Rabu, 05 Oktober 2016

Assabiqunal Awwalun yang Lebih Dulu Masuk Islam


“Tidaklah sama di antara kalian, orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukkan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” (QS. Al-Hadid: 10)

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyadari bahwa dirinya adalah nabi yang diutus oleh Allah. Ia telah mendatangi Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang paham betul isi kitab Inji yang di dalamnya mengabarkan akan kedatangan Nabi terakhir. Waraqah meyakinkan Muhammad bahwa yang datang kepadanya di Gua Hira adalah malaikat yang juga mendatangi Nabi Musa Alaihissalam: Jibril.

Nabi Muhammad mulai mendakwahkan agama yang baru diterimanya kepada orang-orang terdekatnya. Khadijah, istri beliau adalah orang yang pertama beriman kepadanya. Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah, dua bocah yang tinggal bersamanya juga ikut beriman. Sahabat beliau yang pertama beriman adalah Abu Bakar bin Abi Quhafah. 

Abu Bakar yang memiliki sifat terpuji dan memiliki reputasi yang baik di kalangan pemuda Makkah mengajak beberapa orang untuk beriman kepada Nabi Muhammad. Darinya Utsman bin Affan memeluk Islam, juga Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian menyusul setelahnya Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah bin Asad dan istrinya, Arqam bin Abil Arqam, Utsman bin Mazh’un, Sa’id bin Zaid dan istrinya, Fathimah binti Khatab, Khabbab bin Arat, Asma binti Umais dan Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan saudaranya ‘Utbah bin Mas’ud, serta beberapa orang lainnya yang jumlahnya sekitar 30 orang. Merekalah Assabiqunal Awwalun, orang-orang yang mula-mula masuk Islam.

Dakwah periode pertama ini dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi dan disampaikan secara perorangan. umat Islam belum mencela patung-patung sesembahan masyarakat Quraisy Makkah. Dakwah seperti ini berlangsung selama tiga tahun hingga turunnya firman Allah, “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu).” (QS. Al-Hijr: 94).

Kisah menarik terjadi saat Rasulullah diutus menjadi seorang Nabi dan Rasul. Beberapa orang melihat perubahan bintang-bintang di langit. Mereka kemudian mendatangi Abdu Yalil bin ‘Amr Ats-Tsaqafi, pemuka suku Tsaqif. “Orang-orang sedang gempar. Para budak dibebaskan dan binatang ternak dilepaskan karena melihat keanehan pada bintang.”, kata mereka.

“Tidak usah terburu-buru menyimpulkan”, kata Abdu Yalil yang buta. “Perhatikan baik-baik. Jika bintangnya sudah dikenali itu pertanda kiamat, tapi jika tidak dikenali maka menandakan suatu kejadian luar biasa terjadi.” Setelah diperhatikan, ternyata bintangnya tidak dikenali sebelumnya, sehingga disimpulkan bahwa hal itu disebabkan kejadian luar biasa. Tidak lama kemudian, mereka mendengar Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul.

Kisah Para Jin
Sebelum Rasulullah diutus, setiap satu kelompok jin memiliki satu ‘kapling’ khusus tempat mereka mendengar berita-berita langit. Namun, suatu ketika mereka dilempari percikan api sehingga tidak bisa lagi mendengarkan berita-berita langit. Para jin lalu melaporkannya kepada Iblis. “Pasti terjadi sebuah kejadian di bumi!”, seru Iblis. Ia lalu memerintahkan para jin untuk mengumpulkan tanah di bumi dan menciumnya.

Ketika mencium bau tanah yang berasal dari Makkah, Iblis berkata, “Dari sinilah munculnya!” Mereka bertolak ke Makkah, tempat Rasulullah yang waktu itu sedang bersama beberapa sahabat di Nakhlah dekat pasar ‘Ukaz. Beliau sedang mengimami para sahabat shalat Fajar. Awalnya, shalat yang diwajibkan oleh umat Islam hanyalah dua, yaitu shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.

Para Jin dan Iblis yang menyaksikan Rasulullah bersama para sahabatnya itu berusaha menyimak bacaan Al-Qur’an Rasulullah. Setelah mendengarnya mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita untuk mendengarkan berita-berita langit!”

Poin Penting

  • Dari kalangan wanita yang pertama kali memeluk Islam adalah Khadijah binti Khuwailid.
  • Dari kalangan anak kecil, Ali bin Abi Thalib yang pertama kali memeluk Islam.
  • Dari kalangan laki-laki dewasa, Abu Bakar yang pertama kali memeluk Islam.
  • Keutamaan Assabiqunal Awwalun di atas orang-orang yang masuk Islam belakangan. 
  • Tempat para Assabiqunal Awwalun biasa berkumpul mendengarkan nasihat dan ilmu dari Rasulullah adalah di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Ja’far bin Abi Thalib Syahid Perang Mu’tah


Bentuk tubuh dan wajahnya sedikit mirip dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia salah seorang putra Abu Thalib, paman Rasulullah. Hanya saja ia tidak seberuntung Ali yang dirawat oleh Rasulullah sejak kecil, sementara dia dirawat oleh pamannya, Abbas.

Ja’far bin Abu Thalib, kakak dari Ali bin Abi Thalib ini tumbuh menjadi pribadi yang hebat, otak yang cerdas, dan didukung lisan yang fasih berbicara. Ia termasuk sahabat Nabi yang mula-mula memeluk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bersama istrinya, Asma binti Umais, ia memilih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Meskipun perlakuan kasar dan penganiayaan dari orang-orang Quraisy mereka dapatkan, mereka tetap bersabar. Keduanya sangat paham bahwa jalan menuju surga itu penuh dengan rintangan dan ujian. Ketika gangguan dari orang-orang Quraisy Makkah semakin hebat, ia meminta izin Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama istri dan beberapa sahabatnya. Meski berat, Rasulullah mengizinkannya.

Ja’far beserta sahabat lainnya merasa berat meninggalkan kampung halaman, kota yang diberkahi, menyeberangi lautan menuju negeri yang entah bagaimana kondisinya. Namun, ia paham betul, inilah konsekuensi dari Tauhid. Itulah yang menguatkan mereka.

Di Habasyah, Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongan diterima dengan baik oleh Raja Najasy yang beragama Nasrani. Mereka aman dan bebas menjalankan ibadah di sana. Tapi tak lama, datang dua orang Quraisy, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah yang berusaha menghasud Raja Najasy. Mereka mengatakan bahwa saudara mereka itu membawa agama baru yang tidak dikenal. Kemudian meminta agar rombongan umat Islam dikembalikan ke negeri asalnya.

Umat Islam akhirnya dikumpulkan di hadapan Najasy dan pejabat kerajaan serta tokoh-tokoh penting. Sebagian mereka memegang Alkitab. Sang Raja kemudian menanyakan agama yang dianut oleh Ja’far dan rombongannya. Ja’far maju sebagai juru bicara dan menjelaskan semuanya dengan fasih. Ia kemudian membacakan surat Maryam yang membuat Najasy serta para pejabatnya meneteskan air mata hingga membasahi jenggotnya.

“Apa yang dibawa oleh Nabi kalian dengan apa yang dibawa oleh Nabi Isa keluar dari sumber yang sama.”, sabda sang Raja. Ia pun tetap membiarkan dan menjamin umat Islam tinggal di negerinya dengan aman serta menyuruh Amr bin Ash untuk pulang ke Makkah karena ia tidak akan menyerahkan umat Islam kepadanya.

Dari Ja’far dan umat Islam lainnya-lah hati Najasy terbuka untuk memeluk Islam di kemudian hari. Ia saling bersurat dengan Rasulullah di Madinah. Dan ketika meninggal, Rasulullah melakukan shalat ghaib untuknya.

Perang Mu’tah
Setelah sepuluh tahun tinggal di Habasyah, Ja’far berserta istrinya hijrah ke Madinah pada tahun 7 Hijriah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rasulullah dan saudara seiman lainnya yang telah lebih dulu hijrah. Rasulullah sangat gembira menyambut kedatangan Ja’far hingga beliau mengatakan, “Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku gembira, kemenangan atas Khaibar atu kedatangan Ja’far bin Abi Thalib.”

Setahun berselang, Rasulullah mengirim pasukan dipimpin Zaid bin Haritsah ke Syam untuk berperang melawan pasukan Romawi. 3.000 pasukan Islam bertemu dengan 100.000 pasukan Romawi bertemu di Mu’tah, pinggiran Syam. Perang dahsyat pun pecah. Zaid terbunuh sehingga komando diberikan kepada Ja’far. 

