Rabu, 13 Desember 2017

Panglima Penakluk Sisilia


Asad bin Furat

Pulau Sisilia merupakan pulau yang strategis dan terluas di Laut Tengah, serta paling melimpah sumber ekonominya. Orang-orang Romawi menguasai pulau ini selama beberapa waktu hingga kaum Muslimin datang ke sana.

Para panglima muslim seperti Muawiyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi’, Atha’ bin Rafi, hingga Abdurrahman bin Habib telah berusaha membuka pulau ini. Namun, kesuksesan sebenarnya baru terjadi pada masa Dinasti Aghlabiyah melalui panglimanya yang terkenal, Asad bin Furat.

Asad bin Furat adalah panglima besar kelahiran Harran, Syam pada 142 Hijriyah (759 M). Ayahnya adalah pejuang yang ikut membebaskan wilayah Maghrib. Ketika sang ayah pindah ke Qairuwan, Asad ikut serta ke sana. Sejak kecil Asad bin Furat telah menghafalkan Alqur’an seluruhnya. Setelah menyelesaikan hafalannya, ia mempelajari ilmu-ilmu syariah hingga ia ahli dalam bidang fiqih. Ia mempelajari kitab al-Muwattha’ langsung dari penulisnya, Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar di Madinah.

Setelah belajar dari Imam Malik, ia melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu ke Irak. Di sana, ia belajar kepada murid-murid terkemuka Imam Abu Hanifah seperti Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani dan Abu Yusuf Al-Qadhi. Dari mereka, ia belajar madzhab Hanafi. Dari Irak, ia kembali menjelajahi negeri Islam untuk belajar, hingga sampailah ia di Mesir.

Di Mesir banyak terdapat murid-murid Imam Malik, seperti Ibnu Wahab dan Ibnu Qasim. Dari kedua inilah Asad mempelajari madzhab Maliki lebih mendalam. setelah merampungkan pelajarannya kepada dua murid Imam Malik itu, Asad kembali ke Qairuwan pada tahun 181 Hijriyah. Dia telah mendatangi kota-kota, berpindah dari satu kota ke kota yang lain untuk belajar dari para ulama terkemuka. Dan ketika dia kembali ke Qairuwan, ia telah menjadi ulama kaum muslimin yang mencapai tingkat ijtihad.

Dalam diri Asad bin Furat telah tertanam rasa cinta terhadap jihad fi sabilillah. Ia telah mengambil keteladanan pada diri ayahnya yang merupakan seorang pejuang pembebas wilayah Maghrib. Maka ketika Ibnu Aghlab, gubernur Qairuwan, berencana mengirim pasukan menggunakan kapal laut untuk menyerang Pulau Sisilia, ia mengangkat Asad bin Furat sebagai panglimanya. Asad pun menerima tawaran itu, sekalipun ia telah menjadi ulama di Qairuwan, ia tidak melupakan jihadnya.

Bersama 10.000 pasukan, Asad bin Furat keluar dari Qairuwan menuju Laut Tengah, tepatnya di Pulau Sisilia. Armada Islam ini berangkat pada Rabi’ul Awwal 212 Hijriyah (827 M). Pulau itu dikuasai oleh bangsa Romawi Byzantium, mereka telah menanti Asad bin Furat dengan mengerahkan 100.000 pasukan. Jumlah yang sangat jauh melampaui jumlah pasukan Islam.

Menang Pertempuran

Asad bin Furat berdiri di hadapan pasukannya menyampaikan khutbah dan memberikan semangat kepada mereka. Ia memotivasi serta mengingatkan pasukannya bahwa surga sebagai balasan mereka karena menolong agama Allah. kemudian panglima gagah berani ini membacakan beberapa ayat Alqur’an. Setelah itu mereka maju berperang melawan tentara Sisilia yang sangat banyak jumlahnya.

Perang dahsyat meletus, terdengar suara gemerincing pedang-pedang yang beradu dan suara ringkikan kuda. Sementara itu, kaum muslimin terus memekikkan takbir. Atas pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran. Pasukan musuh serta pemimpinnya lari dari peperangan. Jumlah pasukan bukanlah satu-satunya syarat penentu kemenangan, melainkan ketakwaan. Dan inilah yang ditanamkan Asad bin Furat kepada pasukannya.


Setelah memenangkan pertempuran di Sisilia, Asad bin Furat melanjutkan perjalanannya menuju Palermo, satu kota di Italia. Mereka mengepung kota itu dengan ketat. Saat kota ini hampir berhasil dibuka, tiba-tiba kaum muslimin terserang wahab penyakit. Banyak kaum muslimin yang terjangkit penyakit ini, termasuk panglima mereka Asad bin Furat, yang saat itu telah berusia 70 tahun. Pada tahun 213 Hijriyah, ulama ini pun meninggal dan dimakamkan di sana, dalam keadaan berjihad fi sabilillah. Semoga Allah memberikan tempat tertinggi di sisi-Nya. 

Senin, 13 November 2017

Resensi: Alazhi Perawan Xinjiang

Alazhi, gadis Muslimah Uyghur harus menerima kenyataan bahwa kedua adiknya, Gulina dan Aisha meninggalkan rumah mereka di Kasygar, Provinsi Xinjiang demi mengejar mimpi mereka di Guangzhou, kota yang jauh lebih maju dan modern.

Kepergian Gulina dan Aisha membuat Alazhi berpikir untuk menyusul kedua adiknya untuk menjalani kehidupan dan karir yang lebih baik di Guangzhou. Terlebih setelah mendengar kata-kata Gulina dan Aisha kepadanya beberapa waktu lalu

“Apa yang dijanjikan kota ini untuk kita? Tidak ada. Kita hanya sibuk menabung untuk membeli perbekalan jika muslim dingin datang. Seperti bajing saja,” kata Gulina.

“Benar, Gulina, padahal kita semua sarjana. Tapi, gaji kita hanya cukup untuk membantu Ana menghidupkan tungku. Tapi, terutama aku sudah bosan dengan suasananya. Coba kau lihat majalah-majalah itu. Dunia luar begitu menawan. Kita bisa berkembang!” kata Aisha.

Namun, siapakah yang akan menjaga Dada dan Ana menjalani sisa hidupnya di rumah yang sederhana mereka? Sementara saudaranya yang tersisa hanyalah Yasen, adik laki-laki satu-satunya.
Terlebih lagi mereka, sebagai orang Uyghur, etnis minoritas di Cina selalu mendapat perlakukan tidak adil dari pemerintah. Mereka menjadi terpinggirkan di kampung sendiri. Untuk urusan ibadah pun mereka tidak bebas melaksanakannya.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan mempertimbangkan, Alazhi pun meninggalkan rumahnya  yang sederhana di Kasygar menuju kota modern, Guangzhou. Namun, bekerja di sana pun tidak mudah. Ia harus rela melepaskan hijabnya, yang menjadi identitasnya sebagai Muslimah selama ini. Ia rela meninggalkan Ana, Dada, dan Yasen, tanpa pamit pada mereka. Betapa besar rasa malu yang ditanggung Dada sebagai tokoh agama di Kasygar, saat orang-orang mengatakan putrinya lari dari rumah.

