Selasa, 15 Maret 2016

03.01 - No comments

Belajar Romantis dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Bagian II)


Sikap cinta, sayang dan care terhadap pasangan memang sudah cukup dalam membangun satu keharmonisan rumah tangga. Tapi, alangkah bagusnya jika ditambah dengan sifat romantis. Terkadang romantis memang harus untuk dipelajari. Biar cinta itu lebih awet dan penuh warna. Yah, kira-kira begitu kata orang.

Pada tulisan sebelumnya saya sudah paparkan sebagian dari contoh sifat romantis qudwah kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Nah, pada tulisan ini saya akan melanjutkan sifat Rasulullah itu agar kita bisa mengambil ilmu dari beliau, manusia terbaik sepanjang zaman.

Membantu istri Naik Kendaraan
Suatu hari istri Rasulullah, Shafiyyah ingin menaiki seekor unta (zaman ini bisa diibaratkan sebagai mobil, ataupun motor). Dengan bersahaja dan memuliakan sang istri, Rasulullah kemudian duduk di sisi unta beliau. Kemudian menekuk lututnya. Lalu, Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut nabi hingga dapat naik ke atas unta. Romantis dan gentle bukan!?
Pada zaman ini, dengan menggunakan mobil, motor, taksi, dll. Mungkin anda bisa mencontohi sikap beliau dengan membantu istri membukakan pintu mobil, membantu naik bis, taksi, atau membawakan barang istri, tas, dll. Tidak hanya saat naik, tapi juga saat akan turun. Ah, kalau begini, istri mana yang tidak merasa dimuliakan dan diperhatikan!?

Membersihkan Noda Merah Istri
Pada saat haid, kondisi psikologis dan fisik perempuan tidak stabil. Hal itu membuatnya lebih sensitif, lebih emosional, mudah tersinggung, malas, mudah capek dan sebagainya. di waktu-waktu inilah kemesraan dan perhatian ekstra dari suami dibutuhkan untuk menstabilkannya. Begitulah perlakuan Rasulullah terhadap istrinya, Aisyah. Suatu malam beliau tidur bersama istri tercintanya itu dan saat itu Aisyah sedang haid hingga darahnya menetes di atas tikar. Melihat itu Rasulullah membersihkan (mencuci) bagian tikar yang terkena tetesan darah itu. tak lama beliau shalat di tempat itu pula. setelah shalat belau kembali berbaring di sisi Aisyah. Dan jika darah kembali menetes, Rasulullah kembali melakukan hal yang sama. Masyaallah satu pelajaran tentang kesabaran seorang suami yang merawat istrinya di saat haid. Padahal di saat itu terkadang para suami merasa jijik dengan darah tersebut. tapi tidak demikian dengan Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam.

Layani dengan Penuh Cinta
Sebagian orang berpikir, suamilah yang harus terus dilayani. Tapi, tidak dengan Rasulullah. Beliau tidak pernah malu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Ini bukan suatu kehinaan, melainkan sebuah kebanggaan. Jika selama ini mungkin istri yang menyiapkan secangkir kopi atau teh hangat di pagi hari, sesekali seorang suami mencoba membuat minuman kesukaan sang istri. Kalau sudah begini, tanpa gula pun pasti terasa manis. He..he.. apalagi ditambah dengan ‘hidangan’ mesra,”Dinda sayang, ini minuman kesukaanmu kanda buatkan!” Nah, apa yang terjadi? Tersenyum manis pasti, pipi merona merah, dan mungkin sedikit malu-malu kucing.. he..he. dan tanpa sadar dekapan hangat diberikan dengan ikhlas.

Atau mungkin memasak buat istri. Walaupun masakannya gosong, di lidah istri tetap enak. Pasti itu! atau kalau enggan memasak, biarlah istri yang lakukan. Tapi bantulah dia dengan mengiris-iris bawang sambil sesekali memandang wajah sang istri. Tapi jangan lama-lama, nanti jari anda bisa ikut teriris. He..he.

Pipimu di Pipiku
Suatu hari Rasulullah sedang melihat anak-anak bermain di luar rumah beliau. Lalu ia memanggil Aisyah, “Wahai Aisyah kemarilah dan lihatlah!” Lalu Aisyah datang dan berdiri di belakang Rasulullah, meletakkan dagunya di atas bahu Rasulullah. Dan pipinya bertemu pipi Rasulullah. Yah, pipi keduanya saling bersentuhan mesra. Romantis!

Lomba Lari dengan Istri
Lari santai di pagi hari, mungkin sudah biasa. Tapi cobalah sesekali ajak sang istri untuk berlomba lari sebagai mana dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Selain tubuh sehat, bugar, keromantisanpun akan hadir. Indahnya.