Ja’far memegang panji Islam memerangi musuh hingga tangan kanannya ditebas. Dia segera memegang panji itu dengan tangan kiri namun tangan kirinya juga ditebas. Musuh kemudian membunuhnya. Setelah itu Abdullah bin Rawahah mengambil alih kepemimpinan. Namun ia juga ikut syahid. Rasulullah sangat bersedih dengan gugurnya tiga sahabatnya. Mengenai Ja’far beliau bersabda, “Aku melihat Ja’far di surga memiliki dua sayap yang berlumuran darah dan kaki yang berwarna-warni.” Semoga Allah meridhainya.

Keutamaan Ja’far

  • Memiliki keutamaan karena dua kali hijrah, ke Habasyah dan Madinah.
  • Di antara sahabat yang mula-mula memeluk Islam.
  • Melalui perantaranya Najasyi masuk Islam.
  • Memiliki wajah yang mirip dengan Rasulullah.
  • Diberi gelar pemilik dua sayap atau burung surga karena syahidnya pada Perang Mu’tah.


Al-Laits bin Sa’ad Pemuka Ahli Ilmu Mesir


Namanya adalah Al-Laits bin Sa’ad seorang ahli ilmu negeri Mesir, lahir di Qarqasyandah satu kota yang berjarak sekitar empat farsakh dari Mesir pada tahun 94 Hijriah. Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa Al-Laits adalah ahli fiqih dan ahli haditsnya Mesir. Ia adalah orang yang dibanggakan oleh masyarakat Mesir. Orang-orang dalam maupun luar negeri Mesir merujuk kepada pendapat dan sarannya. Khalifah Al-Manshur Al-Abbasi pernah menawarkannya untuk menjadi gubernur di wilayah Mesir namun Al-Laits menolaknya.

Al-Laits terkenal karena kecerdasannya. Suatu hari terjadi percakapan antara khalifah Harun Ar-Rasyid dengan istrinya, Zubaidah. “Engkau tertalak kalau aku tidak masuk surga.”, kata Khalifah. Setelah mengatakan itu, khalifah merasa menyesal sehingga ia mengumpulkan para ulama dan ahli fiqih untuk mencari jalan keluar terhadap sumpahnya itu.

Setelah berdiskusi, ternyata para ulama tersebut berbeda pendapat. Maka ia menyurati para pejabatnya agar mengirim para ulama dan ahli fiqih terkenal ke istana untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di antara yang hadir adalah Al-Laits bin Sa’ad dari Mesir.

Setelah mereka berkumpul, khalifah menceritakan apa yang diucapkannya kepada istrinya. Sementara sang istri bersama beberapa pelayannya mendengarkan dari balik tirai. Hasilnya sama dengan sebelumnya, para ulama berbeda pendapat.  Semuanya telah mengemukakan pendapatnya kecuali Al-Laits bin Sa’ad.

“Mengapa engkau diam saja?, tanya Khalifah Ar-Rasyid. “Aku ingin berbicara empat mata dengan anda.”, jawab Al-Laits. Sang Khalifah pun meminta yang lain keluar sehingga hanya dia dan ulama Mesir yang berada di dalam ruangan. Ia meminta khalifah mengambil mushaf dan membuka surah Ar-Rahman kemudian membacanya dengan suara keras. Sang Khalifah menuruti hingga bacaannya sampai pada ayat, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.”
“Cukup sampai disitu,”, kata Al-Laits. Ia meminta khalifah bersumpah, “katakanlah Demi Allah sesungguhnya Aku taku kepada kebesaran Tuhanku.” Khalifah Ar-Rasyid mengikuti apa yang diperintahkan oleh ulama Mesir itu. Kemudian Al-Laits berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah ia adalah dua surga, bukan satu surga seperti yang disebutkan dalam sumpah anda?”

Ar-Rasyid pun sangat gembira begitu juga istrinya yang mendengar dari balik tirai. Ia merasa kagum dengan kecerdasan Al-Laits bin Sa’ad dan pemahamannya terhadap ayat tersebut. 
Sifat Dermawan Al-Laits

Al-Laits terkenal dengan kedermawanannya. Ketika rumah Ibnu Lahi’ah, teman sekaligus sejawatnya, terbakar, Al-Laits mengirimkan uang sejumalah seribu dinar kepadanya. Begitu juga yang ia lakukan kepada Imam Malik bin Anas. Ketika Al-Laits berhaji, Imam Malik memberikannya hadiah berupa buah kurma segar dalam sebuah bejana. Maka dia membalas kebaikan sang Imam dengan seribu dinar yang ia masukkan dalam bejana.

Qutaibah mengatakan bahwa Al-Laits selalu menaiki kendaraan untuk shalat berjamaah ke masjid dan dia bersedekah setiap hari kepada 300 orang miskin. Sementara itu Abdullah bin Shalih yang telah menemani Al-Laits selama sepuluh tahun bersaksi bahwa dia selalu melihat Al-Laits makan siang atau malam dengan berbagi bersama orang lain.

Seorang wanita juga pernah mendatangi Al-Laits bin Sa’ad dan mengatakan bahwa anaknya yang sedang sakit menginginkan madu. Maka Al-Laits memberinya 120 rithl madu. Satu rithl sama dengan delapan ons.

Pujian Para Ulama

  1. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Al-Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya menelantarkankannya (tidak menulis darinya).”
  2. Utsman bin Shalih mengatakan, “Penduduk Mesir mencela sahabat Nabi, Utsman bin Affan sehingga muncullah Al-Laits bin Sa’ad menuturkan hadits kepada mereka tentang keutamaan Utsman sehingga mereka berhenti dari hal itu.”
  3. Adz-Dzahabi mengatakan, “Pengikut hawa nafsu dan bid’ah melemah di zaman Al-Laits, Malik, dan Auza’i. Sedangkan sunnah-sunnah mengemuka dan menguat.
  4. Muhammad bin Sa’ad berkata, “Al-Laits adalah tsiqah, memiliki banyak hadits. Dia sibuk dengan fatwa pada zamannya di Mesir. Dia seorang yang pemurah, mulia lagi dermawan.” 


Guru-guru Al-Laits

  • Ibnu Abi Mulaikah.
  • Yazid bin Abu Habib.
  • Yahya bin Sa’id Al-Anshari.
  • Az-Zuhri.
  • Ja’far bin Rabi’ah.
  • Ayyub bin Musa, dll.


Murid-muridnya

  • Ibnu Lahi’ah.
  • Ibnu Al-Mubarak.
  • Marwan bin Muhammad.
  • Sa’id bin Syurahbil.
  • Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad.
  • Amr bin Khalid Al-Harrani, dll.

Minggu, 02 Oktober 2016

Ummu Haram Syahidah Negeri Cyprus


Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang-orang yang ikut serta dalam peperangan bersama beliau, “Anggota pasukan kami yang mula-mula ikut peperangan telah wajib bagi mereka masuk surga.” Tidak jauh dari beliau ada seorang sahabiyah bernama Ummu Haram. Ia berkata, “Wahai Rasulullah apa aku termasuk di dalamnya?” Rasulullah menjawab, “Engkau termasuk di dalamnya.”

Namanya adalah Ummu Haram binti Milhan bin Khalid Al-Anshariyah An-Najjariyah seorang sahabiyah Rasulullah. Ia adalah bibi Anas bin Malik, saudari dari Ummu Sulaim. Suami dan anaknya merupakan dua sahabat yang gugur dalam Perang Badar. 

Setelah suaminya syahid, Ummu Haram menikah lagi dengan sahabat yang mulia Ubadah bin Shamit Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan keduanya lahir putranya bernama Muhammad bin Ubadah. Ia juga salah seorang bibi Rasulullah dari ibu susuan. 

Ummu Haram memiliki keutamaan dan kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak riwayat menerangkan bahwa Rasulullah sangat hormat kepadanya dan sering berkunjung ke rumahnya yang berada di Quba, desa yang letaknya sekitar dua mil dari Madinah Al-Munawwarah. Beliau terkadang tidur siang dan shalat di rumah Ummu Haram.