Tapi, sekalipun Alazhi telah melepaskan hijabnya, ia tetaplah seorang Uyghur. Etnis Muslim keturunan Turki yang lebih mirip orang Eropa ketimbang orang Cina asli yang bermata sipit. Dan karena itu ia tidak akan pernah lepas dari celaan mereka.

Setelah menjalani hidup di Guangzhou, Alazhi merasa rindu pada kampungnya. Rindu suasana rumahnya yang sederhana tapi sangat akrab dan harmonis. Tapi, malu telah menghinggapinya. Ia malu telah lari dari rumah dan meninggalkan Dada dan Ana begitu saja.

Alazhi perawan Xinjiang, novel menarik dan menguras perasaan. Novel yng menceritakan perjuangan Muslimah Uyghur yang memilih berkarir ke Guangzhou dan hidup modern di tengah gemerlapnya kota. Meskipun begitu, dia tidak merasa puas. Jiwanya sebagai muslimah Uyghur tetap ada dalam hatinya. Dan ingin kembali ke kota kelahirannya.

Nathayla Anwar, sang penulis dengan serius berkunjung langsung ke Xinjiang, dan bertemu dengan Alazhi, Muslimah Uyghur yang dijadikannya tokoh utama dalam novel ini.


Judul               : Alazhi Perawan Xinjiang Perjalanan Cinta Gadis Muslim Uyghur

Penulis            : Nathayla Anwar

Penerbit           : Qanita


Tebal               : 440 halaman

Kamis, 09 November 2017

Ibnu Rusyd, Ilmuwan Besar dari Cordoba

Patung Ibnu Rusyd di Cordoba, Spanyol
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lebih dikenal dengan Ibnu Rusyd. Ia lahir di Cordoba, Andalusia pada tahun 1126 M.

Minatnya pada ilmu pengetahuan sangat besar, sampai-sampai disebutkan bahwa sejak dewasa, Ibnu Rusyd tidak pernah absen dari kegiatan membaca dan keilmuan kecuali pada malam ayahnya meninggal dan malam pertama pernikahannya.

Pendidikan awalnya ditempuh di Cordoba. Di kota pusat peradaban dan ilmu pengetahuan ini dia belajar tafsir, hadits, fiqih, ushuluddin, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan kedokteran.

Setelah menamatkan pendidikannya, pada 1159 M, ia dipanggil oleh Gubernur Sevilla untuk membantu reformasi pendidikan di sana. Pada tahun 1169 M, ia diangkat menjadi hakim di Sevilla. Pengangkatan ini karena ilmunya yang luas dalam bidang hukum (fiqih) di samping kedekatannya dengan khalifah.

Ibnu Rusyd sangat mumpuni dalam bidang hukum dan menjadi orang yang paling ahli dalam soal khilafiyah (perbedaan pendapat) di zamannya. Bidayatul Mujtahid, bukunya yang ia tulis pada 1168 M menguraikan tentang sebab-sebab munculnya perbedaan pendapat dalam hukum (fiqih) dan alasannya masing-masing. Bukunya itu dinilai sebagai karya terbaik di bidangnya.

Setelah beberapa lama bertugas di Sevilla, Ibnu Rusyd kembali lagi ke kota kelahirannya, Cordoba. Di sana ia diangkat sebagai hakim agung pada tahun 1182 M. Namun, beberapa bulan kemudian ia pindah ke Marakesy untuk menggantikan Ibnu thufail sebagai penasihat khalifah.

Di Marakesy inilah, Ibnu Rusyd mencurahkan ilmunya untuk mendalami filsafat. Ulasan-ulasan panjangnya atas filsafat Aristoteles kebanyakan ditulisnya ketika berada di Marakesy. Karena kehebatannya menjelaskan filsafat Aristoteles, Dante Alighieri dalam bukunya “Divine Commedia”, memberi gelar kepada Ibnu Rusyd sebagai “commentator”, sang pengulas filsafat Aristoteles.

Akan tetapi pada 1195 M, ia terkena mihnah, fitnah sehingga ia dibuang ke Lucena, di kepulauan Atlantik. Kemudian buku-bukunya dibakar di depan umum dan pemikirannya tentang filsafat dan sains dilarang untuk disebar luaskan, kecuali kedokteran dan astronomi. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Khalifah segera menarik kembali Ibnu Rusyd dan mengembalikan nama baiknya.
Pada tahun 1198, Ibnu Rusyd meninggal dunia di Marakesy dalam usia 72 tahun dan jenazahnya dibawa ke Cordoba untuk dimakamkan di sana.


 Karyanya di Berbagai Bidang

Ibnu Rusyd banyak menghasilkan karya tulis. Setelah diteliti, karya-karyanya berhasil diidentifikasi berjumlah 78 buah judul buku, meliputi 28 buah dalam bidang filsafat, 20 dalam bidang kedokteran, 5 buah dalam bidang ushuluddin (teologi), 8 buah dalam bidang hukum (fiqih), 4 buah dalam bidang astronomi, 2 dalam bidang sastra dan 11 buah dalam ilmu-ilmu lainnya.

Karya-karyanya dalam bidang teologi di antaranya, “Al-Kasyf ‘an Manahij Al-Adillah fi Aqaid Al-Millah”, “Fashl Al-Maqal fima bainal Hikmah wa Asy-Syariah min Al-Ittishal”. Dalam bidang hukum, karyanya yang paling terkenal adalah “Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid”. Karyanya dalam bidang astronomi antara lain “Maqalah fi Jirm As-Samawi” (Uraian benda-benda langit), dan “Maqalah fi Harakah Al-Falak” (Gerak Langit).

Dalam bidang kedokteran, ia menulis buku berjudul “Al-Kulliyat fi Ath-Thibb”, ensiklopedi kedokteran dalam tujuh jilid. Sedangkan dalam bidang metafisika antara lain “Syarh Kitab Ma Ba’da At-Thabiah li Aristhuthalis dan Maqalah fi ‘Ilm An-Nafs”.

Averroeisme di Eropa

Ibnu Rusyd memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran di Eropa. Orang Eropa menyebutnya Averroes. Pengaruh Ibnu Rusyd memunculkan gerakan Averroeisme di Eropa yang menuntut pembebasan dari belenggu taklid pemikiran gereja. Dari gerakan Averroeisme inilah lahir reformasi di Eropa pada abad ke-16 dan rasionalisme pada abad ke-17 M.

Beberapa buku karya Ibnu Rusyd beberapa kali dicetak di Eropa. Antara lain di Venezia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Juga diterbitkan di Napoli, Bologna, Lyon, dan Strasbourg pada abad ke-16. Serta di Jenewa pada abad ke-17.


