Minggu, 02 Desember 2018

Ath-Thabari Syaikhnya Ahli Tafsir



Tokoh kali ini disebut-sebut sebagai Syaikh Al-Mufassirin, gurunya para ahli tafsir. Sekalipun ia dikenal sebagai ahli tafsir, ia juga memiliki karya besar lainnya dalam bidang sejarah, hadits, fiqih dan ushul fiqh.

Imam Ath-Thabari bernama lengkap Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir, bin Ghalib. Adapun nama kuniyahnya adalah Abu Ja’far. Sebab itulah ia dikenal dengan Abu Ja’far Ath-Thabari. Sejak kecil Muhammad bin Jarir Ath-Thabari telah senang menuntut ilmu. Pada usia tujuh tahun ia telah menghafal Alqur’an. Ia telah menjadi imam shalat di usia delapan tahun. Dan telah menulis hadits saat usianya masih sembilan tahun.

Ath-Thabari memang dikenal memiiki kecerdasan di atas rata-rata dan sangat kuat hafalannya. Kecerdasan inilah yang dilihat oleh ayah dari Abu Ja’far Ath-Thabari. Sang ayah lalu mendukungnya untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri sejak usia belia. Ia selalu mengirimkan uang sebagai biaya bagi puteranya untuk menuntut ilmu.

Pertama-tama ia pergi belajar ke Rayy. Salah seorang gurunya di sana adalah Muhammad bin Humaid Ar-Razi, sejarawan besar pada masa itu. Dari sana ia pergi ke Baghdad, pusat peradaban Islam. di Baghdad, ia hendak menimba ilmu dari Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar dan paling masyhur saat itu.

Akan tetapi, Imam Ahmad telah meninggal dunia sebelum Ath-Thabari sampai ke kota itu. Kemudian, ia menuju ke Basrah lalu ke Kufah dimana ia menimba sekitar 100.000 hadits dari Syaikh Abu Kurayb. Tidak lama setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana untuk jangka waktu yang cukup lama. Setelah itu, pada tahun 876 M, ia pergi ke Fustath, Mesir. Tetapi ia singgah dulu di Syam untuk menuntut ilmu hadits. Setelah lama tinggal di Mesir, ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana hingga meninggal dunia pada tahun 310 Hijriyah (923 M).

Di antara kecerdasan Ath-Thabari disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ketika ia berada di Mesir. Ketika itu banyak yang datang kepadanya untuk belajar dan menanyakan berbagai masalah dalam berbagai bidang ilmu. Suatu hari ada yang datang kepadanya dan bertanya tentang permasalahan dalam ilmu Arudh (ilmu yang mempelajar tentang syair), ilmu yang belum dikuasai oleh Ath-Thabari. Lalu Ath-Thabari meminjam kitab Al-Arudh kepada temannya dan dipelajarinya selama satu hari. Esoknya, ia telah ahli dalam masalah Arudh. 

Sejak usia 12 tahun, Ath-Thabari telah akrab dengan buku-buku, kitab-kitab para ulama, dan menghabiskan waktu dengannya. Ia juga tidak berhenti menulis ilmu yang didapatkannya. Kecintaannya kepada ilmu, kesibukannya belajar dan menulis membuatnya lupa untuk menikah. Karena itu, hingga wafat, Ath-Thabari tidak menikah.

Sifat Zuhud

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari adalah seorang ulama yang zuhud dan wara’. Ia tidak menginginkan sedikitpun dari harta dunia. Padahal dengan ilmunya yang tinggi, ia bisa mendapatkan semua itu dengan mudah. Khalifah Al-Muqtadir dari Dinasti Abbasiyah pernah meminta untuk dituliskan kitab tentang wakaf, yang syarat-syaratnya disepakati di antara para ulama.

Maka orang-orang menyarankan kepadanya untuk memerintahkan Abu Ja’far Ath-Thabari menulis kitab tersebut. Khalifah Al-Muqtadir kemudian memanggil Ath-Thabari ke istana. Setelah ia menyanggupi permintaan Khalifah, Khalifah pun ingin agar Ath-Thabari meminta sesuatu darinya, biasanya jika diminta seperti itu, yang dimaksud adalah dinar dan dirham.

Namun, tidak seperti orang lain yang tidak segan meminta kepada Khalifah, Ath-Thabari malah tidak meminta apa-apa. Ia tidak mengharapkan apa pun sebagai imbalan apa yang dikerjakannya. Tapi Khalifah tetap memaksanya. “Engkau harus meminta keperluan atau sesuatu kepadaku,” kata Khalifah Al-Muqtadir. Dengan terpaksa Ath-Thabari pun meminta sesuatu. “Aku meminta kepada Amirul Mukminin agar memerintahkan kepada polisi agar menghalangi para peminta-minta pada hari Jum’at memasuki areal masjid,” Khalifah pun mengabulkannya.

Karya-karya Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari melahirkan banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu. yang paling popular adalah “Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Alqur’an” atau lebih dikenal dengan “Tafsir Ath-Thabari”. Sedangkan karya sejarahnya yang paling terkenal adalah “Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk” (Sejarah Bangsa-bangsa dan Raja-Raja) atau “Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk wa Al-Khulafa”. Kitabnya dalam bidang sejarah ini dikenal juga dengan nama Tarikh Ath-Thabari.

Karena karyanya inilah ia dikenal sebagai ahli sejarah dan ahli tafsir. Para ulama di masanya maupun sesudahnya banyak memuji karyanya tersebut dan menjadikannya rujukan utama dalam bidang sejarah dan tafsir.

Selain kedua kitab itu masih banyak lagi kitab-kitab karya Ath-Thabari yang lain. Di antaranya Adab Al-Qudhah, Ikhtilaf Ulama Al-Amshar fi Ahkam Syara’i Al-Islam, Tahdzib Al-Atsar wa Tafshil Ats-Tsabit an Rasulillah min Al-Akhbar, Ar-Radd ala Dzi Al-Asfar, Ar-Risalah fi Ushul Al-Fiqh, Al-Adad wa At-Tanzil, Musnad Ibni Abbas, dan masih banyak lagi.