Rabu, 04 November 2015

02.20 - 1 comment

Perkembangan Islam di Turki



Turki pada masa Dinasti Utsmani
Turki memiliki sejarah yang gemilang. Saat kepemimpinan Islam berada di bawah Turki Utsmani, Islam mengalami banyak kemajuan terutama dari sisi kemiliteran. Mereka pernah berkuasa selama  delapan abad, sejak 1281 hingga 1924 M. Pengaruh dinasti Turki Utsmani menjangkau wilayah yang sangat luas hingga ke Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.[1]

Pada masa sultan Muhammad II (Muhammad al-Fatih), umat Islam berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel, kota yang merupakan pusat agama Kristen Ortodoks dan menyimpan banyak ilmu pengetahuan.[2] Ketika menaklukkan kota yang merupakan Ibukota imperium Romawi Timur itu, Sultan Muhammad al-Fatih mengganti nama kota itu menjadi Islambul (Istanbul) yang berarti kota Islam dan menjadikannya sebagai ibukota. Ia memerintahkan agar azan dikumandangkan di Gereja Aya Sophia sebagai pengumuman bahwa gereja itu diubah menjadi masjid.[3] Di antara Negara-negara muslim, Turki Utsmani merupakan Negara yang dapat mendirikan kerajaan yang paling besar dan paling lama berkuasa.

Keruntuhan Khilafah Utsmani dan lahirnya Sekularisasi

Pada tahun 1915, Ketika Perang Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Utsmani semakin terpuruk. Partai Persatuan dan Kemajuan Utsmani memberontak  kepada Sultan dan dapat menghapuskan kekhalifahan Utsmani dan membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. semua daerah kekuasaan Utsmani yang luas, baik di Asia maupun di Afrika diambil oleh negara-negara Eropa yang menang.

Pada tahun 1923, Mustafa Kemal Ataturk ditetapkan sebagai presiden Republik Turki sepanjang hidup. Ia sebagai kepala pemerintah, dan sebagai kepala Republican People’s party (Partai Republik). Rezim ini tidak mentolerir partai oposisi kecuali terhadap Progressive Party tahun 1924 dan Liberal Party pada tahun 1929 dan 1930, meskipun dalam waktu yang sangat singkat.

Partai Republik merupakan instrument rezim terbesar di turki dan beberapa dinas perkantoran. Rezim ini menyebarkan informasi kemajuan pertanian, mengorganisri program pendidikan, dan mengajarkan idiologi nasional dan sekuler kepada masyarakat.[4] Pada masa Kemal, ulama dan bangsawan lokal dikucilkan dan pekerjaan tokoh-tokoh agama semakin sempit sehingga sekolah-sekolah agama semakin kurang diminati.[5]  

Tujuan utama turki Kemalis adalah pembangunan ekonomi dan modernisasi kultural. Kebijakan rezim kemalis yang paling penting adalah revolusi kultural. Mustafa kemal berusaha memasukkan massa ke dalam frame work ideologis dan kultural rezim republik, merenggangkan keterikantan masyarakat umum terhadap Islam, dan mengarahkan mereka kepada pola kehidupan barat dan sekuler. Rezim kemalis menghapuskan sejumlah lembaga organisasi Islam.[6]

Kesultanan Utsmani dihapuskan pada tahun 1923, sedang khilafah dihapuskan pada tahun 1924. Pada tahun 1925 beberapa thariqat sufi dinyatakan sebagai organisasi terlarang (illegal) dan dihancurkan. Pada 1927 pemakaian turbus dilarang. Pada tahun `1928 diberlakukan tulisan latin menggantikan tulisan arab dan mulai dilancrkan upaya memurnikan bahasa Turki dari muatan bahasa Arab dan Persi. Pada tahun 1935 seluruh warga Turki diharuskan menggunakan nama kecil sebagaimana yang berlaku dengan pola nama barat. Dalam rentangan abad ini diberlakukan kitab hukum keluarga yang didasarkan pada kitab hukum swiss menggantikan hukum syariah. Demikianlah, Islam dilepaskan dan diasingkan dalam kehidupan masyarakat dan simbol-simbol ketergantungan bangsa turki terhadap kultur tradisional digantikan dengan sistem hukum, kebahasaan, dan beberapa system identitas modern lainnya.[7]

Undang-undang Keluarga 1924 mengharamkan poligami, dan menjadikan suami dan istri berkedudukan sama dalam perceraian. 1934 kaum wanita diberi hak untuk dicalonkan dalam pemilihan nasional. Pada tahun 1935 beberapa perwakilan wanita terpilih dalam parlemen Turki.[8]

Turki Masa Kini

Meski dibendung oleh konstitusi Sekuler, umat Islam di Turki sadar betul bahwa mereka adalah umat Islam dan memiliki sejarah Islam yang gemilang di masa lalu. Kini, sedikit demi sedikit, masyarakat Islam di Turki mulai menunjukkan identitas keislaman mereka diantaranya dengan berjilbab. Tren jilbab di Turki tak bisa dibendung. Hasil survei terbaru yang dirilis Yayasan Studi Ekonomi dan Sosial yang berbasis di Istanbul menunjukkan, 60 persen perempuan Turki kini mengenakan jilbab. 