Pengaruh-pengaruh peradaban Islam, termasuk pemikiran Ibnu Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda Kristen Eropa yang belajar di berbagai universitas Islam di Andalusia (Spanyol), seperti Universitas Cordoba, Universitas Sevilla, Malaga, dan Granada. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan Islam. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali ke negeri mereka dan mendirikan sekolah atau universitas serupa. Universitas pertama di Eropa.

Panglima Perang Mu’tah (2)


Khalid bin Walid adalah tokoh kunci kemenangan kaum musyrikin Makkah atas pasukan kaum Muslimin pada Perang Uhud. Namun, ketika hidayah Islam menyapanya, ia berbalik menjadi pejuang Islam yang tak terkalahkan.

Seperti dikisahkan sebelumnya, Khalid bin Walid berhasil memenangkan pasukan Islam atas pasukan Romawi pada perang Mu’tah padahal sebelumnya umat Islam hampir saja menderita kekalahan dan tiga panglima, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah, telah syahid. karena itulah ia dijuluki Pedang Allah yang Terhunus oleh Rasulullah.

Kehebatan Khalid tidak hanya pada Perang Mu’tah saja. Setelah itu ia selalu ikut berperang bersama pasukan Islam di barisan paling depan pada Perang Tabuk dan Perang Hunain. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, banyak kabilah Arab yang murtad dan bergabung melakukan pemberotakan terhadap ummat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Beberapa kabilah yang ikut dalam pemberontakan adalah kabilah Asad, Ghatfan, Abbas, Dzubyan, Thaik, Bani Amir, Hawazin, Salim dan Bani Tamim. Mereka berhasil menghimpun kekuatan besar dengan jumlah puluhan ribu pasukan. Selain mereka penduduk Bahrain dan Oman juga ikut bergabung.

Pemberontakan tersebut semakin hari semakin membahayakan. Akhirnya Khalifah mengirim pasukan untuk memerangi mereka. Ia membagi pasukan menjadi 11 pasukan. Setiap pasukan diberi tugas masing-masing dan Khalid bin Walid terpilih sebagai panglima besar. Saat memberikan bendera kepada Khalid, Khalifah Abu Bakar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan adalah Khalid bin Walid. Dia adalah sebilah pedang dari pedang-pendang Allah yang dihunus untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik.”

Perang Riddah atau perang melawan orang-orang murtad adalah salah satu perang tersengit dalam sejarah. Saat itu, Musailamah sang nabi palsu menghimpun kekuatan bersama kabilah-kabilah lainnya di Yamamah. Beberapa kali pasukan Islam berhadapan dengan pasukannya namun belum dapat dikalahkan.

Lalu tiba giliran Khalid bersama pasukannya bertempur melawan nabi palsu itu. Dua pasukan saling menyerang dan banyak korban yang berjatuhan dari kubu muslimin. Semangat pasukan Islam semakin kendur karena serangan pasukan Musailamah. Namun, khalid berhasil mengembalikan kekuatan dan menyemangati pasukan.

Ia naik ke atas bukit dan mencari titik kelemahan pasukan Islam agar dapat dibenahi. Ia memanggil semua pasukan dan menyusun kembali strategi. Ia menyuruh setiap kabilah membentuk regu tersendiri. Dari Muhajirin satu regu dan Anshar juga satu regu. Dengan gema takbir dan tahlil pasukan bergerak menyerang. Dalam sekejap arah pertempuran berbalik. Ribuan pasukan Musailamah berjatuhan dan umat Islam akhirnya meraih kemenangan.


 Wafatnya Sang Pedang Allah

Khalid bin Walid telah mengikuti banyak perang bersama umat Islam baik sebagai pemimpin maupun prajurit. Di badannya terdapat banyak bekas tusukan tombak dan pedang. Namun Allah berkehendak lain, ia memilih hambanya itu meninggal di atas ranjangnya.

Saat ajal hendak menjemputnya, ia menangis. Menangis bukan karena takut kematian. Melainkan menangis karena kerinduannya untuk syahid di medan pertempuran sebagaimana para sahabat nabi lainnya seperti Mush’ab bin Umair, Ikrimah, Ja’far bin Abi Thalib, dan lainnya.

Ia berkata, “Aku ikut dalam berbagai pertempuran. Seluruh tubuhku penuh bekas luka pedang, tombak, dan panah. Kini, aku akan mati di atas ranjang seperti matinya seekor unta.” Khalid meninggal di Homs pada bulan Ramadhan tahun 21 Hijriah di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Pujian Bagi Khalid bin Walid

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Khalid bin Walid adalah Pedang Allah yang Terhunus.”

Rasulullah juga bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan adalah Khalid bin Walid.”

“Demi Allah, akan kusembuhan kegelisahan mereka dengan (hadirnya) Khalid,” kata Khalifah Abu Bakar ketika pasukan Muslimin merasa gentar menghadapi Romawi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh, Romawi akan melupakan gangguan setan disebabkan Khalid bin Walid.”

Umar bin Khatthab berkata, “Tak ada seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan laki-laki seperti Khalid.” 

Umar bin Khattab berkata saat meninggalnya Khalid, “Biarkan para wanita Bani Makzum menangisi Abu Sulaiman (Khalid bin Walid), karena sesungguhnya mereka tidak berdusta. Sesungguhnya orang seperti Abu Sulaiman akan ditangisi oleh siapapun.”



Panglima Perang Mu’tah (1)


Tokoh kali ini adalah ahli siasat, panglima perang, Sang Pedang Allah yang terhunus. Dialah Khalid bin Walid bin Mughirah. Lahir di Mekah sekitar 20 tahun setelah lahirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Khalid memiliki nasab dan kedudukan yang tinggi. Ayahnya, Walid bin Mughirah salah satu pembesar Quraisy yang kaya raya, selalu memberi makan dan minum kepada jamaah haji yang datang ke Baitullah. Meskipun begitu, Walid bin Mughirah sangat membenci Rasulullah dan selalu menentang dakwah beliau.

Khalid memiliki enam saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Sejak kecil dia telah berlatih menunggang kuda dan mahir dalam memainkan pedang. Karena kemahirannya itu ia dijadikan salah satu komandan kavaleri Quraisy.

Ketika dakwah Islam muncul, Khalid tidak serta merta memeluk Islam. Ia bahkan menjadi penentang ummat Islam di Perang Uhud. Pada perang tersebut, Khalid memainkan peran utama dalam mengalahkan kaum Muslimin. Hal itu disebabkan terbunuhnya pasukan pemanah kaum muslimin yang masih tersisa di atas bukit. Khalid berputar mengelilingi tentara Muslimin dan menusuknya dari belakang membuat barisan Muslimin kocar kacir sehingga banyak yang terbunuh.

Dari waktu ke waktu, Khalid terus memikirkan kebangkitan agama Islam yang kian berkibar. Dan ia sangat ingin bergabung di dalamnya. Hingga akhirnya Allah memberinya hidayah dan memantapkan hatinya masuk Islam. Ia pun meninggalkan Mekah menuju Madinah untuk menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah.