Ketika suatu hari Rasulullah berziarah ke rumah Ummu Haram. Bibi Anas bin Malik itu membuatkan makanan untuk beliau. Setelah itu Rasulullah istrahat dan tertidur. Ketika bangun, beliau tertawa dan memberikan kabar gembira kepada Ummu Haram bahwa ia adalah salah seorang yang akan mendapatkan kesyahidan. Oleh karena itu ia dipanggil Asy-Syahidah.

Anas bin Malik berkisah, “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami. Ketika itu tiada orang selain saya, ibuku, dan bibiku (Ummu Haram). Beliau bersabda, ‘Bangunlah kalian semua. Sungguh aku akan melaksanakan shalat dengan kalian.’ Lalu beliau shalat bersama dengan kami. Setelah itu beliau mendo’akan kami dan ahli bait demi mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.”

Wanita Syahidah
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan terjadi berbagai penaklukan negeri-negeri. Khalifah berpandangan bahwa untuk menggempur Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, harus bertolak dari Pulau Cyprus dengan menggunakan armada laut. Akhirnya dibentuklah armada laut Islam untuk pertama kalinya. Mu’awiyah bin Abi Sufyan ditugaskan memimpin pasukan dalam penaklukan kali ini.

Pada tahun 28 Hijriah pasukan Islam yang dipimpin Mu’awiyah menuju Pulau Cyprus. Di antara pasukan itu terdapat Ubadah bin Shamit dan istrinya, Ummu Haram. Mereka sangat semangat berjihad bersama umat Islam lainnya padahal usia mereka tidak lagi muda. Dalam penyerangan ini umat Islam berhasil meraih kemenangan dan disepakati perjanjian damai. Pihak Cyprus menyetujui akan membayar upeti sebesar 7000 dinar setiap tahun kepada kaum muslimin.

Dalam penaklukan Cyprus ini Ummu Haram turut gugur sebagai seorang syahidah. Gugurnya Ummu Haram di jalan Allah membuktikan kebenaran sabda Rasulullah sebelumnya yang mengabarkan kepadanya bahwa ia termasuk di antara orang-orang yang syahid. Dengan demikian Ummu Haram adalah wanita pertama yang gugur dalam pertempuran melalui laut. Ummu Haram wafat dan dimakamkan di Cyprus. Hingga kini makamnya masih sering diziarahi. Orang-orang menyebutnya ‘makam wanita shalihah’.

Keutamaan Ummu Haram

  • Suami dan anaknya adalah syuhada pada Perang Badar.
  • Rasulullah biasa singgah di rumah Ummu Haram untuk istrahat dan shalat di sana.
  • Meriwayatkan lima buah hadits dari Rasulullah.
  • Orang yang dido’akan kebaikan oleh Rasulullah.
  • Wanita muslimah pertama yang gugur dalam peperangan melalui laut.
  • Orang-orang yang mengunjungi makamnya menyebutnya sebagai makam wanita shalihah.


02.51 - No comments

Mencintai Ummahatul Mukminin


Dalam Islam kita mengenal wanita-wanita yang setia mendampingi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berjuang mendakwahkan Islam. Mereka adalah istri-istri beliau, Ummahatul Mukminin.

Istri-Istri Rasulullah digelari Ummahatul Mukminin, ibunda orang-orang beriman. Gelar tersebut adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala khusus kepada mereka. Allah berfirman, “Nabi itu lebih berhak terhadap orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6)

Karena mereka adalah Ummahatul Mukminin atau ibunda orang-orang beriman maka mereka khusus untuk Rasulullah. Mereka tidak boleh dinikahi oleh laki-laki lain setelah Rasulullah wafat. Karena itu kita tidak pernah mendapati satupun dari para Ummahatul Mukminin menikah lagi dengan orang lain setelah Rasulullah meninggal dunia.

Rasulullah menikahi para Ummahatul Mukminin bukanlah karena pilihan beliau sendiri melainkan pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah tidak menikahkan beliau kecuali dengan wanita-wanita mulia, wanita-wanita penghuni surga-Nya. Mereka tidaklah sama dengan wanita-wanita lainnya. 

Allah befirman, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu “tunduk” dalam berbicara, sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,. Sesungguhnya Allah ingi menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlu bait dan memberihkanmu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Para Ummahatul Mukminin
Ummahatul Mukminin yang disepakati ada 11 orang, yaitu:

  1. Khadijah binti Khuwailid. Menikah dengan Rasulullah 28 tahun Sebelum Hijrah.
  2. Aisyah binti Abu Bakar. Rasulullah menikahinya pada tahun ke-3 Sebelum Hijrah.
  3. Saudah binti Zam’ah. Rasulullah menikahinya tahun ke-3 Sebelum Hijrah.
  4. Hafshah binti Umar. Rasulullah menikahinya tahun 3 Hijriah.
  5. Zainab binti Khuzaimah. Rasulullah menikahinya tahun 3 Hijriah.
  6. Ummu Salamah binti Umayyah. Rasulullah menikahinya tahun 4 Hijriah.
  7. Zainab binti Jahsy. Rasulullah menikahinya tahun 5 Hijriah.
  8. Juwairiyah binti Al-Harits. Rasulullah menikahinya tahun 5 Hijriah.
  9. Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Rasulullah menikahinya tahun 6 Hijriah.
  10. Shafiyah binti Huyay. Rasulullah menikahinya tahun 7 Hijriah.
  11. Maimunah binti Al-Harits. Rasulullah menikahinya tahun 7 Hijriah.

Keutamaan Ummahatul Mukminin

  • Allah memuliakan istri-istri Rasulullah melebihi semua perempuan. Firman Allah, “Wahai istri-istri Nabi, kamu tidak seperti perempuan-perempuan lain jika kamu bertakwa.” (QS. Al-Ahzab: 32).
  • Allah memilih mereka secara khusus untuk dijadikan teman hidup Rasulullah dimana wahyu turun di tengah-tengah mereka.
  • Mereka adalah pasangan hidup Rasulullah di dunia dan akhirat.
  • Allah melipat gandakan pahala bagi mereka jika berbakti dan akan melipat gandakan siksa jika mereka durhaka. Firman Allah, “Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, maka azab-Nya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 30).
  • Mereka adalah ibu seluruh orang mukmin, sehingga haram untuk dinikahi oleh selain Rasulullah. Oleh karena itu, mereka menjadi wanita terbaik dan tertinggi kedudukannya di dunia karena semua orang mukmin wajib berbakti kepada mereka.

Kewajiban-kewajiban Umat Islam

  • Menjaga hak-hak para Ummahatul Mukminin dan mengakui kemuliaan mereka sebagaimana kepada ibu kandung sendiri, karena mereka berbeda dengan wanita-wanita lain.
  • Haram menikahi mereka, sebagaimana haram menikahi ibu kandung sendiri.
  • Tidak mencela salah seorangpun di antara mereka. Seperti tidak mencela ‘Aisyah dan Hafshah. Mencela mereka sama saja mencela Rasulullah.

Ummu Hani Pemilik Rumah Penuh Berkah


Pada tahun 8 Hijriah, bersama para sahabat, Rasulullah memasuki kota Makkah untuk membebaskannya dari orang-orang Musyrik. Itulah hari penaklukkan yang agung, Fathu Makkah.

Pada hari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan negeri dan rumah-Nya dari orang-orang kafir. Penaklukkan Makkah membuat Islam semakin disegani dan dihormati. Manusia berlomba-lomba untuk masuk agama Allah. Makkah menjadi terang benderang penuh cahaya keimanan. 

Saat orang musyrik Makkah merasa ketakutan terhadap umat Islam, Rasulullah bersabda, “Aku akan katakan kepada kalian sebagaimana yang Yusuf katakan kepada saudara-saudaranya, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu’. Pergilah, kalian semua bebas!”

Setelah itu Rasulullah turun dari tunggangannya dan singgah di sebuah rumah. Di rumah itu beliau mandi lalu melaksanakan shalat kemenangan sebanyak delapan rakaat pada waktu dhuha. Rumah yang beruntung itu adalah rumah Ummu Hani, anak paman kesayangan Rasulullah, Abu Thalib.

“Aku belum pernah melihat beliau melaksanakan shalat seringan ini, namun beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”, tutur Ummu Hani kemudian hari.  Setelahnya, Ummu Hani menghidangkan makanan berupa daging dan cuka bagi Rasulullah dan beliau menyantapnya dengan lahap. 

