āwiyah dan semakin banyaknya pelarian orang-orang Umawiyyun ke negerinya. Ia takut akan terbentuknya sebuah kekuatan Umawiyyah di sana sehingga ia mengusir orang-orang Bani Umayyah, membunuh dua orang putra al-Walīd ibn Yazīd, mengawini paksa saudari ‘Ismaīl ibn ‘Abad ibn ‘Abd al-‘Azīz ibn Marwān, mengambil hartanya dan berupaya keras mencari ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu’āwiyah.[1]

Karena merasa tidak aman, ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah keluar dari Qairuwan menuju Tadila. Kemudian dari Tadila ia berangkat menuju Mudarib, kabilah Nafzah di wilayah terujung Magrib. Kabilah ini adalah kerabatnya dari pihak ibu, karena ibu ‘Abd al-Raḥmān adalah seorang budak perempuan dari kabilah Nafzah.[2] Tetapi situasi di daerah ini juga tidak aman karena keberadaan kelompok Khawarij yang sangat membenci kalangan Bani Umayyah. Orang-orang Khawarij bersumpah untuk menghunuskan pedang pada ‘Abd al-Raḥmān.[3] Jadi, tidak ada pilihan lain baginya selain berangkat ke Andalusia.

Pada tahun 753 M (136 H), ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah mulai menyiapkan perbekalan untuk memasuki Andalusia. Ia melakukan beberapa persiapan sebelum memasuki kota yang pernah ditaklukkan oleh Ṭāriq ibn Ziyād itu. Pertama, ‘Abd al-Raḥmān mengutus budaknya, Badr, ke Andalusia untuk mempelajari situasi dan mengetahui kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi kekuasaan di sana. Saat itu, Andalusia menjadi ajang perebutan antara orang-orang Yaman yang dipimpin oleh al-Ṣabah al-Yahsubī, dan orang-orang Qais yang dipimpin oleh Abū Jausyan al-Ṣumail ibn Hatim. Mereka inilah yang menjadi andalan pemerintahan yang dipimpin oleh gubernur ‘Abd al-Rahmān ibn Yūsuf al-Fihrī. Kedua, ‘Abd al-Raḥmān mengirim surat kepada pendukung Daulah Umawiyah di Andalusia. Di Andalusia, Bani Umayyah memiliki banyak sekali pendukung dan pengagum, bahkan dari kabilah-kabilah lain di luar Bani Umayyah. Bani Umayyah terkenal dengan kedermawanan, kebijakan politis dan kebijaksanaan mereka serta keberhasilan mereka mendapatkan kepercayaan masyarakat, intraksi mereka yang baik terhadap rakyat, upaya-puaya jihad, penyebaran agama, dan penaklukkan berbagai negeri. Ketiga, ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah mengirim surat kepada semua orang Umawiyyun di Andalusia dan memaparkan idenya kepada mereka bahwa ia bermaksud memasuki Andalusia serta meminta dukungan dan bantuan mereka.[4]

Setelah Badr sukses menjalankan misinya di Andalusia, ia segera memberi informasi kepada tuannya untuk memasuki Andalusia. Situasi dan kondisi di sana telah siap untuk menyambut kedatangan ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu’āwiyah. Tanpa menunggu lama, ‘Abd al-Raḥmān mempersiapkan bekal dan kapal menuju Andalusia.

Akhirnya, pada tahun 136 H, ‘Abd al-Raḥmān tiba di tepi pantai Andalusia seorang diri disambut oleh budaknya, Badr. Begitu ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu’āwiyah memasuki Andalusia, mulailah ia mengumpulkan para pendukungnya, para pecinta Daulah Umawiyah, kabilah Barbar dan beberapa kabilah yang menentang gubernur Andalusia, Yūsuf ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Fihrī. ‘Abd al-Raḥmān juga mendapat dukungan dari orang-orang Yaman yang dipimpin oleh Abū al-Ṣabah al-Yashubī.

‘Abd al-Raḥmān mengirim surat kepada Yūsuf al-Fihrī meminta kesediaannya secara baik-baik untuk menyerahkan kepemimpinan dan al-Fihrī akan diangkatnya sebagai salah seorang pejabat pentingnya di Andalusia. Tetapi Yūsuf al-Fihrī menolak hal tersebut sehingga ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah menyiapkan pasukan untuk memeranginya. Maka pada tahun 756 M (138 H) terjadi pertempuran antara ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu’awiyah dengan Yūsuf bin ‘Abd al-Raḥmān al-Fihrī di tepi Sungai Guadalquivir.[5] Pertempuran ini dikenal dengan Pertempuran al-Muṣarah yang dimenangkan oleh ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu‘āwiyah. Sementara itu Yūsuf al-Fihrī melarikan diri.

Setelah meraih kemenangan dalam pertempuran al-Muṣārah, ‘Abd al-Raḥmān memasuki Cordova, dan dia diberi gelar “al-Dākhil”, yang berarti “masuk” karena dialah orang pertama dari kalangan Bani Umayyah yang masuk ke Andalusia sebagai pemimpin.[6] Sejak itu babak baru Daulah Umawiyah di Spanyol. Fase ini dikenal sebagai periode Keamiran yang dimulai sejak tahun 756 M (138 H) dan berakhir 928 M (316 H). Disebut “Keamiran” karena saat itu Andalusia telah terpisah dari kekhilafahan Islam, baik yang ada di masa kekhilafahan Abbasiyah ataupun yang ada sesudahnya hingga akhir masa Andalusia.[7]

Fase keamiran dimulai sejak naiknya ‘Abd al-Raḥmān al-Dākhil sebagai amīr pertama pada tahun 756 (138 H). Tepatnya enam tahun setelah kejatuhan Dinasti Umayyah di Timur.[8] 

Pada fase ini terdapat tujuh amīr yaitu:
1.         ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu‘āwiyah al-Dākhil (756-788)
2.         Hisyām ibn ‘Abd al-Raḥmān (788-796)
3.         Ḥakam ibn Hisyām (796-822)
4.         ‘Abd al-Raḥmān ibn al-Ḥakam al-Ausat (822-852)
5.         Muḥammad ibn ‘Abd al-Raḥmān (852-886)
6.         Munżir (886-888)
7.         ‘Abd Allāh (888-912).







[1] Ragib al-Sirjanī, Qiṣṣah al-Andalus min al-Fath ilā al-Suquṭ (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2013), h. 159.

[2] Ragib al-Sirjanī, Qiṣṣah al-Andalus min al-Fath ilā al-Suquṭ, h. 160.

[3] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of The World Trough Islamic Eyes, terj. Yuliani Liputo, Dari Puncak Bagdad (Cet.I; Jakarta: Zaman, 2012), h. 201-202.
[4] Lihat Ragib al-Sirjanī, Qiṣṣah al-Andalus min al-Fath ilā al-Suquṭ, h. 161-162

[5] Philip K. Hitti, History of The Arabs (Jakarta: Serambi, 2013), h. 644.

[6] Lihat Ibn Khaldūn, Tārikh Ibn Khaldūn juz 4, h. 156.

[7] Ragib al-Sirjānī, Qisṣah al-Andalus min al-Fath ila al-Suqūṭ, h. 169.

[8] ‘Abd al-Syafī Muhammad ‘Abd al-Latīf, Al-Alam al-Islamī fī al-Asri al-Umawī (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2014), h. 392