Sebelum ke Madinah, Khalid terlebih dahulu bertemu dengan Utsman bin Thalhah dan menceritakan keinginannya masuk Islam. Ternyata Utsman setuju dan ia juga ingin masuk Islam. Tak lama mereka berdua bertemu dengan Amr bin Ash. Dan ternyata Amr juga ingin bertemu Rasulullah untuk menyatakan keinginannya masuk Islam.

Pada tanggal 1 Shafar tahun 8 Hijriah, mereka bertiga tiba di kota Rasul. Ketika bertemu dengan Rasulullah, Khalid mengucapkan salam, dan Rasulullah membalas salamnya dengan wajah penuh keceriaan. “Sejak dulu, aku mengetahui bahwa engkau memiliki kecerdasan. Dan aku selalu berharap kecerdasanmu itu hanya digunakan untuk kebaikan,sabda Rasulullah pada Khalid.

Kemudian Khalid meminta agar dimohonkan ampun atas semua kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu. Terutama karena memerangi kaum Muslimin. Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya, keislaman itu menghapus segala perbuatan buruk di masa lalu....” Rasulullah kemudian mendoakannya, “Ya Allah ampunilah Khalid bin Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu.” Keislaman Khalid disusul Amr dan Utsman bin Thalhah.

Melawan Pasukan Romawi

Perang Mu’tah adalah perang pertama yang diikuti Khalid bin Walid bersama ummat Islam. Dalam perang melawan Romawi tersebut, tiga panglima Islam gugur sebagai syahid. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah Radhiyallahu Anhum. Maka dengan cepat Tsabit bin Arqam mengangkat bendera dan memberikannya kepada Khalid.

Awalnya Khalid menolak karena merasa tidak pantas. Namun Tsabit meyakinkannya, “Ambillah, karena engkau lebih tahu dan berpengalaman tentang peperangan dibanding aku.” Semua pasukan setuju Khalid mengambil alih komando pasukan.

Khalid mengambil bendera lalu memimpin kaum Muslimin. Dengannya Allah menyelamatkan pasukan. Khalid berkata, “Aku telah mematahkan sembilan pedang musuh. Semuanya patah di tanganku kecuali pedang dari Yaman (Pedang yang lebar mata pedangnya). Karena peristiwa inilah Rasulullah memberinya julukan Saifullah, Sang Pedang Allah.

Keutamaan Khalid bin Walid     

Sahabat Rasulullah yang masuk Islam tahun 8 Hijriah.

Rasulullah memberinya julukan Saifullah al-Maslul (pendang Allah yang terhunus).

Berasal dari klan Makzhum, salah satu klan terhormat di Mekah.

Setelah masuk Islam, ia terus berjuang bersama Rasulullah.

Memerangi para murtaddin setelah Rasulullah wafat.

Menjadi komandan perang di masa Khalifah Abu Bakar.

Membebaskan negara Persia.

Membebaskan wilayah Syam.



Senin, 30 Oktober 2017

Sejarah Islam Untuk Pemuda Muslim


Islam memiliki sejarah panjang lebih dari 1400 tahun. Dalam masa yang tidak singkat itu, telah terjadi banyak peristiwa yang tercatat sebagai peristiwa-peristiwa penting. Ada masa-masa perjuangan, masa penaklukan, masa kejayaan, masa kelemahan, hingga masa keruntuhan suatu daulah atau dinasti Islam.

Buku “Sejarah Islam Untuk Pemuda Muslim” mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam itu. Dimulai sejak masa kelahiran Rasulullah, menyebarkan dakwah Islam di Makkah, membentuk negara Islam di Madinah, sampai beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.

Buku ini juga mengisahkan pembebasan negeri-negeri pada masa Khalifah Umar bin Khatthab dan Utsman bin Affan. Mesir, Palestina, dan Iran berhasil dikuasai pada masa Umar. Pada masa Utsman, Siprus, negeri di kawasan Laut Tengah berhasil ditaklukkan. Setelah itu, kekuasaan Islam semakin meluas di masa Dinasti Bani Umayyah. Pada masa ini kekuasaan Islam di wilayah Timur mencapai Cina. Sedangkan di wilayah Barat, kekuasaan Islam mencapai daratan Spanyol, Andalusia.

Di masa kejayaan Islam, ada dua kota yang menjadi pusat peradaban Islam, yaitu Baghdad dan Cordoba. Di Baghdad lahir ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Ar-Razi, Al-Khawarizmi, dan Ibnul Haitsam. Sementara di Cordoba, terdapat nama-nama besar seperti Ibnu Firnas yang pernah melakukan percobaan penerbangan pertama di dunia dan Az-Zahrawi, ahli bedah dari Andalusia.
Selain masa kejayaan, buku ini juga mencatat masa keruntuhan pusat peradaban Islam di atas. 

Cordoba lebih dahulu direbut oleh pasukan Kristen Spanyol. Sedangkan Baghdad dihancurkan pasukan Mongol (Tatar) pada tahun 1258. Pasukan Mongol membunuh penduduk Baghdad yang terdiri dari keluarga kerajaan, para ulama dan ilmuwan, sampai rakyat biasa. Tidak ketinggalan buku-buku di seluruh perpustakaan Baghdad dihanyutkan di Sungai Tigris hingga warna sungai berubah menjadi hitam karena tinta buku. Buku-buku berharga hasil karya ilmuwan muslim selama ratusan tahun lenyap dalam sekejap. (hal. 162)

Dalam buku ini, penulis juga meluruskan beberapa fakta sejarah yang didistorsi. Benua Amerika yang selama ini diketahui ditemukan oleh Christoper Columbus, seorang pelaut asal Italia, ternyata telah lebih dahulu didatangi oleh pelaut Muslim. Sebuah dokumen Cina, mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu Lan Pi. Kata ini berarti Amerika. Tidaklah mengherankan jika pada hari ini banyak nama kota atau daerah yang bernuansa islami di Amerika. Di antaranya Alhamra di wilayah Los Angeles, yang diambil dari nama istana Islam di Granada, Andalusia. Ada pula Mecca di Indiana, Medina di Idaho, New York, Ohio, dan Texas, serta Kuba yang kemungkinan besar diambil dari kata Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah di Madinah. (hal. 234)

Pada abad ke-15 mulailah bangsa Eropa menjajah negeri-negeri Islam, termasuk di Nusantara Indonesia. Pada masa kedatangan Portugis ke Nusantara, telah lama berdiri kerajaan-kerajaan atau kesultanan Islam. Di antaranya Kesultanan Samudera Pasai di ujung pulau Sumatera, Kesultanan Demak di pulau Jawa, dan Kesultanan Ternate dan Tidore di pulau Maluku. Ummat Islam, yang dipimpin para sultan dan para ulama inilah yang melakukan perlawanan jihad fi sabilillah melawan para penjajah.

“Sejarah Islam Untuk Pemuda Muslim” sangat menarik karena dikisahkan dengan gaya bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh para pemuda Islam atau mereka yang buta akan peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam.

