Selasa, 11 September 2018

Sang Halilintar Anatolia




Turki pernah mengalami masa kejayaan ketika berada di bawah Dinasti Utsmaniyah selama ratusan tahun. Pemimpin mereka dikenal sebagai sultan-sultan pemberani yang ditakuti oleh raja-raja Eropa.

Di antara sultan Utsmani yang disegani musuh adalah Sultan Bayazid (Bayazid I). Bayazid adalah keempat dalam silsilah Dinasti Utsmaniyah, ayahnya adalah Sultan Murad, dan kakeknya adalah Sultan Orkhan, putra dari Sultan Utsman, pendiri Daulah Utsmaniyah.

Bayazid dikenal sebagai seorang pemberani dan gemar berjihad fi sabilillah, sebagaimana para pendahulunya. Kehebatannya di medan pertempuran dan kecepatannya dalam menghadapi musuh membuat orang-orang memberinya julukan “Yildirim”, yang berarti Halilintar. Jika nama itu disebut, orang-orang Eropa, khususnya Konstantinopel, akan merinding mendengarnya. Begitulah para pemimpin Islam dahulu, disegani musuh-musuh Allah.

Bayazid  menjadi sultan menggantikan ayahnya, Sultan Murad yang syahid dalam pertempuran Kosovo pada 1389 M melawan orang-orang Salib Serbia. Ia ditikam oleh seorang pasukan Serbia dengan menggunakan pisau beracun.

Sultan Bayazid semenjak menduduki jabatannya sebagai sultan Utsmani, mampu memimpin negerinya dengan baik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia berhasil menguasai Bulgaria, salah satu negara penting di Balkan. Hal ini tentu saja membuat khawatir pasukan Salib Eropa, sehingga mereka bersatu menggabungkan kekuatan menghadapi Sultan Bayazid.

Eropa yang dipimpin Raja Hungaria, Sigismund, berhasil menggabungkan kekuatan mereka yang terdiri dari berbagai negeri: Prancis, Jerman, Inggris, Swiss, dan yang lainnya. Jumlah pasukan mereka mencapai 120.000 pasukan. Pasukan besar ini bertemu dengan 100.000 pasukan Utsmani yang dipimpin Sultan Bayazid di Nikopolis. Perang pun tak terelakkan, atas izin Allah, pasukan Islam berhasil meraih kemenangan.

Kekalahan pasukan Salib pada Perang Nikopolis membuat orang-orang Eropa khawatir. Mereka menganggap kekalahan itu sebagai bencana yang besar. Tidak lama lagi, orang-orang Turki Utsmani akan menguasai negeri-negeri mereka dengan mudah. Sementara bagi Sultan Bayazid, kemenangan di Nikopolis melambungkan namanya. Beritanya tersebar di seluruh negeri Islam, hingga Khalifah Abbasiyah di Kairo memberinya gelar “Sultan Romawi”, dan mendukung perjuangan jihadnya melawan pasukan Salib Eropa.

Setelah kemenangan yang gemilang ini, banyak kaum muslimin yang hijrah ke Anatolia, ibu kota pemerintahan Dinasti Utsmaniyah. Mereka semua mendukung perjuangan dan jihad Sultan Bayazid I. Tapi, tidak sedikit juga di antara mereka yang datang karena lari dari serbuan Timurlenk, pemimpin bangsa Mongol. Sultan Bayazid telah mengepung Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur. Bahkan disebutkan, di dalam kota itu telah dibangun masjid atas permintaan Sultan Bayazid. Penaklukkan Konstantinopel memang menjadi target utama sang Sultan. Hanya saja, rencananya terhenti akibat serangan dari Timurlenk.

Pasukan Timurlenk

Ketika Sultan Bayazid berkuasa, di Samarkand, salah satu wilayah Khurasan, telah berdiri pemerintahan kuat yang dipimpin oleh Timurlenk, salah satu keturunan Mongol. Ia memang telah masuk Islam, tapi sifat-sifat leluhurnya yang bengis masih melekat pada dirinya. Timurlenk memiliki wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari India, Damaskus, Transaxonia, dan wilayah Rusia.

Kehadiran Timurlenk membuat senang para pemimpin Eropa. Adanya Timurlenk membuat kerja mereka menghadapi Sultan Bayazid menjadi lebih ringan. Pada tahun 1402, terjadilah pertempuran antara Sultan Bayazid menghadapi pasukan Timurlenk yang berjumlah 800 ribu pasukan. Sementara pasukan Sultan Bayazid hanya 120.000 pasukan.