 Sesekali Makanlah di Luar Rumah
Makan di rumah adalah hal yang semestinya. Bagi suami, masakan istri tak ada tandingannya, walaupun sederhana. Ia jauh lebih lezat dari masakan di luar. Mengapa bisa? Karena mungkin lidah suami terbiasa dengan masakan istri. Tapi terkadang muncul rasa bosan. Yah, mungkin bosan dengan suasananya. Atau bosan dengan masakan yang itu itu saja. Tiap hari cuma ikan asin misalnya. Atau hanya nasi dan garam misalnya. Atau sayur tanpa nasi. Atau sayur dengan nasi plus ikan tapi masih mentah. He..he.. becanda! Karena itu, cobalah sesekali makan di luar rumah untuk menciptakan suasana yang romantis. Dengan itu istripun bisa ‘libur’ masak untuk sementara waktu. Tidak harus di restoran mewah. Yang sederhana pun cukup. Atau bisa dengan menghadiri undangan teman atau tetangga. Pesta pernikahan misalnya, pesta aqiqah, tasyakuran, dll.

Begitulah yang dicontohkan Rasulullah, pernah menghadiri undangan makan dari tetangganya yang berkebangsaan Persia (Iran) bersama Bunda Aisyah. Jadi jangan salah, sebenarnya Rasulullah juga mencoba masakan luar negeri. Anda bisa contohi itu!

Tertawalah dalam Gurauan Mesra
Dalam suatu hadits disebutkan, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.” Dengan bergurau yang sewajarnya tentu akan mencairkan suasana. Jadi jangan bermuka kaku terus. Senyumlah dan sesekali bercanda bersama istri.

Panggillah Dia dengan “Sayang”
Identitas yang dipanggil itu terkadang mencerminkan “siapa”. Baik itu positif ataupun negatif. Misalnya, jika seseorang dipanggil, “Hai, penjahat!” maka panggilan itu menjerminkan bahwa orang yang dipanggil itu adalah orang yang jahat. Dan itu negatif. Nah, sekarang jika anda memenggil seseorang, “Hai manis!” maka yang tercermin dari dia adalah kemanisannya (fisik maupun nonfisik). Ini positif dan baik.

Rasulullah biasa memanggil Aisyah dengan panggilan mesra “Humaira”. Humaira artinya yang putih kemerah-merahan atau mawar merah merekah. Karena kulit Aisyah yang memang putih kemerah-merahan. Bagaimana dengan anda? Panggillah pasangan anda dengan panggilan semesra dan seromantis mungkin. Dan lihat reaksinya!


Sebenarnya masih banyak kisah-kisah yang menggambarkan keromantisa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tapi tulisan jika terlalu panjang dan hanya membahas satu masalah terkadang agak membosankan. Jadi saya cukupkan tulisan ini. semoga kita bisa mengambil manfaat dariuswah hasanah kita. Beliau tidak hanya pemimpin umat, pebisnis, panglima perang, negosiator, tapi beliau juga seorang suami yang romantis pada istri-istrinya, beliau juga seorang ayah, kakek, mertua, dan guru bagi segenap umat manusia. Walhamdulillah

Al-Qur'an dan Kisah



Adem rasanya setelah shalat maghrib berjamaah di masjid. Apalagi shalatnya diiringi lantunan syahdu ayat-ayat al-Qur’an dari sang Imam. Beda tipis dengan suara merdu Syaikh Sa’ad al-Ghomidy.

Pada rakaat pertama, beliau membaca penggalan surah al-Hijr yang mengisahkan tentang penciptaan manusia dan jin. Lalu dialog antara Allah dan malaikat serta konflik antara Iblis dengan Rabbnya ketika Dia memerintahkan Iblis agar sujud kepada Adam. Iblis menolak perintah Rabbnya. Alasannya hanya satu, sebagaimana yang disebutkan dalam surah yang dibaca oleh imam tadi, “Lam akun li-asjuda libasyarin khalaqtahu min shalshalin min hama’in masnun” (Aku tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering  dari lumpur hitam). Simpel. Padahal jika dia mau menuruti  tentu dia akan tetap tinggal dalam kenikmatan abadi di surga.

Sejenak saya membuka mushaf yang biasa kubawa dalam tasku. Saya membuka batas bacaan, baru sampai juz 19. Bacaanku telah masuk pada surah an-Naml (semut). Sejenak saya berhenti di beberapa ayat. Kemudian memikirkan makhluk kecil itu. Hebat, namanya diabadikan menjadi salah satu surah dalam al-Qur’an. Dan yang menarik, di awal-awal surah, diceritakan kisah seorang raja yang juga nabi Allah: Nabi Sulaiman. Ketika dia berjalan dengan prajurit-prajuritnya di sebuah lembah, seekor semut melihat kedatangan mereka kemudian menyeru kepada teman-temannya, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari“ . Ketika mendengar perkataan semut tersebut, Raja Sulaiman –alaihissalam- tertawa dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan padanya. Tentu saja ini adalah mukjizat Nabi Sulaiman.