Judul Buku          : Sejarah Islam Untuk Pemuda Muslim

Penulis                : Mahardy Purnama

Tebal                  : 290 halaman

Penerbit              : Al Qalam Media Lestari


Cetakan              : Pertama, 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Jejak Islam di Sevilla

Bekas Ibu Kota Islam Spanyol                  



     
Sevilla, salah satu kota di Spanyol yang terkenal dengan sepak bola-nya ini pernah menjadi ibu kota pemerintahan Islam. Pada zaman kuno, Sevilla bernama Hispalis. Setelah Spanyol (Andalusia) dikuasai ummat Islam, Hispalis diubah menjadi Isybiliyah. Dan orang Eropa hingga kini menyebutnya Sevilla.

Kota yang berada di ketinggian tujuh meter di atas permukaan laut ini pernah dikuasai oleh Julius Caesar sehingga nama kota ini kala itu juga dikenal dengan sebutan “Colonia Julia Romula”. Setelah kekuasaan Romawi berakhir, kota ini diduduki oleh bangsa Vandal dan dijadikan ibu kota kerajaan mereka.

Ummat Islam mulai memasuki kota yang terletak di bagian selatan Semenanjung Iberia (Spanyol) ini pada tahun 712 M lewat pasukan Dinasti Umawiyah di bawah pimpinan Musa bin Nushair. Di masa gubernur Abdul Aziz bin Musa bin Nushair, kota bernama Hispalis ini diganti menjadi Isybiliyah dan dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan Islam di Andalusia. Namun, beberapa tahun kemudian setelah berganti kekuasaan, ibu kota Andalusia dipindahkan ke Cordoba.

Bangsa Viking sempat menjarah kota ini pada tahun 844 selama 42 hari. Bangsa penjarah masuk melalui Sungai Guadalquivir. Peristiwa ini terjadi pada masa Khalifah Abdurrahman II. Pasukan Islam berhasil mengalahkan mereka setelah pertempuran yang terjadi selama 100 hari. Sebanyak 35 dari 45 kapal Viking berhasil ditenggelamkan. Sepuluh tahun kemudian mereka kembali datang, namun berhasil dipukul mundur.

Sevilla mencapai masa keemasannya pada masa Khalifah Abdurrahman III. Akan tetapi setelah pemerintahan Umawiyah runtuh, Sevilla memisahkan diri dari pemerintahan pusat di Cordoba. Ia dipimpin oleh hakim agung Muhammad bin Ismail bin Abbad sejak tahun 1023.

Pada tahun 1091, kota yang terletak di tepi Sungai Guadalquivir ini kembali berganti kekuasaan, dari Dinasti Abbadiyah ke Dinasti Al-Murabithun. Dinasti Al-Murabithun cukup lama berkuasa di Sevilla. Mereka mempertahankan kota ini dari serangan kaum Salib pimpinan Raja Alfonso dari Castilla. Penguasa dinasti ini yang terkenal adalah Yusuf bin Tasyfin. Dialah yang mendirikan Daulah Al-Murabithun di Andalusia, setelah menyeberang dari Marakesy di Afrika Utara.

Setelah Daulah Al-Murabithun berakhir, kota ini dikuasai oleh Dinasti Al-Muwahhidun pada tahun 1145. Namun, seabad kemudian, dinasti yang meninggalkan sejumlah bangunan bersejarah di kota ini, termasuk istana “La Buhaira” dan Menara “La Giralda”, akhirnya harus melepaskan kota ini ke tangan Raja Ferdinand III pada tahun 1248 M, setelah sebelumnya dikepung selama enam belas bulan. Runtuhnya Dinasti Al-Muwahhidun di Sevilla menandakan akhir pemerintahan Islam di kota itu sejak kedatangan Islam di masa Musa bin Nushair tahun 712 M.

Menara Giralda




Giralda adalah sebutan yang diberikan warga Spanyol terhadap menara Masjid Agung Sevilla. Masjid ini terletak di distrik Santa Cruz. Dibangun oleh Sultan Abu Ya’qub Yusuf bin Abdul Mun’im, penguasa kedua Dinasti Al-Muwahhidun, pada tahun 1172 M dan baru selesai pada tahun 1198 M. 

Ketika Sevilla jatuh ke tangan pasukan Spanyol di bawah pimpinan Raja Ferdinand III pada 1248, masjid tersebut diubah menjadi Katedral Sevilla. Sementara itu, menaranya yang memiliki tinggi 96 meter diubah menjadi tempat lonceng yang berlanggam renaisans pada tahun 1585.

Selain sebagai menara, Giralda juga dimanfaatkan kaum muslimin sebagai observatorium astronomi. Konon, menjelang kejatuhan Sevillah ke tangan pasukan Spanyol, kaum muslimin berniat membumihanguskan Masjid Agung Sevilla beserta Giralda karena mereka tidak ingin bangunan yang indah itu jatuh ke tangan musuh. Namun, karena pangeran Alfonso X mengancam, jika bangunan itu dibumihanguskan, seluruh kaum muslimin Sevillah akan dibunuh.



Pada akhirnya, bangunan itu dapat diselamatkan. Di tempat inilah Nicolas Copernicus mengkaji khazanah astronomi yang ditinggalkan Raja Alfonso X, berjudul Tablas Astronomicas Alfonsies.

Kamis, 05 Oktober 2017

Bukit Penyaliban di Jerusalem

Bukit Golgota Tempat Yesus Disalib       
                  

Ummat Kristiani meyakini bahwa Yesus (Nabi Isa) mengorbankan dirinya ditiang salib demi menebus dosa ummat manusia. Mereka juga percaya bahwa penyaliban Yesus terjadi di Golgota, sebuah bukit berbentuk tengkorak.

Dalam kepercayaan Kristen, jalan-jalan yang dilalui Yesus menuju proses penyaliban dijadikan sebagai tempat suci. Setidaknya, ada 14 tempat yang diyakini merupakan jalan Yesus menuju tiang salib. Mereka menamakan 14 jalan (stasi) itu dengan Jalan Salib.

Dalam Injil Yohanes dicatat pula, di tempat Yesus disalib ada sebuah taman. Di dalam taman itu ada sebuah kuburan baru yang belum pernah dipakai untuk penguburan orang. Karena kuburan itu dekat dan hari Sabat (Sabtu) hampir mulai, mereka menguburkan Yesus di sana (Yoh 19: 41-42).


Bukit Golgota sejak dahulu dipandang oleh ummat Kristiani sebagai tempat suci. Seratus tahun sesudah Yesus disalib, Kaisar Adrianus yang anti-Kristen, menyuruh menutupinya dengan bangunan Kapitol. Demikian keadaannya hingga awal abad ke-4.