Perbedaan jumlah pasukan yang sangat jauh itu memberi kekalahan telak pada pihak Utsmani. Banyak dari tentara Bayazid yang mati kehausan karena kekurangan air, terlebih pada waktu itu musim kemarau sedang berlangsung. Sultan Bayazid pun ditangkap dan menjadi tawanan Timurlenk.

Kematian Sultan Bayazid

Setelah delapan bulan menjadi tawanan Timurlenk, pada tahun 1403 (805 Hijriyah), Sultan Bayazid I meninggal dunia. Ia meninggal masih dalam kondisi terbelenggu. Kekalahan Turki Utsmani, dan kematian Sultan Bayazid membuat senang orang-orang Eropa. Mereka mengirimkan ucapan selamat kepada Timurlenk atas keberhasilannya mengalahkan pasukan Turki Utsmani.

Ketika Sultan Bayazid meninggal, Timurlenk memperkenankan anaknya, Sultan Amir Musa mengambil mayat ayahnya. Ia dipulangkan ke Anatolia dan dimakamkan di sana, tidak jauh dari masjid di Anatolia. Sampai saat ini makamnya masih sering dikunjungi para peziarah. Sultan Bayazid meninggal dunia dalam usia 44 tahun.


Kematiannya memberikan luka yang mendalam bagi ummat Islam. Sementara itu, terjadi konflik di antara putra-putra Sultan yang berlangsung selama sepuluh tahun. Selama masa itu, seakan-akan pemerintahan Utsmaniyah telah runtuh sampai Sultan Muhammad Jalabi, putra Sultan Bayazid tampil dan memimpin kembali kesultanan Utsmani pada tahun 1379 M.

Selasa, 04 September 2018

Pengusiran Yahudi Bani Nadhir


Keluarnya Bani Nadhir dari Madinah  

          
Pada peristiwa Bi’ru Ma’unah, beberapa orang sahabat terbunuh oleh kaum musyrikin. Seorang sahabat berhasil selamat, yaitu Amr bin Umayyah. Ia segera bergerak menuju Madinah. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan dua orang dari Bani Kilab di sebuah desa bernama Qarqarah. Amr menganggap dua orang itu sebagai musuh sehingga ia membunuh mereka. Padahal dua orang itu memiliki kesepakatan dengan Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, Amr memberi tahu Rasulullah apa yang telah dilakukannya tadi. Mendengar laporan itu, Rasulullah bersabda, “Kamu telah membunuh dua orang yang darahnya harus kutebus.” Rasulullah menganggap pembunuhan yang dilakukan oleh Amr bin Umayyah terhadap dua orang dari Bani Kilab harus diselesaikan. Beliau harus membayar tebusan. Jika tidak, kaum muslimin akan dianggap bersalah telah melanggar kesepakan, dan akibatnya akan lebih banyak lagi pertumpahan darah.

Masa-masa ini memang masa sulit bagi Rasulullah dan kaum muslimin. Mereka baru saja dikalahkan kaum musyrikin Makkah di Uhud, dan belum juga tahun berganti, kaum muslimin kembali banyak berguguran di Bi’ru Ma’unah. Dalam masa-masa ini pula Rasulullah melaksanakan qunut dalam setiap shalat beliau, mendoakan para syuhada yang syahid.

Rasulullah pun mengunjungi Bani Nadhir disertai beberapa sahabat beliau, seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali. Rasulullah meminta mereka turut menyumbangkan tebusan. Antara ummat Islam dan ummat Yahudi telah terjalin kesepakatan untuk saling bantu satu sama lain.

Yahudi Bani Nadhir menerima kedatangan beliau dan para sahabat dengan baik. Namun, kebaikan mereka hanyalah luarnya saja. Di dalam hati mereka menyimpan kebencian dan permusuhan yang mendalam. Ketika Rasulullah sedang duduk di dekat tembok, mereka bermusyawarah siapa yang berani menjatuhkan sebuah batu besar dari atas rumah ke kepala Rasulullah. Seorang Yahudi bernama Amr bin Jahsy menyanggupinya.

Saat itu, Malaikat Jibril turun dan menyampaikan niat orang-orang Yahudi tersebut kepada Rasulullah. Setelah memperoleh kabar dari Jibril, Rasulullah segera berdiri dan keluar dari rumah meninggalkan perkampungan Bani Nadhir. Beliau kembali ke Madinah tanpa diikuti para sahabat. Sementara itu, para sahabat (Abu Bakar, Umar, Ali, dan lainnya) mengira Rasulullah pergi sebentar saja dan akan kembali lagi, karena beliau saat keluar tadi tidak memberitahukan apa-apa kepada mereka. Karena lama menunggu, akhirnya mereka juga kembali ke Madinah.