Nama sebenarnya adalah Hindun. Ia dipanggil Ummu Hani karena anaknya bernama Hani. Tidak ada di kalangan sahabiyah yang dipanggil dengan Ummu Hani selain dirinya. Ia sangat dikenal di Makkah sebagai wanita Quraisy yang memiliki pendapat yang bagus dan sastra yang indah. Ia juga memiliki akhlak yang baik sebagaimana ibunya, Fathimah binti Asad.

Peristiwa Isra ke Masjid Al-Aqsha
Di antara kemuliaan yang lain dari Ummu Hani’ adalah Isra Rasulullah bermula dari rumah Ummu Hani di Makkah. Pada malam itu, setelah shalat Isya’ Rasulullah menginap di rumah Ummu Hani. Sebelum terbit fajar, ia membangunkan Rasulullah untuk shalat Subuh. Beliau bangkit untuk shalat. Setelah shalat beliau bersabda, “Ummu Hani, aku telah datang ke Baitu Al-Muqaddas, aku shalat di dalamnya, kemudian aku (pulang) shalat subuh bersama kalian.”

Rasulullah meminta agar Ummu Hani tidak menyampaikan hal itu kepada orang banyak karena mereka akan mendustakan. Namun Ummu Hani berkata, “Demi Allah, tentu akan aku sampaikan kepada mereka semua.” Ia menyampaikan kepada orang-orang. Benar saja, mereka semua terheran-heran, banyak yang tidak percaya.

Ummu Hani binti Abi Thalib

  • Ikut serta dalam Perang Khaibar bersama Rasulullah.
  • Meriwayatkan 46 hadits dari Rasulullah.
  • Anaknya bernama Ja’dah dan cucunya bernama Yahya serta Harun meriwayatkan hadits darinya.
  • Beberapa tokoh Tabi’in juga meriwayatkan hadits darinya. Antara lain Atha bin Abi Rabah dan Urwah bin Zubair.
  • Rumahnya dijadikan tempat untuk shalat fath oleh Rasulullah pada hari Fathu Makkah.
  • Rumahnya adalah tempat Rasulullah memulai Isra ke Masjid Al-Aqsha di Palestina.
  • Rasulullah pernah memujinya dengan mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah para wanita Quraisy, mereka paling lembut kepada anaknya.”
  • Diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah datang melamarnya. Namun ia tidak ingin menyakiti Rasulullah karena ia telah memiliki banyak anak.
  • Ummu Hani wafat tahun 50 Hijriah pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Keluarga Ummu Hani
  • Suami Ummu Hani bernama Hubairah bin Amru bin Aid Al-Makhzumi. Ia lari ke Najran, Yaman dalam keadaan masih kafir. Ia tinggal di sana sampai meninggal dunia.
  • Anak-anaknya bernama Amru, Ja’dah, Hani, dan Yusuf.


Ibnu Hazm Lautan Ilmu Negeri Andalus


Namanya adalah Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm. Lebih dikenal dengan Ibnu Hazm. Kakek buyutnya bernama Khalaf bin Ma’dan adalah orang yang memasuki Andalusia bersama Abdurrahman Ad-Dakhil, amir pertama di Andalusia. 

Ibnu Hazm lahir di Cordova, ibu kota kekhalifahan Bani Umayyah di Spanyol Andalusia pada tahun 384 Hijriah atau 994 M. Ibnu Hazm adalah seorang ulama Andalus yang menghimpun berbagai ilmu keislaman, paling luas pengetahuannya, ahli syair dan sastra, serta pakar dalam ilmu sejarah. Al-Fadhl, putra Ibnu Hazm mengatakan bahwa tulisan ayahnya sebanyak 400 jilid.

Kakeknya adalah menteri di Cordova, begitu juga dengan ayahnya. Jadi Ibnu Hazm tinggal di kementrian hingga usianya mencapai 26 tahun.  

Suatu ketika ia masuk masjid sebelum shalat ashar, maka dia duduk tanpa melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. Gurunya pun menyuruhnya untuk berdiri melaksanakan shalat tahiyat dua rakaat. Namun dia belum paham juga. Sehingga ada seorang yang berada di dekatnya mengatakan, “Engkau telah berusia seperti ini sementara kau tidak tahu bahwa shalat tahiyatul masjid itu wajib?” sehingga dia pun berdiri melaksanakan shalat.  

Setelah selesai shalat ashar, Ibnu Hazm kemudian berdiri hendak melakukan shalat sunnah. Ada lagi yang mengatakan padanya, “Duduk, duduk, ini bukan waktu shalat.”. maka dia pun pergi dalam keadaan malu terhina. Setelah itu dia meminta ditunjukkan rumah syaikh Musyawir Abu Abdillah bin Dahun, ulama di Cordova. Ibnu Hazm mulai mempelajari kitab Al-Muwattha karya Imam Malik. Mazhab Maliki adalah mazhabnya masyarakat Andalusia. Sejak itu Ibnu Hazm rajin membaca kitab al-Muwattha di hadapan gurunya selama tiga tahun. Lalu setleha itu baru dia memulai diskusi dan perdebatan.

Meskipun diakui sebagai seorang yang berilmu dan memiliki otak yang encer, Ibnu Hazm banyak dibenci oleh ulama lainnya karena perkatannya, perdebatannya dengan para fuqaha, dan merekmehkan para tokoh dengan perkataan yang tidak pantas dan kasar. Sebagaimana yang dilakukannya dengan imam besar Andalusia lainnya, Abu Al-Walid Al-Baji. Hingga ada yang mengatakan bahwa Pedang Al-Hajjaj dan Lisan Ibnu Hazm dua bersaudara.”

Karena itulah banyak yang menjauhinya serta membakar buku-bukunya meskipun tidak sedikit yang mengambil faidah dari karyanya tersebut. Di antara yang memujinya adalah Imam Adz-Zahabi, “Ibnu Hazm adalah orang yang memiliki keahlian dalam berbagai keilmuan. Dalam dirinya terdapat agama, sikap wara, zuhud, dan mengutamakan kejujuran. Ayahnya adalah seorang menteri besar, memiliki kedudukan mulia.”

Guru-Guru Ibnu Hazm

  • Yahya bin Mas’ud bin Wajh Al-Jannah
  • Qasim bin Ashbagh
  • Yunus bin Abdullah bin Mughits Al-Qadhi
  • Humam bin Ahmad Al-Qadhi.
  • Muhammad bin Sa’id bin Nabat.

Karya-karya Ibnu Hazm

  • Kitab Al-Muhalla
  • Masa’il Al-Ushul
  • Kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam
  • Kitab Al-Fishal fi Al-Milal wa Al-Ahwa’ wa An-Nihal
  • Thauq Al-Hamamah.

Ibnu Hazm wafat pada malam senin 456 Hijriah (1064 M) dalam usia 72 tahun.

Minggu, 18 September 2016

Abdul Malik bin Marwan, Ulama dan Khalifah Umat Islam.


Suatu sore empat orang pemuda shalih duduk-duduk sambil berbincang di dekat Ka’bah. Mereka membicarakan mimpi yang ingin mereka raih. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku ingin menjadi Khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Pemuda itu bernama Abdul Malik bin Marwan, keturunan Umayyah salah seorang tokoh Quraisy Makkah. Lahir di Madinah pada tahun 26 Hijriah di masa Khalifah Utsman bin Affan. Hidup di lingkungan ilmu pengetahuan membuat Abdul Malik gemar belajar. 

Sebelum menjadi Khalifah, Abdul Malik dikenal sebagai orang yang zuhud dan berilmu. Ia menghabiskan waktunya di Madinah untuk menimba ilmu dari para ulama kota Rasul. Ia tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali ketika menunaikan ibadah haji atau berjihad. 

Di Madinah, ia berguru kepada para sahabat Rasulullah sepertin Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al-Khudri. Semangatnya menuntut ilmu menjadikannya salah seorang ulama di Madinah. Beberapa Tabi’in belajar dan meriwayatkan hadits darinya di antaranya Urwah bin Zubair, Amr bin Al-Harits, dan Az-Zuhri.

Menjadi Khalifah.
Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah setelah ayahnya meninggal pada tahun 65 Hijriah. Ketika ia menjabat sebagai Khalifah kubu umat Islam terpecah. Mereka adalah kubu Abdullah bin Zubair yang berkuasa di Hijaz hingga Irak, kubu Khawarij yang mendirikan negara di Yamamah, dan kelompok Syi’ah yang hampir mendirikan sebuah negara di Irak.