Pada tahun 326 M, setahun sesudah Konsili Nicea, tempat-tempat suci itu dibuka kembali setelah bangunan-bangunan Roma dirobohkan. Lalu, pada tahun 335 M didirikan sebuah Basilika indah yang disebut Basilica Constantina (dari nama Kaisar Konstantin). Basilika yang pertama terdiri dari tiga bagian: 1) Anastasis, yaitu bangunan makam kosong dalam bentuk rotunda. 2) Taman Yusuf dari Arimatea berbentuk pelataran. 3) Martyrion, yaitu basilika luas untuk liturgi.

Selain tempat penyaliban dan makam Yesus, di Bukit Golgota juga terdapat sejumlah tempat yang disucikan oleh orang Kristen. Di antaranya, halam Basilika (makam suci). Halaman makam ini panjangnya sekitar 25 meter dan lebarnya 17 meter. Di sebelah barat halaman itu ada tiga kapel, yaitu Kapel Santo Yakobus, Kapel Santo Yohannes, dan Kapel 40 Martir Suci.

Di sebelah timur atau bagian kanan halaman terdapat Biara Ortodoks Yunani Santo Abraham, Kapel Santo Yohanes untuk ummat Armenia, dan Kapel Santo Mikhael untuk umat Kopt. Di sebelah barat menjulang menara lonceng yang didirikan pada tahun 1160-1180 M. di sebelah kiri ada pula delapan anak tangga yang membawa peziarah ke Kapel bunda Maria.

Di tempat ini juga terdapat sebuah batu yang dipercaya sebagai tempat pengurapan jenazah Yesus. Warnanya merah muda, memiliki panjang 270 cm, lebar 130 cm, dan tinggi 30 cm, diletakkan hampir rata dengan lantai. Batu itu mengenang peristiwa pengurapan jenazah Yesus yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.

Kapel Bunda Maria

Di Golgota ini juga dipercaya terdapat tempat penampakan Yesus kepada ibunya, yaitu Kapel Bunda Maria Magdalena. Pada altar samping tampak sebuah tiang patah yang tingginya sekitar 75 cm. Berabad-abad lamanya dihormati sebagai Tiang Penyesahan Yesus. Di belakang kapel ini terletak biara kecil para biawarawan yang bertugas di basilika.

Setelah keluar dari Kapel Penampakan, dengan mengarah ke timur, peziarah melewati tujuh lengkungan yang dinamakan Lengkungan-lengkungan Perawan Suci. Di bagian ini dapat dilihat sejumlah tiang dan lengkungan kuno. Di ujungnya terdapat Penjara Kristeus. Di penjara inilah ummat Kristen meyakini Yesus menunggu saat dieksekusi.

Terdapat pula sejumlah tiang salib yang dipercaya sebagai tiang yang digunakna untuk menyalib Yesus. Tiang-tiang salib itu ditemukan pada awal abad ke-4 M. Konon, Ratu Helena dan Uskup Yerusalem, Makarios, mengenali salib Yesus berkat penyembuhan ajaib seroang wanita yang sedang menghadapi ajalnya dan diletakkan di atas salib asli Yesus.

Nabi Isa Tidak Disalib

Berbeda dengan ummat Kristiani yang percaya Nabi Isa (Yesus) disalib, ummat Islam meyakini bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa melainkan seseorang yang Allah serupakan wajahnya dengan Nabi Isa. Orang yang diserupakan dengan Nabi Isa itulah yang sebenarnya dibunuh oleh orang-orang Yahudi, bukan Nabi Isa.

Adapun Nabi Isa, maka Allah telah mengangkatnya ke langit. Allah berfirman, “...Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 157-158).

Kelak menjelang hari kiamat, Nabi Isa akan turun kembali ke dunia. Tepatnya di menara putih yang terletak di sebelah timur kota Damaskus, Suriah. Tepatnya di bagian sebelah timur Masjid Jami’ Umawy, Damaskus. Sampai hari ini menara putih ini masih berdiri kokoh. Rasulullah bersabda, “Isa bin Maryam akan turun di menara putih, sebelah Timur Damaskus.”

Misteri Kematian Yesus

-Kaum Kristen meyakini Yesus (Isa) disalib dan wafat di tiang salib demi menebus dosa ummat manusia.

-Kaum Kristen meyakini penyaliban itu terjadi di bukit Golgota, Jerusalem.

-Di Golgota terdapat tempat-tempat suci yang diyakini oleh ummat Kristiani.

-Menurut keyakinan ummat Islam, Yesus (Isa) tidak disalib, tetapi Allah mengangkatnya ke sisi-Nya.

-Ummat Islam meyakini, Yesus (Isa) akan turun di akhir zaman di menara putih kota Damaskus.

-Diangkatnya Isa dan turunnya menjelang akhir zaman bagian dari aqidah ummat Islam.

Jembatan Mostar di Bosnia Herzegovina


Jembatan Bersejarah Dibangun Turki Utsmani

Turki Utsmani (Ottoman) pernah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-15 sampai ke-16. Pada masa itu wilayah kekuasaannya mencapai Eropa. Bosnia merupakan salah satu wilayah kekuasaannya.

Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman Caliph) meninggalkan banyak penginggalan bersejarah di Bosnia. Di antaranya adalah jembatan indah yang membentang antara dua sisi tersempit di atas Sungai Neretva, yang dikenal dengan Jembatan Mostar (Mostar Bridge). Disebut Jembatan Mostar karena ia terletak di kota Mostar, Bosnia-Herzegovina.

Jembatan ini dibangun oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni dari Dinasti Utsmaniyah pada tahun 1557 M. Sultan Sulaiman melihat lokasi strategis kota Mostar, yang menghubungkan antara Laut Adriatik dan kawasan pedalaman serta menghubungkan berbagai kota di wilayah tersebut sehingga ia memerintahkan pembangunan jembatan di atas Sungai Neretva.

Rancangan jembatan ini disiapkan seorang arsitek Turki yang masyhur masa itu bernama Mimar Hayruddin. Mimar Hayruddin adalah murid dari arsitek terkemuka Turki Utsmani pada abad pertengahan, Sunan Pasya. Dinasti Turki Utsmani memang memiliki arsitek-arsitek hebat di masa jayanya.

Jembatan Mostar yang dirancang Mimar Hayruddin tersebut membentang sepanjang 29 meter dan lebar 4 meter. Seluruh bangunan ini dibuat dari batu tenelija (batu kapur lokal) yang terkenal memiliki daya tahan fisik dan kimiawi yang bagus. Di setiap sisi jembatan itu dibuatkan sebuah menara (mostari) yang menjadi tempat berdiri para penjaga jembatan.

Menara yang tegak di tepi sebelah barat Sungai Neretva itu disebut Menara Halebinova atau Menara Celovina. Sementara itu, menara yang tegak di tepi sebelah timurnya disebut Menara Tara atau Menara Hercegusa.

Pada 9 November 1993, Jembatan Mostar mengalami nasib yang malang ketika kawasan Bosnia-Herzegovina dilanda perang antar etnis pada tahun 1992 sampai tahun 1995 M. Kala itu pihak Kroasia sengaja menghancurkan jembatan lama Mostar yang merupakan simbol multikulturalisme yang masih bertahan di kawasan itu.


