Rabu, 03 Desember 2014

Sejarah Berdirinya Kota Baghdad

Rasanya kurang lengkap membahas sejarah Islam tanpa membahas sejarah dinasti Abbasiyah. Ketika membahas dinasti Abbasiyah sudah tentu tak dapat dipisahkan dengan kota Baghdad. Kota yang di masa silam dikenal sebagai negeri metropolitan. Negeri 1001 malam.

Ketika pertama kali daulah Abbasiyah mengambil alih kekuasaan dari dinasti Umawiyah yang berpusat di Damaskus, kota itu tidak bersahabat dengan orang-orang Abbasiyah. Damaskus kota yang jauh dari Persia, basis kekuasaan Abbasiyah. Abu al-Abbas al-Saffah, khalifah pertama Daulah Abbasiyah mulai mencari tempat untuk dijadikan pusat pemerintahannya. Ia memilih Kufah, Irak, hingga dia meninggal.

Abu Ja’far al-Mansur, menggantikan Al-Saffah sebagai khalifah kedua Abbasiyah. Dia mencari kota yang baru dan akhirnya menemukan lokasi sebuah dusun kecil Persia bernama Baghdad. Baghdad yang dalam bahasa Persia berarti “Didirikan Tuhan”[1] dahulu adalah kota kuno terletak antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat. Di masa Rasulullah, kota ini menjadi sebuah kota pasar dan ketika khalifah al-Manshur mengunjunginya, pasar-pasar tersebut telah lenyap dan digantikan menjadi biara-biara Kristen.[2]

Pada tahun 146 H (762 M), ketika pertama kali membangun kota Baghdad, pada peletakan batu pertama khalifah al-Manshur mengatakan:
“Bismillahirrahmanirrahim. Bumi adalah milik-Nya. Dia mewariskannya bagi siapa yang Dia kehendaki kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Kemenangan adalah milik orang-orang bertakwa.”[3]

Ratusan ribu pekerja ahli bangunan terdiri dari arsitktur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat dan lainnya yang didatangkan dari Suriah, Mosul, Basrah, dan Kufah dikerahkan untuk membangun kota seribu satu malam tersebut dengan biaya yang sangat besar. Sejarawan mengatakan bahwa Abu Ja’far al-Manshur membiayai biaya pembangunan Baghdad sebesar 18.000 dinar.[4] Dengan dana yang begitu besar, dibangunlah bangunan-bangunan megah: Istana, masjid, jembatan, saluran air, dan berbagai benteng serta kubu pertahanan.



Istana dibangun di tengah-tengah kota Baghdad yang bundar, dan di samping istana dibangun masjid Jami’. Istana khalifah dibangun dengan megah. Pintunya diberi banyak sepuhan emas. Terbuat dari batu dan pualam serta memiliki kubah hijau besar yang dipuncaknya dipasangi patung seorang penunggang kuda yang berputar-putar seperti kincir penunjuk arah angin.

Di atas tembok dalam, sebuah balkon terentang sepanjang kubu benteng yang cukup luas bagi sang khalifah untuk menaiki kuda sembari memeriksa daerah sekilling. Terdapat empat pintu gerbang kota dengan empat jalan raya yang menandai empat penjuru mata angin, menyebar ke luar seperti jari-jari sebuah roda dengan pusatnya adalah istana khalifah. Masing-masing gerbang diberi nama sesuai kota besar atau kawasan yang ditujunya: Damaskus, Basrah, Kufah, dan Khurasan.[5]

Tidak lama, kota Baghdad berkembang psat melampaui rancangan awalnya, menjadi lebih luas dengan banyaknya bangunan-bangunan dan pemukiman. Ia meliputi taman-taman yang luas dan aneka tempat rekreasi. Bahkan orang-orang nonmuslim diberikan kebebasan membangun tempat tinggalnya. Terdapat sebuah kawasan Kristen, dilengkapi dengan gereja, biara, dan asrama biarawati.

Baghdad juga memiliki pelabuhan yang sangat maju untuk penggunaan komersial. Tiga jembatan berukuran besar yang terdapat di hulu, hilir, dan tengah-tengah kota. Dilekatkan ke tiang-tiang besar di kedua tepi sungai Tigris dengan rantai besi. Sekitar tiga ribu sampan juga mengangkut orang bolak-balik.

Sementara itu, di tepi timur sungai Tigris, berdiri istana al-Rusafah milik Muhammad al-Mahdi, putra khalifah al-Manshur. Sebuah pemukiman tumbuh di sekitarnya berseberangan dengan istana kedua yang dikenal sebagai al-Khuld, dibatasi oleh taman-taman luas yang terhampar sepanjang tepi barat.

Setelah beberapa waktu, kota ini memiliki lapangan-lapangan publik berukuran besar untuk balapan kuda dan polo.[6] Sebuah istana yang dibangun di sekilling sebatang pohon perak murni dengan burung mekanis yang berkicau. Terdapat juga kebun binatang dengan kandang-kandang bertrali untuk singa, gajah, merak, macan, dan jerapah.

Baghdad yang dinamakan Madinah al-Salam (Kota Kedamaian) oleh al-Manshur seakan disulap dalam satu malam menjadi kota terbesar di dunia dan tiada bandingannya. Di dalamnya terdapat banyak ulama dan cendikiawan. Al-Manshur mengumpulkan para ulama di Baghdad dari seluruh negara dan wilayah sehingga Baghdad menjadi induk dunia, tuan negara dan tempat lahirnya peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah.

Demikianlah sejarah singkat pembangunan kota Baghdad yang nantinya, di masa Khalifah Harun al-Rasyid dan setelahnya menjadi kota metropolitan dengan penduduk terbanyak di dunia mencapai dua juta orang. Saingannya adalah kota Cordoba di Spanyol dibawah pemerintahan Islam dinasti Umawiyah dengan 500.000 jiwa.[7] Sementara itu, Paris, kota Kristen terbesar di Eropa, hanya mencapai 200.000 hingga 300.000 jiwa saja.[8]

Oleh: Mahardy Purnama



[1] Benson Bobrick, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad, terj. Kejayaan Sang Khalifah Harun al-Rasyid Kemajuan Peradababan Dunia pada Zaman Keemasan Islam (Cet.I; Ciputat: PT Pustaka Alvabet, 2013), h. 23
[2] Benson Bobrick, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad, h. 23-24.
[3] Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun (Beirut: Dar al-Fikr, 1421 H/ 2000 M), h. 247.
[4] Tim Riset dan Studi Islam Mesir, al-Mausuah al-Muyassarah, terj. Ensiklopedi Sejarah Islam (Cet.I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2013), h. 247.
[5] Benson Bobrick, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad, h. 26.
[6] Benson Bobrick, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad, h. 27.
[7] Raghib al-Sirjani, Madza Qaddama al-Muslimun li al-‘Alam Ishamaatu al-Muslimin fi al-Hadharah al-Insaniyah, terj. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia (Cet.I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), h. 765.
[8] Maurice Lombard, The Golden Age of Islam, (Cet.I; New York: North Holland Publishing Company, 1975), h. 144.

0 komentar:

Posting Komentar