Di Madinah, Rasulullah memberitahukan kepada para sahabatnya bahwa tadi Jibril datang kepadanya menyampaikan makar yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi Bani Nadhir. Maka, Rasulullah mengumpulkan pasukannya dan bersiap mengepung perkampungan Bani Nadhir. Terlebih dahulu Rasulullah mengutus sahabatnya untuk menyampaikan kepada Bani Nadhir untuk meninggalkan perkampungan mereka. Mereka telah melanggar perjanjian, dan itu menandakan mereka tidak dapat tinggal berdampingan dengan kaum muslimin. Namun, mereka menolak untuk keluar dari kampung mereka, sehingga Rasulullah memerangi mereka.

Abdullah bin Ubay, Gembong Munafik

Melalui utusannya, Rasulullah menyampaikan agar dalam waktu sepuluh hari kaum Yahudi Bani Nadhir harus mengosongkan kampung mereka dan keluar dari Madinah. Jika tidak keluar dalam tempo yang telah diberikan, maka mereka harus diperangi. Di sini, Abdullah bin Ubay bin Salul pemimpin golongan munafik mengirim pesan kepada kaum Yahudi untuk tetap tinggal di kampung mereka, karena dia memiliki 2000 prajurit yang bersiap membantu mereka.

Bani Nadhir yang semula takut, kini menjadi berani karena mendapat dukungan dan bantuan dari Abdullah bin Ubay. Mereka pun enggan keluar dari kampung, mereka menyatakan perang. Di sini kita lihat bagaimana peran Abdullah bin Ubay, ingin memperlemah posisi kaum muslimin. Allah menyebutkan peran Abdullah bin Ubay.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, ‘Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.’ Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.” (QS. Al-Hasyr: 11).

Setelah mengepung mereka selama enam malam, kaum muslimin berhasil menembus benteng-benteng kokoh Bani Nadhir. Akhirnya, mereka mengaku kalah dan bersedia keluar dari kampung mereka. Sementara, orang-orang munafik, tidak menolong mereka sedikit pun. Benar kata Allah, sesungguhnya mereka benar-benar pendusta!

Keluar dari Madinah

Rasulullah membolehkan kaum Yahudi membawa semua harta benda mereka kecuali senjata. Mereka membawa semua harta benda yang mereka miliki hingga unta mereka penuh bawaannya. Termasuk pintu-pintu rumah dan jendela mereka, mereka ikut mencopotnya untuk dibawa. Ya, mereka menghancurkan rumah-rumah mereka sendiri. Inilah yang difirmankan oleh Allah dalam Alqur’an.

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka, mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS. Al-Hasyr: 2).

Dengan demikian, Yahudi Bani Nadhir adalah suku yahudi kedua yang terusir dari Madinah setelah sebelumnya telah didahului oleh Yahudi Bani Qainuqa’.

Faidah Kisah
  • Yahudi telah memusuhi ummat Islam sejak dulu.
  • Mereka selalu melanggar perjanjian dengan ummat Islam.
  • Terbebasnya Rasulullah dari makar kaum Yahudi menunjukkan bahwa beliau benar seorang nabi.
  • Kaum munafik selalu bergandengan tangan dengan orang-orang kafir untuk melawan Islam.
  • Berdusta adalah satu ciri orang munafik.


Teknologi Robot Era Kejayaan Islam


Telah berkembang di Dunia Islam pada abad ke-12   
     

Para ilmuwan Barat selalu mengatakan bahwa perintis teknologi robot adalah ilmuwan mereka asal Italia yang hidup pada abad ke-15, Leonardo Da Vinci. Da Vinci merancang pembuatan robot pada tahun 1478 M.

Padahal jauh sebelum Leonardo Da Vinci lahir, seorang ilmuwan Muslim yang hidup pada abad ke-13 telah mampu merancang dan menciptakan robot mirip manusia. Ilmuwan itu bernama Abul Izz bin Ismail bin Ar-Razzaz al-Jazari, lebih dikenal dengan al-Jazari.

Al-Jazari seorang insinyur jenius merupakan orang pertama yang merumuskan konsep robotik pertama dalam sejarah. Ia membuat rancangan sebuah robot humanoid yang dapat diprogram pada tahun 1206 M, lebih dua ratus tahun sebelum Leonardo Da Vinci merancang robotnya yang baru sebatas di atas kertas. Robot rancangan al-Jazari ini pada dasarnya menyerupai sebuah mekanisme berbentuk perahu dengan empat robot pemain musik otomatis yang dapat mengapung di tengah danau untuk menghibur para tamu dalam acara jamuan minum di istana kerajaan.