Sebagai Khalifah yang sah, Abdul Malik dengan strategi yang cerdas mampu meredam segala pemberontakan yang terjadi sehingga umat Islam kembali bersatu di bawah satu bendera. Karena itu ia disebut sebagai pemersatu negara Islam dan juga pendiri kedua Dinasti Bani Umayyah setelah Mu’awiyah.

Setelah berhasil menyelesaikan masalah dalam negeri, Khalifah Abdul Malik melakukan penaklukkan ke wilayah Afrika Utara yang menjadi kekuasaan Romawi. Dia mengangkat Hassan bin Nu’man sebagai panglima yang berhasil menghabisi pasukan Romawi di Afrika Utara sehingga negeri itu menjadi negeri Islam seluruhnya.

Pujian-Pujian kepada Khalifah Abdul Malik

  • Nafi’ berkata, “Aku melihat Abdul Malik di Madinah. Kala itu Aku tidak melihat seorang remaja yang lebih dermawan, lebih faqih dan lebih banyak ibadahnya serta lebih baik bacaannya dalam Kitabullah daripada Abdul Malik bin Marwan.
  • Abu Zinad, “Para faqih dari kalangan penduduk Madinah adalah Sa’id bin Musayyib, Abdul Malik bin Marwan, Urwah bin Zubair, dan Qubaishah bin Dzuaib.
  • Abdullah bin Umar, “Sesungguhnya Marwan memiliki seorang anak (Abdul Malik), maka tanyakanlah kepadanya masalah-masalah kalian.”
  • Ummu Darda’, “Aku membayangkan bahwa khilafah ini akan berada di tanganmu sejak aku melihatmu. Sebab aku tidak pernah menemukan seorangpun yang mampu berbicara dan sekaligus mendengar lebih baik darimu.”
  • Al-Ashma’i, “Ada empat orang yang tidak pernah keseleo lidahnya dalam mengucapkan kata-kata baik dalam kondisi serius atau bercanda, yaitu Asy-Sya’bi, Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj bin Yusuf dan Ibnu Al-Qarriyah.”

Prestasi-Prestasinya

  • Menjadi gubernur Madinah di masa Khalifah Mu’awiyah.
  • Menjadi ulama dan ahli fiqih di Madinah.
  • Meredam pemberontakan dalam negeri.
  • Mengalahkan Romawi di Afrika Utara.
  • Khalifah pertama yang membuat mata uang sendiri dan menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an di atasnya.


Sultan Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel


Pemimpin kali ini adalah Muhammad II bin Murad II, sultan ketujuh Dinasti Utsmani lahir pada tahun 835 Hijriah (1432 M) di Edirne, Turki. Dialah pemimpin yang mendapat julukan “Al-Fatih” karena kesuksesannya membebaskan Konstantinopel dan mengubur kekaisaran Byzantium untuk selama-lamanya.

Menjadi penakluk Konstantinopel tidaklah terbentuk dalam waktu singkat. Sejak kecil Sultan Muhammad II telah dibina dengan guru-guru dan ulama Rabbani yang mendidiknya menjadi pribadi yang hebat. Sejak kecil Sultan Muhammad II telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, membaca hadits, belajar ilmu fiqih, matematika, astronomi, sejarah, ushuluddin, dan metode perang. Kecerdasannya juga nampak dengan menguasai banyak bahasa: Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan bahasa Latin.

Ayahnya, Sultan Murad II sangat memperhatikan pendidikan Muhammad sejak kecil. Karena dialah penerus kepemimpinan setelah meninggalnya. Dialah pemimpin umat Islam di masa mendatang. Karena itu Sultan Murad II meminta ulama Rabbani, di antaranya yang terkenal adalah Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani dan Syaikh Aq Syamsuddin untuk mendidik anaknya. 

Di bawah didikan guru-gurunya itulah Sultan Muhammad II tumbuh menjadi pribadi luar biasa yang mencintai ilmu, memiliki sifat takwa, dan mencintai jihad. Syaikh Aq Syamsuddin adalah orang yang paling berpengaruh bagi Sultan Muhammad II. Selain mendidiknya, Syaikh juga selalu memotivasi dan meyakinkan dirinya bahwa dialah yang dimaksudkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penakluk Konstantinopel.

Sekitar delapan abad yang lalu, Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabat beliau, “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik panglima adalah panglima yang menaklukkannya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” 

Berbagai upaya telah dilakukan para khalifah Islam untuk membebaskan Konstantinopel sejak masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbas, dan sekarang masa pemerintahan Sultan Murad II, benteng kota itu belum juga mampu ditembus. Namun, Syaikh Aq meyakinkan bahwa Sultan Muhammad II-lah orangnya. Dialah pemimpin yang mampu menembus benteng kokoh Konstantinopel yang bersejarah itu.

Tahun 1453
Konstantinopel merupakan kota terpenting di dunia saat itu. Ada perkataan terkenal yang mengatakan, “Seandainya dunia itu di bawah satu kerajaan, maka ibu kota yang paling pantas untuknya adalah Konstantinopel.” Untuk menaklukkanya, Sultan Muhammad II melakukan banyak persiapan, di antaranya mempersiapkan 265.000 pasukan dan 400 kapal perang dan persenjataan lengkap.

Setelah mengepung Konstantinopel selama beberapa bulan, akhirnya pasukan Islam yang dipimpin Sultan Muhammad II berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel yang kokoh. Yang membuat takjub adalah strategi Sultan yang memindahkan 70 kapal perang dari selat Bosporus ke Teluk Tanduk Emas yang merupakan titik terlemah pertahanan Byzantium, melalui daratan. Ia telah mengubah daratan menjadi lautan. 

Penaklukkan terjadi pada tahun 857 Hijriah (1453 M). Penduduk Konstantinopel beragama Kristen diperlakukan dengan baik. Mereka tetap diperbolehkan menjalankan agama mereka. Sementara itu sang Sultan melakukan sujud syukur kemudian menuju gereja Aya Sofia dan meminta azan dikumandangkan sebagai pertanda gereja itu telah diubah menjadi masjid. Ia pun mengganti nama Konstentinopel menjadi Islambul yang berarti kota Islam.

Menjadi Khalifah

  • Ketika menjabat sebagai khalifah menggantikan Sultan Murad II, usia Sultan Muhammad Al-Fatih baru menginjak 22 tahun.
  • Usianya belum melebihi 25 tahun ketika menaklukkan Konstantinopel.
  • Syaikh Al-Kurani dan Syaikh Aq Syamsuddin adalah dua guru yang paling berpengaruh pada pribadi Sultan Al-Fatih.
  • Penaklukkan Konstantinopel terjadi pada tanggal 29 Mei 1453 M.
  • Sultan memerintahkan membangun masjid di dekat makam Abu Ayyub Al-Anshari, sahabat Nabi.
  • Wafat pada tahun 1481 M di usia 52 tahun.

Kota-kota yang Ditaklukkan Al-Fatih

  • Konstantinopel.

  • Murah di Yunani.
  • Albania.
  • Bosnia.
  • Hungaria.
  • Trabzon, dll.


Harun Ar-Rasyid Khalifah Negeri 1001 Malam


Namanya adalah Harun bin Al-Mahdi bin Al-Manshur. Ia menjadi Khalifah setelah kematian saudaranya, Al-Hadi pada tahun 170 Hijriah. Kakeknya, Abu Ja’far Al-Manshur adalah pendiri kota Baghdad.

Suatu hari, seorang ulama terdekat Harun Ar-Rasyid bernama As-Sammak datang menemuinya di Istana kerajaan. Pada saat itu, Harun meminta segelas air minum kepada pelayannya. Pelayannya segera mengambil air dan ketika Khalifah mengangkat gelas untuk minum,  As-Sammak berkata, “Tahanlah wahai Amirul Mukminin, andaikata orang-orang mencegahmu untuk meminum air ini, berapa yang akan kau keluarkan untuk membeli air ini?”

Tanpa pikir panjang Khalifah Ar-Rasyid menjawab, “Akan saya beli dengan separuh kerajaanku.” “Minumlah semoga Allah memberi kenikmatan untukmu.”, do’a As-Sammak kepadanya. 

Ketika Khalifah selesai minum, As-Sammak kembali bertanya, “Andaikata air itu tidak bisa keluar dari perutmu, dengan harga berapa kau akan membayarnya, wahai Amirul Mukminin?” “Dengan seluruh kerajaanku!”, jawab Khalifah Ar-Rasyid.