Masyarakat internasional yang menaruh perhatian atas penghancuran jembatan historis tersebut segera mendorong pembangunan jembatan baru. Dengan tetap menggunakan batu-batu tenelija, akhirnya pada 23 Juli 2004 M atau 6 Jumadil 1425 menurut kalender Hijriyah, jembatan Mostar baru terbangun di tempat jembatan Mostar lama.

Kisah Sang Arsitek

Sultan Kekhalifahan Utsmani pernah bersumpah akan mengeksekusi sang arsitek Mimar Hayruddin jika jembatan Mostar runtuh setelah penyokong kayunya dihapus. Disebutkan bahwa Hayruddin mulai menggali kuburnya sendiri pada hari ia menghilangkan penyokong kayu pada jembatan tersebut.

Namun, eksekusi itu tidak terjadi karena jembatan Mostar tetap berdiri selama beratus-ratus tahun lamanya, sampai pasukan Kroasia menghancurkannya dan akhirnya dibangun kembali pada 2004. Hal itu membuktikan bahwa jembatan ini dibangun dengan desain dan konstruksi yang sangat baik. Ia menjadi contoh teknoogi canggih di masa itu. keindahan dan sejarahnya membuat jembatan ini dijadikan situs Warisan Dunia pada abad ke-20.

Pembangunan kembali jembatan ini pada tahun 2004 melambangkan penyatuan kembali kota Mostar dan menjadi bagian dari proses pemulihan kota multi etnis ini pasca perang panjang. Sampai saat ini jembatan Mostar masih menjadi landmark yang paling ikonik dari Bosnia-Herzegovina.

Islam di Bosnia

- Islam pertama kali masuk ke Bosnia pada abad ke-15 ketika pasukan Turki Utsmani berhasil menguasai wilayah tersebut.

- Bosnia-Herzegovina adalah negeri di Eropa yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Terhitung 51 persen penduduknya beragama Islam, 30 persen Kristen Ortodoks, dan 15 persen Katolik Roma.

- Jumlah ummat Islam di Bosnia sekitar 1,7 juta jiwa.

- Jembatan Mostar menjadi bukti historis kejayaan Islam di Bosnia.

- Jembatan Mostar dibangun pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni.

Minggu, 20 Agustus 2017

Ulama Nasional Penulis Ratusan Buku

Buya Hamka
Jasadnya memang sudah lama tiada, tapi karya-karyanya yang masih tetap hidup dan dibaca oleh jutaan ummat Islam pada hari ini. Dia adalah ulama kharismatik Haji Abdul malik Karim Amrullah.

Tokoh kelahiran Maninjau, Sumatera Barat 17 Februari 1908 ini dikenal dengan nama Hamka. Singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ayahnya, Syaikh Dr. Abdul Karim Amrullah seorang ulama besar di Minangkabau, pendiri Madrasah Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di madrasah itulah Hamka belajar agama dan bahasa Arab.

Setelah melewati masa kecil belajar di Sumatera Thawalib, pada tahun 1924 Hamka merantau ke Pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta. Di sana, ia belajar dari tokoh-tokoh Sarikat Islam (SI) seperti HOS Cokroaminoto, Haji Fachruddin, RM Soeryopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Baru setahun di Jawa, Hamka diminta pulang oleh sang ayah untuk membantunya mengembangkan “Muhammadiyah” di Padang Panjang. Hamka akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di usia 17 tahun. Ketika pulang, ia banyak dipuji oleh orang-orang di kampungnya. Hamka disebut-sebut sebagai penerus Dr. Abdul Karim Amrullah sebagai ulama besar di Minangkabau.

Ketika sekolah Muhammadiyah dibuka di Padang Panjang, Hamka melamar menjadi guru. Tetapi ia ditolak karena tidak memiliki ijazah diploma. Merasa kecewa, Hamka pun berniat menimba ilmu ke Makkah. ia berusaha sendiri agar bisa ke sana. bagi Hamka, Makkah adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu agama lebih dalam. Ia hanya menyampaikan niatnya itu kepada kakeknya. Adapun ayahnya tidak mengetahui.

Dengan bekal seadanya, Hamka berhasil ke Makkah menaiki kapal laut miliki Belanda. Di Makkah dia bermukim di rumah Syaikh Amin Idris. Selama di Makkah, Hamka berusaha memperlancar bahasa Arabnya walaupun dengan sesama orang Indonesia yang bermukim di sana. Hidupnya di sana tidak mulus, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Hamka bekerja sebagai pegawai di sebuah percetakan. Di sela-sela pekerjaannya dari pagi sampai sore, ia memanfaatkan waktu istrahatnya dengan membaca berbagai macam buku yang tedapat di gudang percetakan itu.

Hamka ingin tinggal lebih lama di Makkah untuk menimba ilmu lebih banyak lagi. Namun, sekitar tujuh bulan di sana, ia bertemu dengan Haji Agus Salim. Orang yang dihormati Hamka itu menyuruhnya untuk pulang ke Tanah Air. Atas nasihat Haji Agus Salim, Hamka pun kembali ke Nusantara setelah melakukan ibadah haji. Dengan begitu, di usianya yang masih 18 tahun, Hamka telah memiliki gelar Haji di depan namanya. Haji Malik.

Setelah pulang ke Padang Panjang, Dr Abdul Karim Amrullah sangat terharu melihat kedatangan putranya yang telah “menghilang” tujuh bulan lamanya. Ia merasa bangga melihat putranya itu yang akan menjadi penerusnya sebagai ulama dan sastrawan. Apalagi telah membawa pulang “titel” haji.

Menulis di Surat Kabar

Pada kurun tahun 1930-an, Hamka ke Medan, di sana ia dipercaya mengisi rubrik Tasawuf Modern majalah Pedoman Masyarakat yang terbit setiap pekan. Tulisannya dapat memikat para pembaca baik yang awam maupun kalangan terpelajar. Hal itu juga yang menjadi media penghubung dirinya dengan para tokoh intelektual lainnya seperti M.Natsir, Muhammad Isa Anshari, dan Hatta.

Meskipun tidak memiliki ijazah formal, Hamka tidak menyerah. Ia adalah seorang autodidak. Banyak bidang ilmu yang dikuasainya, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Dia juga mahir berbahasa Arab yang dengan itu dia dapat meneliti berbagai karya-karya besar para intelektual Islam di Timur dan Barat.

Hamka juga seorang aktivis dakwah. Dia aktif di Muhammadiyah untuk waktu yang sangat lama dan dengan berbagai jabatan yang telah diembannya. Pada tahun 1977, Hamka dilantik sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan demikian, dia adalah Ketua MUI pertama padahal dia tidak memiliki ijazah dan pendidikan formal. Tapi ilmunya cukup membuat orang-orang yakin mengangkatnya sebagai ketua.