Robot temuan al-Jaziri tersebut terdiri dari dua penabuh drum, seorang peniup harpa dan pemain suling logam. Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Ini adalah robot pertama yang bisa diprogram. Robot penabuh drum yang dirakit al-Jazari dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Penemuan al-Jaziri ini adalah pencapaian penting yang belum pernah ditemukan oleh peradaban-peradaban sebelumnya.

Selain robot yang mampu bermusik, al-Jazari juga berhasil menciptakan sebuah robot pramusaji berbentuk manusia yang bertugas untuk menghidangkan air, teh, dan minuman lainnya. Minuman disimpan dalam sebuah tank dengan penampung air. Dari penampung air itu, air dialirkan ke dalam sebuah ember dan setelah tujuh menit mengalir ke sebuah cangkir. Setelah itu, robot itu mengeluarkan minumannya.

Al-Jazari juga menciptakan pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan sistematis al-Jazari itu berbentuk manusia yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air. ketika seorang pengguna menarik tuas, air akan mengering dan robot itu akan kembali mengisi baskom dengan air. Sangat canggih. Robot canggih lainnya yang diciptkan insyinyur muslim ini adalah bunga merak yang bisa bergerak otomatis. Al-Jazari menggerakkan robot burung merak itu dengan tenaga air.

Lebih Dekat Dengan Al-Jazari

Dia adalah As-Syaikh Ra’is al-Amal Badiuzzaman Abu al-Izz bin Ismail bin ar-Razzaz al-Jazari. Lahir sekitar tahun 561 H (1165 M). Ra’is al-Amal (Kepala Insinyur) merupakan gelar yang diberikan para insinyur muslim di abad ke-13 kepadanya. Sedangkan sebutan Badiuzzaman dan Syaikh yang disandangnya menunjukkan bahwa al-Jazari adalah seorang ilmuwan yang memiliki ilmu yang tinggi dalam bidang robotika ini.


Al-Jazari berasal dari Jazirah Ibnu Umar di Diyar Bakr, Turki. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa ia lahir di al-Jazira, sebuah kawasan yang terletak di sebelah utara Mesopotamia, yakni kawasan di utara Irak dan timur laut Suriah. Tepatnya antara Sungai Tigris dan Eufrat.

Al-Jazari hidup pada masa Dinasti Ayyubiyah. Karena kejeniusannya, ia dipekerjakan sebagai insinyur di istana Artuqid di Diyar Bakr, Turki pada penghujung abad ke-12, atau sejak tahun 570 H (1174 M) dan 602 H (1206 M). Al-Jazari menyusun kitab Risalah tentang Mekanisme Automata yang berisi ilustrasi dari mesin-mesin karya rancangannya yang menakjubkan. Di dalamnya juga tertulis rinci silsilah nama-nama para sultan dan para filosof kenamaan abad ke-12. Mereka inilah yang memberikan perlindungan dan dukungan dana sepenuhnya bagi al-Jazari untuk menghasilkan berbagai temuan berharganya. Ia wafat pada tahun 607 H (1210 M).

Jam Gajah Otomatis

Pada tahun 1206, al-Jazari membuat sebuah jam berbentuk agajah yang menjadi cikal bakal jam mekanis modern. Jam gajah ini merupakan jam bertenaga air yang dimodifikasi sedemikian rupa. Komponen-komponen utama jam tersebut diletakkan di atas sebuah patung gajah besar yang penuh hiasan kerajaan.


Seluruh mekanisme komponen jam tersebut didesain khusus agar dapat menggerakkan jarum jam dan mengeluarkan bunyi-bunyian setiap setengah jam sekali. Model jam ini mengingatkan kita pada jam-jama berdentang yang banyak dijumpai di kota-kota besar di Eropa pada abad pertengahan yang dilengkapi dengan patung-patung yang dapat bergerak dan menari. Kemungkinan jam-jam Eropa tersebut terinspirasi oleh jam gajah al-Jazari.

Temuan-temuan al-Jazari

  • Jam otomatis bertenaga air.
  • Robot penabuh drum.
  • Robot pramusaji yang menghidangkan minuman.
  • Roda gigi (gear).
  • Pompa dan perangkat untuk mengambil air dari sumur.
  • Dan puluhan penemuan lainnya.