Mendengar jawaban Khalifah, As-Sammak berkata lagi, “Jika harga kerajaanmu harganya sama dengan seteguk air dan sekali buang air kecil, sudah sepantasnya orang-orang tidak memperebutkannya.” 

Nasihat As-Sammak mengena di hati sang khalifah. Dan khalifah tak sanggup menahan tangisnya. Harun Ar-Rasyid memang terkenal sebagai khalifah yang suka meminta nasihat. Ia juga mudah menangis mendengar nasihat-nasihat para ulama. Ia pernah menangis hingga tak sadarkan diri ketika dinasehati oleh Fudhail bin Iyadh. Selain itu, ia juga dikenal senang dipuji. Jika ada orang memujinya dia akan memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar.

Masa Kegemilangan Islam
Masa Harun Ar-Rasyid disebut-sebut  sebagai salah satu masa paling gemilang dalam sejarah Islam. Pada masanyalah Baghdad menjadi identik dengan sebutan negeri 1001 malam. Ia melebihi Konstantinopel dalam kemakmuran dan kemegahannya. 

Pada masa pemerintahannya, pendapatan Daulah Abbasiyah mencapai 70.150.000 dinar. Pemerintah berhasil memanfaatkan Sungai Tigris dan Eufrat untuk pertanian dan sistim kanal, tanggul, serta cadangan air yang brilian berhasil mengeringkan rawa-rawa di sekitarnya. 

Berbagai macam imigran datang ke Baghdad dari agama yang berbeda, mulai dari Kristen, Yahudi, Zoroaster, Hindu, datang ke Baghdad baik untuk berwisata maupun berbisnis. Sebagai pusat dunia dan pusat peradaban, Baghdad tidak hanya sibuk di siang hari tapi juga memiliki daya tarik pada malam hari diterangi dengan cahaya lampu. Di masa kejayaan Baghdad ini, kota London dan Paris masih merupakan kota kecil yang kotor dan kacau, tanpa penerangan. Ia bahkan belum pantas disebut kota.

Harun Ar-Rasyid sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan, karena itu dia memanggil para ilmuwan dan ulama Islam untuk datang ke Baghdad dan menetap di sana. Di antaranya adalah Abu Yusuf, murid imam Abu Hanifah yang diangkat menjadi Hakim (qadhi) di Istananya. Ia sempat

memanggil imam Malik untuk menetap di Baghdad dan mengajar kedua anaknya, tetapi sang Imam menolak.

Wafatnya
Khalifah Ar-Rasyid meninggal saat memimpin perang Thus, sebuah kota di wilayah Khurasan. Dia dishalatkan oleh anaknya bernama Shalih kemudian dimakamkan di daerah itu juga pada tahun 193 Hijriah. saat itu usianya 45 tahun. Wafatnya adalah duka bagi seluruh umat Islam.

Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan, “Tidak ada kematian yang paling menyulitkan kami selain kematian Ar-Rasyid. Kami takut sepeninggalnya muncul berbagai malapetaka. Aku senantiasa memohon kepada Allah agar memanjangkan usianya daripada usiaku.” Semoga Allah merahmatinya.

Pujian kepada Harun Ar-Rasyid

  • Al-Qadhi Al-Fadhil berkata, “Aku tidak pernah mendengar dan tidak pernah mendapatkan seorang raja yang melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu kecuali Harun Ar-Rasyid.”
  • Imam Adz-Dzahabi, “Kisah tentang Ar-Rasyid sangat panjang. Karena sangat banyak hal yang baik yang ada pada masa pemerintahannya.”
  • Manshur bin Ammar berkata, “Tidak pernah sekalipun aku melihat orang yang lebih deras cucuran air matanya dari tiga orang ini, yaitu Fudhail bin Iyadh, Ar-Rasyid, dan seorang yang lain (dia lupa namanya).”
  • Nafthawih, “Ar-Rasyid banyak mengikuti perilaku yang dilakukan oleh kakeknya, Al-Manshur, kecuali dalam hal kekikiran. Sebab tidak pernah ada seorang khalifah pun yang sama dengannya dalam kedermawanan.”

Ibnu Abdul Barr Ahli Hadits Negeri Andalus



Andalusia di masa lalu banyak melahirkan ulama-ulama besar dalam sejarah Islam. Di antaranya adalah ulama kelahiran Cordoba, Imam Ibnu Abdil barr.

Namanya adalah Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr Al-Andalusi. Lahir di Cordoba, Andalusia tahun 368 Hijriah. Meskipun ia lahir di negeri Eropa, Andalusia, sebenarnya ia berasal dari kabilah Arab, yaitu kabilah Namr.

Sejak kecil ia berada dalam keluarga yang berhiaskan ilmu agama, keutamaan, dan kezuhudan. Kakeknya, Muhammad bin Abdil Barr adalah ahli ibadah yang terkenal. Sementara ayahnya, Abdullah bin Muhammad termasuk ahli fikih terkemuka di Cordoba.

Ibnu Abdil Barr tumbuh dan besar di kota kelahirannya, pusat ilmu pengetahuan, Cordoba yang kala itu menjadi ibu kota Andalusia. Di Cordoba beliau mendalami ilmu dari para ulama terkemuka. Ia mempelajari hadits dan meriwayatkannya hingga menjadi pakar hadits dan dijuluki Hafizh Al-Maghrib. Selain itu ia juga mempelajari fikih, bahasa, sejarah, dan adab dari ulama-ulama di kotanya.
Puas dengan ilmu yang didapatkan, Ibnu Abdil Barr meninggalkan Cordoba untuk mencari ilmu di kota lain. Ia menjelajahi berbagai penjuru timur dan barat Andaluisa. Ia pernah singgah di Denia, Valencia, dan Jativa. Ia sempat menjabat qadhi (hakim) di Lisabon.

Ibnu Abdil Barr telah berjumpa dengan ulama-ulama besar di masanya. Keluasan ilmunya membuatnya disegani oleh orang-orang. Ia termasuk ulama yang telah mencapai level ijtihad dan itu tergambar dalam berbagai karyanya. Awalnya Ibnu Abdil Barr bermazhab Zhahiri lalu berpindah menjadi Maliki. Namun dia condong kepada fikih Syafi’i dalam sejumlah persoalan. Ibnu Abdil Barr wafat di Jativa pada malam Jum’at tahun 463 Hijiriah dalam usia 95 tahun.

Jihad Andalusia
Pada tahun 456 Hijriah (1064 M), pasukan Kristen Norman dan Prancis menyerang Bobastro, salah satu kota Muslim di Andalusia dan membantai lebih dari 40 ribu penduduk Musim di sana. Pembantaian tersebut menggerakkan Abu Al-Walid Al-Baji, ulama besar Andalusia untuk menyeru penguasa dan umat Islam agar berjihad melawan kaum Salib.

Seruan Al-Walid membuat penguasa Muslim bergerak diikuti oleh penduduk Muslim lainnya. Di antara mereka yang ikut berjihad adalah Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Hazm. Ulama lainnya yang bergabung adalah kakek dari Ibnu Rusyd. Umat Islam berjihad melawan kaum Salib selama sembilan bulan dan dengan pertolongan Allah umat Islam berhasil merebut kembali Bobastro.

Pujian Ulama Kepada Ibnu Abdil Barr

  • Ibnu Bisykawal mengatakan, “Ibnu Abdil Barr adalah imam di zamannya dan orang nomor satu pada masanya.
  • Ibnu Hazm berkata, “Aku tidak mengetahui ada pembahasan fikih hadits yang semisal dengan Ibnu Abdil Barr. Lalu bagaimana kiranya ada yang lebih baik darinya?”
  • Abu Al-Walid Al-Baji mengatakan, “Belum pernah ada di Andalusia seperti Abu Umar bin Abdil Barr dalam hadits. Dia adalah penduduk Maghrib yang paling banyak hafal hadits.”
  • Abu Abdillah bin Abi Al-Fath mengatakan, “Abu Umar (Ibnu Abdil Barr) adalah orang yang paling tahu di Andalusia tentang sunan, atsar, dan perselisihan ulama kota-kota besar.”
  • Adz-Dzahabi, “Dia adalah hafizh Maghrib pada zamannya.”

Guru-guru Ibnu Abdul Barr

  1. Khalaf bin Al-Qasim.
  2. Abdul Warits bin Sufyan.
  3. Al-Hafizh Abdul Ghani.
  4. Abu Al-Qasim Ubaidullah bin As-Saqht.
  5. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Mu’in, dll.