Semarak jilbab itu juga diikuti dengan menjamurnya produk busana muslim di Turki.[9] Jilbab yang dilarang pemakaiannya pada masa lalu, kini diopinikan sebagai hak perempuan yang harus dihormati. Jilbab kini juga mulai memasuki wilayah pendidikan. Setelah melalui perjuangan yang cukup keras, kini mulai terlihat banyak mahasiswi mengenakan jilbab di kampus-kampus. Bahkan ada tiga muslimah berjilbab di Istana Negara, mereka adalah Hayrunnisa Gul yang bernama asli Hayrunnisa Oyzurt, istri dari presiden Abdullah Gul yang menjabat sebagai presiden Turki ke-11 dari 27 Agustus 2007 hingga sekarang. Kedua adalah Emine Erdogan. Ia merupakan istri dari Perdana Menteri Turki sekarang, Recep Tayyip Erdogan. Yang terakhir mewarnai Istana Turki dengan jilbab  adalah istri Menteri Luar Negeri Turki, Sare Davutoglu yang kini berkiprah juga sebagai dokter.[10]

Kini, di Turki juga orang-orang dilarang menghina Islam. Jika dulu Turki dikenal sangat sekuler sehingga identitas Islam dimusuhi dan menghina agama tidak dipermasalahkan, kini menghina terhadap Islam bisa berurusan dengan pengadilan. Itulah yang dialami oleh musisi terkenal Fazil Say. Meskipun ia seorang pianis kenamaan, pengadilan Istanbul pada bulan April 2013 menjatuhkan hukuman percobaan 10 bulan terhadap Say karena menghina Islam melalui twitter.[11]

Upaya "islamisasi" juga difasilitasi pemerintah dengan rencana mengaktifkan kembali Masjid Aya Sophia sebagai tempat ibadah umat Muslim dan mengajarkan Al-Qur'an di sekolah-sekolah umum. Semua ini tak terlepas dari pemerintahan Presiden Abdullah Gul, dan perdana Menteri, Recep Tayyip Erdogan yang kembali memenangkan pemilu Turki pada tahun 2011. Erdogan secara perlahan mengurangi sekularitas Turki. Itu terlihat dari banyaknya simbol Islam di jalan-jalan Istanbul, seperti jilbab. Recep tayyip Erdogan, berniat menghapus larangan mengenakan jilbab yang dikenakan bagi mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di negaranya. Larangan jilbab itu dikatakannya telah melanggar kebebasan beragama.

Turki juga mulai kembali mengajarkan al-Qur’an dan menulis Arab. Sebelumnya Turki memang melarang pengajaran Al-Qur'an dan bahasa Arab di sekolah-sekolah Turki selama seratus tahun telah membuat masyarakat Turki banyak yang tidak bisa membaca Al-Quran dan menulis Arab. Padahal, Turki pernah menjadi pusat peradaban Islam selama lima abad Khilafah Turki Usmani.













[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (cet.2, Jakarta: Amzah, 2010), h. 194.

[2] Ibid., h. 199.

[3] Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam (cet.1, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2013), h. 169-170.

[4]Ira M. Lapidus, Sejarah sosial umat islam bagian ketiga  (cet.1, Jakarta: PT.Raja Grafindo persada, 1999), h. 88

[5] Syafiq A. Mugni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (cet.1, Jakarta: Logos, 1997), h. 161.

[6] Ira M. Lapidus, op.cit., h. 89.
[7] Ibid, h. 91.

[8] Ibid, h.92.

[9] http://www.bersamadakwah.com/2012/05/tren-jilbab-di-turki-tak-terbendung.html

[10] http://eikavio.wordpress.com/2012/10/02/trio-muslimah-pegiat-jilbab-di-istana-sekuler-turki/

[11] http://www.bersamadakwah.com/2013/04/hina-islam-di-twitter-pengadilan-turki.html

1 komentar:

Posting Komentar