Penulis Produktif

Sampai hari ini orang-orang seperti merasakan Hamka masih hidup. Hal itu karena karya-karyanya yang bertebaran dan masih dapat kita nikmati sampai hari ini. di antara karyanya adalah Falsafah Hidup, Mengembara di Lembah Nil, Di Tepi Sungai Dajlah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan masih banyak lagi.


Novelnya berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bahkan diangkat ke layar lebar. Sedangkan yang paling populer adalah karyanya dalam bidang tafsir yang kita kenal dengan Tafsir Al-Azhar 30 Juz. Tafsir Al-Azhar ditulisnya ketika mendekam di penjara pada masa Orde Lama sekitar dua tahun lamanya.

Rabu, 09 Agustus 2017

Imam Ahmad dan Madzhabnya

Karya Imam Ahmad bin Hanbal

Pendiri Madzhab Hanbali Penulis Kitab Al-Musnad

Dia adalah seorang imam besar, al-hafizh, ulamanya kota Baghdad. Sampai hari ini, madzhab fiqihnya banyak diikuti oleh umat Islam di berbagai negeri.

Namanya adalah Ahmad bin Hanbal bin Asad Adz-Dzuhli Asy-Syaibani, lahir di Baghdad pada tahun 164 Hijriyah. Ia lebih muda sekitar 14 tahun dari Imam Asy-Syafi’i. Sejak usia 16 tahun Ahmad bin Hanbal telah berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menuntut ilmu. Ia telah melakukan perjalanan ke berbagai kota pusat ilmu pengetahuan seperti di Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Khurasan, dan Syam.

Dari negeri-negeri yang dikunjunginya itu, Imam Ahmad belajar kepada ulama-ulama besar. Ia berguru kepada Sufyan bin Uyainah di Makkah dan Abdurrazzaq Ash-Shan’ani di Yaman. Dan guru yang paling dekat dengannya, sekaligus menjadi sahabatnya adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Tidaklah mengeherankan, setelah pencarian ilmunya ke berbagai negeri, ia kembali ke Baghdad dan menjadi ulama besar di sana. Orang-orang ramai mendatangi majelisnya, mengambil manfaat dari ilmu dan adabnya. Atau hanya sekadar melihat wajahnya yang tenang dan berwibawa.

Imam Asy-Syafi’i pernah memuji ketinggian ilmu Ahmad bin Hanbal, “Aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia mengatakan ‘haddatsana’ (artinya: telah menceritakan hadits kepada kami), maka orang-orang mengatakan, ‘Dia benar!’” Dia adalah Ahmad bin Hanbal, kata sang Imam.
Dalam kesempatan yang lain, ketika Imam Asy-Syafi’i meninggalkan Baghdad dan menetap di Mesir, ia tetap memuji muridnya itu. Ia mengatakan, “Aku meninggalkan Baghdad. Dan tidaklah aku meninggalkannya seorang yang lebih takwa dan lebih pandai fiqih dibandingkan Ibnu Hanbal.”

Di masa Khalifah Al-Mu’tashim Al-Abbasi, Imam Ahmad mendapatkan ujian yang berat. Saat itu, pemikiran Mu’tazilah dianut dan didukung oleh Khalifah. Mereka, orang-orang Mu’tazilah, menganggap Alqur’an adalah makhluk. Mereka menguji ummat Islam dengan masalah tersebut. Siapa yang mengatakan Alqur’an bukan makhluk ia akan dihukum bahkan dibunuh.

Imam Ahmad adalah salah satu yang dipanggil di hadapan Khalifah Al-Mu’tashim dan ditanyakan masalah tersebut. Imam Ahmad menjawab bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Ia hampir saja dihukum mati. Tapi akhirnya Khalifah memutuskan agar ia dihukum cambuk. Sang Imam dicambuk sampai pingsan. Karena peristiwa itulah ia digelari Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Setelah itu, Imam Ahmad dipenjara sampai Khalifah Al-Mu’tashim wafat dan digantikan Al-Watsiq. Al-Watsiq tidak sekeras Al-Mu’tashim. Hanya saja ia melarang Imam Ahmad untuk mengajarkan ilmunya. Ia dilarang keluar dari rumahnya. Imam Ahmad baru bisa mengajar kembali di masa Al-Mutawakkil.


Dasar-dasar Madzhab

Pijakan Imam Ahmad bin Hanbal dalam madzhabnya dan fatwa-fatwanya berlandaskan pada lima dasar. Pertama, Teks dari Alqur’an dan hadits. Kedua, fatwa para sahabat (ijma’ sahabat) jika tidak ditemukan nash dari Alqur’an dan hadits.

Ketiga, jika terdapat banyak pendapat para sahabat dalam satu kasus, maka ia memilih mana yang lebih dekat dengan Alqur’an dan hadits. Dengan kata lain, ia tidak keluar dari salah satu pendapat ini. Terkadang Imam Ahmad tawaqquf dari fatwa jika tidak ditemukan sesuatu yang menguatkan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.

Keempat, mengambil hadits mursal atau dhaif (lemah) lebih utama baginya dibandingkan qiyas selama tidak ada atsar lain yang menolaknya, juka tidak ada pendapat para sahabat yang bertentangan dengannya. Dan kelima, jika ia tidak menemukan sesuatu dari keempat dasar yang disebutkan sebelumnya, maka ia beralih kepada qiyas. Beliau menggunakan qiyas dalam keadaan darurat.

Murid-murid Imam Ahmad

Imam Ahmad memiliki banyak murid. Murid-muridnya itulah yang menyebarkan madzhab fiqih sang guru. Di antara mereka yang terkenal antara lain, Abu Bakar Al-Atsram bin Muhammad bin Hani Al-Khurasani Al-Baghdadi. Ia termasuk seorang fuqaha, ulama, dan penghafal hadits (al-hafizh). Karyanya adalah “Kitab As-Sunan fi Al-Fiqh ‘Ala Madzhab Ahmad wa Syawahiduhu min Al-Hadits”.

Lalu, Ahmad bin Muhammad bin Al-Hujjaj Al-Maruzi, wafat pada tahun 275 H. Ia termasuk salah satu murid Imam Ahmad yang paling mulia, seorang imam dalam fiqih dan haidits serta memiliki banyak karya.

Kemudian, Ibrahim Al-Harbi Abu Isqah, wafat pada tahun 285 H. Ia belajar fiqih kepada Imam Ahmad sehingga menjadi salah satu pemimpin para ulama. Ia banyak menulis kitab khususnya dalam bidang hadits. Dan masih banyak lagi murid beliau yang lainnya.

Ulama-ulama Madzhab Hanbali

- Abu Bakr Al-Khallal, wafat 311 Hijriyah.

- Ibnu Aqil, wafat 488 Hijriyah.


- Abul Faraj bin Al-Jauzi, wafat 597 Hijriyah.

- Abdul Ghani Al-Maqdisi, wafat 600 Hijriyah.

- Ibnu Qudamah, wafat 620 Hijriyah.

- Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, wafat 728 Hijriyah.

- Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, wafat 751 Hijriyah.

- Ibnu Rajab, wafat 795 Hijriyah.