Murid-muridnya

  1. Abu Al-Hasan bin Mufawwiz Asy-Syatibi.

  2. Abu Muhammad bin Hazm.
  3. Al-Hafizh Abu Ali Al-Ghassani.
  4. Al-Hafizh Abu Abdillah Al-Humaidi.
  5. Abu Dawud, dll.

Karya Tulis

  1. Al-Isti’ab.
  2. Ad-Durar fi Ikhtishar Al-Maghazi wa As-Siyar.
  3. Al-Aql wa Al-‘Uqala.
  4. Al-Kafi fi Madzhab Malik.
  5. Al-Iktifa fi Qira’ah Nafi wa Abi Amr.
  6. Al-Ajwibah Al-Mu’ibah.

Bahan bacaan: 
Syaikh Ahmad Farid, 60 biografi Ulama Ahlussunnah
Tariq Suwaidan, Dari Puncak Andalusia

Bacalah dengan Nama Rabb-mu yang Menciptakan

Dari hari ke hari perilaku buruk orang-orang Quraisy semakin menjadi-jadi. Mereka selalu berpesta sambil meminum-minuman keras, menyembelih hewan bukan dengan nama Allah, zina menjadi hal biasa, dan yang paling parah adalah melakukan pemujaan terhadap berhala.

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih melihat keburukan masyarakat Makkah yang telah menjadi tradisi. Agama nenek moyang mereka, Isma’il, telah mereka tinggalkan. Hal itu membuat dirinya memilih untuk mengasingkan diri jauh dari keramaian kota Makkah. Ia memilih memilih Gua Hira yang berjarak sekitar dua mil dari Makkah untuk melakukan penyendirian spiritual atau tahannuts.

Selama tiga tahun berturut-turut selama bulan Ramadhan beliau selalu bertahannuts di Gua Hira. Tahannuts bukan hal yang aneh bagi kaum Quraisy dan sudah menjadi praktik tradisional di kalangan keturunan Isma’il. Pada setiap generasi selalu ada satu atau dua orang yang mengasingkan diri ke tempat yang terisolasi dalam waktu sekian lama agar terbebas dari kontaminasi dunia manusia.

Dalam perenungannya di Gua, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membawa bekal dan memfokuskan diri pada malam-malam tertentu untuk beribadah, kemudian pulang ke rumah dengan lebih dahulu mengelilingi Ka’bah.

Ketika usia beliau mencapai usia empat puluh tahun peristiwa menakjubkan pun terjadi. Saat ia berada di dalam Gua menjelang akhir Ramadhan, datang kepadanya malaikat Jibril. Malaikat Jibril berseru padanya, “Bacalah!” “Aku tidak bisa membaca”, jawab beliau.  Jibril lalu mendekapnya lalu melepaskan dan kembali berseru, “Bacalah!” “Aku tidak dabat membaca.”, jawabnya sama. 
Untuk ketiga kalinya, sang malaikat mendekap tubuh beliau lalu berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5). Beliau akhirnya mengulangi kata-kata yang diucapkan Jibril, kemudian Jibril meninggalkannya.

Waraqah bin Naufal

Setelah pertemuannya dengan malaikat Jibril di Gua Hira, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa ketakuta, ia bergegas pulang ke rumah. Sampai di rumah, beliau meminta istrinya, Khadijah agar menyelimutinya. “Aku khawatir sesuatu menimpaku.”, kata beliau setelah mengisahkan apa yang dialaminya. Mendengar kisah suaminya, Khadijah menenangkannya.

Setelah itu, Khadijah membawa beliau ke sepupunya yang beragama Nasrani bernama Waraqah bin Naufal. Beliau menceritakan kepada sepupu istrinya tentang peristiwa yang dialaminya dalam gua. Waraqah terkejut dan mengatakan bahwa yang mendatanginya adalah Namus (malaikat Jibril). Malaikat yang sama diutus kepada Nabi Musa. 

Waraqah berharap ia diberi umur panjang agar bisa membela beliau ketika ia disakiti kaum Quraisy. “Akankah mereka mengusirku?”, tanya Nabi Muhammad. “Ya”, jawab Waraqah. “Belum pernah ada sebelumnya laki-laki yang menyampaikan sesuatu yang engkau meiliki sekarang tanpa menghadapi kekerasan.”, sambungnya. Namun, beberapa hari kemudia, Waraqah meninggal dunia. Setelah itu wahyu terputus untuk beberapa waktu.

Setelah Wahyu Pertama


  • Saat terputusnya wahyu, Nabi Muhammad merasa tertekan dan semakin takut sampai ia hampir bunuh diri dengan meloncat dari atas bukit.
  • Wahyu yang kedua turun adalah, “Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!..” (QS. Al-Mudatsir: 1-7).
  • Setelah turunnya ayat kedua itu, Rasulullah mulai mendakwahkan agama yang baru diterimanya kepada orang-orang terdekat beliau.
  • Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada beliau. Lalu keluarganya yang lain, Ali, Zaid. Kemudian sahabat beliau, Abu Bakar bin Abi Quhafah. Dari tangan Abi Quhafah, beberapa orang masuk Islam.
  • Penduduk Makkah lainnya yang mula-mula masuk Islam antara lain Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Utsman bin Mazh’un, Arqam bin Abil Arqam, dan lainnya.
  • Dari kalangan wanita yang beriman pada beliau antara lain Ummu Salamah, Fathimah binti Khatthab, Asma binti Umais, Aminah binti Khalaf, Ramlah binti Abu Auf, Fakiha binti Yasir, dan Fathimah binti Mujalil.


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Gua Hira


Dari hari ke hari, perbuatan penduduk Makkah semakin memprihatinkan. Berbagai macam kejahatan telah mereka lakukan. Menyembah berhala, membunuh jiwa, zina merebak, dan yang kuat menindas yang lemah. Perbuatan-perbuatan hina mereka membuat Muhammad banyak merenung dan menyendiri ke gua hira.

Dahulu, sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi ada empat orang di Makkah yang disebut hanafiyyun (hanif). Mereka menolak untuk menyembah patung-patung yang disembah masyarakat Arab. Di antara patung yang terkenal di Hijaz adalah Hubal, Lata, Uzzah, dan Manat.

Dua dari empat orang itu adalah Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr. Mereka berdua berusaha mencari agama yang benar. Waraqah memilih untuk memeluk Kristen mempelajari kitab agama Kristen yang asli. 

Sementara Zaid bin Amr orang yang menentang keras penyembahan terhadap berhala hingga ia diusir dari Makkah. Dia mencari agama nenek moyangnya, Nabi Ibrahim, yang telah dilupakan oleh orang-orang Quraisy. Ia menuju Syam dan Irak untuk bertanya kepada para pendeta dan rahib tentang agama Ibrahim alaihissalam.

Ketika meninggalkan Makkah, Zaid berdiri di dekat Ka’bah dan berkata lantang kepada orang-orang Quraisy yang sedang berdo’a, “Wahai Quraisy, Demi Dia yang Tangan-Nya lah terletak jiwaku. Tak seorangpun dari kalian mengikuti agama Ibrahim kecuali aku.” Ia juga berdo’a, “Wahai Rabb, seandainya aku tahu bagaimana Engkau ingin disembah, begitulah aku akan menyembah-Mu, tetapi aku benar-benar tidak tahu.”

Setelah bertanya kepada para pendeta dan rahib di kota yang ia kunjungi dan mereka mengabarkan bahwa akan ada Nabi yang muncul di Makkah, maka Zaid kembali ke Makkah. Namun di perbatasan selatan Syiria ia diserang hingga tewas. Dia tidak pernah berhubungan dengan Nabi Muhammad. 

Di Gua Hira

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahan melihat kondisi kaumnya yang telah rusak akhlaknya. Ia memilih banyak menyendiri. Ia menjauh dari pesta-pesta yang riuh di Makkah. Menghindar dari mabuk-mabukan yang menjadi kebiasaan orang-orang Quraisy. Kekecewaannya semakin hari semakin bertambah. 

Akhirnya ia memilih menyendiri ke Gua Hira yang jaraknya sekitar dua mil dari Makkah. Di sanalah ia bisa merenung menghabiskan waktu sendiri tanpa melihat berhala-berhala yang selalu disembah penduduk Makkah. Setiap tahun selama tiga tahun berturut-turut, beliau menghabiskan bulan Ramadhan di dalam gua tersebut.

Tidak ada yang menyangka, di gua itulah malaikat Allah, Jibril ‘alaihissalam turun dan menyampaikan wahyu kepadanya. “Bacalah!”. Dia akan menjadi manusia utusan Allah yang akan memperbaiki kondisi penduduk Makkah. Lebih dari itu, ia akan diutus untuk mengubah kondisi seluruh umat manusia.


Peristiwa Penting


  • Saat usia Rasulullah 35 tahun, banjir bagian sisi Ka’bah roboh. Hal ini membuat penduduk Makkah merenovasinya.
  • Tiap-tiap kabilah saling bertikai saat hajar Aswad akan dikembalikan ke tempat semula.
  • Rasulullah dipercaya untuk mengembalikan hajar Aswad ke tempatnya semula tanpa ada pertentangan. Dia adalah Al-Amin.
  • Usia 40 tahun beliau lebih sering menyendiri ke Gua Hira.


Empat Orang Hanif


  1. Waraqah bin Naufal 
  2. Zaid bin Amr 
  3. Utsman bin Huwairits
  4. Ubaidullah bin Jahsy.

Minggu, 10 April 2016

05.53 - No comments

Dunia yang Datar












Pada tahun 1492 Colombus memulai ekspedisi pelayarannya menuju India. Dengan menggunakan tiga kapal: Nina, Pinta, dan Santa Maria, ia berlayar ke barat menyeberangi lautan Atlantik, yang diduganya bisa menjadi rute baru menuju Hindia Timur. Ia tidak mengarah ke Selatan, mengitari Afrika seperti yang telah dicoba penjelajah Portugis ketika itu.

Colombus berangkat dengan asumsi bahwa bumi bulat. Karena itu ia sangat yakin bahwa dengan berjalan ke barat, ia bisa mencapai India. Ternyata dia salah menghitung jarak. Ia mengira bumi lebih kecil daripada ini. Ia juga tidak mengira akan menemukan daratan sebelum mencapai Hindia Timur. Meskipun demikian, ia menamai penduduk asli yang ditemukannya di dunia baru itu sebagai “Indian” yang berarti orang India. Saat kembali, Colombus bisa mengatakan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, bahwa walaupun ia tidak menemukan India, ia dapat memastikan bahwa dunia itu memang bulat.

Berbeda dengan Colombus ketika itu yang berlayar membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai negeri baru yang kini disebut Amerika, kini manusia telah dapat melihat dan mengetahui informasi apa yang terdapat dalam negeri tersebut hanya dalam waktu singkat, dalam hitungan menit orang dapat mengetahuinya. Inilah yang dinamakan dunia tidak lagi bulat, melainkan dunia telah datar (flat).

Makna datar (flat) adalah semua orang bisa mengakses dunia global. Lapangan permainan untuk persaingan global sedang didatarkan. Dunia sedang didatarkan. Menurut Thomas L.Friedman, ada 3 gelombang globalisasi, yaitu:

Globalisasi pertama, berlangsung sejak 1492 ketika Colombus berlayar, membukan perdagangan antara Dunia Lama dan Dunia Baru, hingga sekitar tahun 1800. Proses ini menyusutkan dunia dari ukuran besar menjadi sedang. Globalisasi ini terkait dengan negara dan otot. Dalam globalisasi ini pelaku utama perubahan atau kekuasaan yang mendorong proses penyatuan global adalah seberapa gigih, seberapa besar otot, seberapa besar tenaga kuda, seberapa besar tenaga angin, dan seberapa besar tenaga uap yang dimiliki suatu negara serta seberapa besar kreativitas untuk memanfaatkannya. Pada masa ini, negara maupun pemerintah yang biasanya dipicu oleh agama, imperialism, atau gabungan keduanya mendobrak dinding dan menjalin dunia menjadi satu sehingga terjadi penyatuan global.

Globalisasi kedua, berlangsung dari sekitar tahun 1800 hingga 2000 dengan diselingi oleh masa Depresi Besar serta Perang Dunia I dan II. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Dalam globalisasi kedua ini, pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan ini mendunia demi pasar dan tenaga kerja, dengan dipelopori oleh Revolusi Industri serta ekspansi perusahaan-perusahaan yang bermodal gabungan dari Belanda dan Inggris. Pada paruh pertama masa ini, proses penyatuan global dimotori oleh jatuhnya biaya pengangkutan berkat mesin uap dan kereta api. Paruh berikutnya, proses penyatuan global dimotori oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit serat optik, World Wide Web versi amal. Kekuatan di balik globalisasi masa ini adalah terobosan di bidang perangkat keras, berawal dari kapal uap dan kereta api, hingga kemudian telepon dan computer induk.

Globalisasi ketiga, dimulai tahun 2000. Globalisasi ini menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil sekaligus mendatarkan lapangan permainan. Motor penggerak globalisasi ketiga ini adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Globalisasi ketig memungkinkan begitu banyak orang masuk dan turut bermain, karenanya akan dilihat manusia dari berbagai warna kulit ikut ambil bagian.  Tatanan dunia datar adalah konvergensi antara computer pribadi yang memungkinkan setiap individu dalam waktu singkat menjadi penulis materi mereka sendiri secara digita, serat optik yang memungkinkan mereka untuk mengakses lebih banyak materi di seluruh dunia dengan murah juga secara digital, serta perangkat lunak alur kerja yang memungkinkan individu-individu di seluruh dunia untuk bersama-sama mengerjakan suatu materi digital dari manapun, tanpa menghiraukan jarak antara mereka.
Menurut Friedman, ada sepuluh kekuatan yang mendatarkan dunia:

1.Runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 9 November 1989. Hal ini telah meruntuhkan kekuatan dan juga membebaskan semua orang yang terbelenggu di Kekaisaran Soviet. Kejadian tersebut berdampak besar sehingga mempengaruhi kekuasaan di seluruh dunia ke arah pemerintahan yang demokratis, berlandaskan konsensus, dan berorientasi pasar bebas, serta meninggalkan dukungan terhadap pemerintah otoriter yang menerapkan perekonomian terkendali secara terpusat.

2.Ketika Web Mendunia dan Netscape Memasyarakat (Zaman Konektivitas). Pada tahun 1995 PC-Windows mencapai masa stabilitasnya. Semua orang di seluruh dunia tiba-tiba dapat menuliskan materi mereka sendiri dalam bentuk digital.

3.Perangkat Lunak Alur Kerja. Terobosan besar pertama dalam alur kerja adalah penggabungan PC dan e-mail.  Bagian penjualan bisa menerima pesanan melalui telepon atau surat, memasukkannya ke sistem komputer, mengirim e-mail pesanan ke bagian pengiriman, lalu bagian pengiriman mengirim barang kepada konsumen, dan secara otomatis mengeluarkan faktur yang dicetak komputer pada saat yang sama. Dengan kata lain, PC berbasis Windows memberi kemampuan setiap orang di kantornya untuk menciptakan dan memanipulasi materi digital di ujung jari pada komputer meja mereka.

4.Uploading. Di sini semua orang berkolaborasi merancang perangkat lunak baru lalu meng-uploadnya ke seluruh dunia. Semua orang menawarkan berita dan opini mereka sendiri di web. Semua orang bisa menjadi produsen dan bukan hanya konsumen.

5.Outsourcing. Outsorcing berarti mengambil fungsi tertentu, yang dilakukan oleh perusahaan sendiri, seperti penelitian, call center, perhitungan piutang, dan meminta perusahaan lain melakukan fungsi yang persis  sama untuk perusahaan kita, lalu mengintegrasikan kembali pekerjaan mereka ke dalam operasional kita.

6.Offshoring. Offshoring adalah bila suatu perusahaan mengambil salah satu pabriknya yang beroperasi di Ohio, AS dan memindahkan seluruh pabrik ke luar negeri. Di luar negeri ini , pabrik itu memproduksi produksi yang persis sama dan dengan cara yang juga sama, hanya saja dengan upah lebih murah, pajak lebih rendah, energi tersubsidi, biaya pengobatan lebih rendah.

7. Supply chaining. Yaitu matarantai pemasok barang dan jasa.

8. Insourcing. Misalnya jasa pelayanan pengiriman parcel. Seperti FedEx, UPS (United Parcel Service), Tiki, GNE.

9.In-forming. Misalnya Google, Yahoo, dan MSN. Mesin pencari tersebut menjadikan semua pengetahuan di dunia ini mudah diperoleh dalam setiap bahasa.

10. Steroid.