Mengingatkanku pada satu waktu, dalam sebuah dialog di dunia maya, seorang Kristen pernah mengatakan bahwa al-Qur’an itu bukanlah kitab suci, penuh kebohongan serta tidak ilmiah. Masa’ Sulaiman bisa mengerti pembicaraan semut dan berdialog dengan burung (hudhud). Tidak masuk akal. Saya tersenyum membaca kata-katanya. Yang namanya mukjizat ya pasti sesuatu yang diluar kebiasaan (kharijun min al-‘Aadah). Di luar logika. Padahal kalau mau menilai, mukjizat Jesus (Nabi Isa) lebih tidak masuk akal lagi: menghidupkan orang mati. Mestinya kitabnya sendiri dulu yang dia kritik. Dia tidak mengerti apa itu mukjizat.

Itulah al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi kita, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Banyak berisi kisah-kisah orang-orang masa lampau yang memiliki nilai-nilai hikmah dan pembelajaran bagi yang membacanya. Karena itu, banyak orang-orang masuk Islam setelah membacanya. Al-Qur’an bukanlah buku sejarah atau karya historiografi, akan tetapi sangat erat kaitannya dengan sejarah. Ia adalah petunjuk berisi ajaran atau nilai luhur dan mulia. Meskipun begitu, sebagian besar isi al-Qur’an bercerita tentang masa lalu. Banyak ayat-ayat bermuatan sejarah di dalamnya. Kisah para Nabi, orang-orang shalih, hingga orang-orang zhalim dikisahkan di dalamnya. Dan beberapa sejarawan menjadikannya rujukan dalam menulis sejarah beberapa umat terdahulu, misalnya saja al-Mas’udy dalam karya monumentalnya “Muruj al-Dzahab” menulis sejarah kaum Tsamud berdasarkan berita dalam al-Qur’an. Demikian pula sejarawan muslim abad pertengahan; Ibnu Khaldun dalam Tarikh-nya ‘al-Ibar.

Kisah-kisah itu bisa menenangkan hati. Apalagi bagi mereka yang galau. Bacalah al-Qur’an. Jika satu halaman belum berkurang galaunya, tambah lagi dua halaman, tiga halaman dan seterusnya.

“Allahu Akbar Allahu Akbar” oh, suara si Bilal menggema. Waktu Isya telah masuk. Ke masjid dulu.

Pernah ada yang tanya, “kenapa sich shalat ke masjid trus?”

“Lha, kalau bukan di masjid, apa di gereja?”

Anak gagah musti ke masjidlah.


02.53 - No comments

Belajar Romantis dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Bagian I)


Dunia telah banyak melahirkan pakar-pakar dalam dunia percintaan. Masing-masing memiliki pengagum sejati. Tidak sedikit yang mengambil sisi romantisme dari karya-karya mereka. Sebut saja Khalil Gibran dengan kata-kata cintanya yang begitu mendalam hingga menggetarkan qalbu. Atau William shakspeare dengan Romeo-Juliet nya. Atau dari tanah Hijaz: Layla-Majnun oleh Nizami. Dan masih banyak yang lainnya. Masing-masing orang punya pandangan yang berbeda tentang mereka.

Suatu waktu seorang ulama besar di masanya, Imam Malik bin Anas-rahimahullah- sedang berada di Masjid Nabawi dekat makam Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. “setiap orang boleh diterima atau ditolak kata-katanya.” Kata imam Malik. “….Kecuali pemilik kuburan ini.” sambil menunjuk ke arah makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Saya yakin kita semua setuju dengan ‘sabda’ Imam Malik di atas, perkataan Nabi kita haruslah diterima tanpa terkecuali. Bagaimana tidak, Allah sendiri yang telah memberikan rekomendasi akan kema’shuman dan kemuliaan beliau shallallu Alaihi wa sallam. “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 52: 2-3). Beliau pula sebaik-baik manusia untuk dijadikan teladan,“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS.34: 21). Nah, sekarang persepsi kita telah sama tentang qudwah kita tersebut. Mari kita bersama melihat sisi romantisme beliau untuk dijadikan tuntunan dalam hidup ini, terkhusus masalah…….ehhemm…..cinta.

Singkat tapi membekas
Terkadang seorang laki-laki melakukan tindakan yang menurutnya itu adalah hal sepele. Tapi, ternyata tidak demikian di mata sang kekasih(istrinya). Menurutnya itu adalah perhatian yang menumbuhkan gelora cinta dalam dada. begitulah Rasulullah, suatu malam ketika sedang beri’tikaf Shafiyyah-istrinya- datang menjenguk beliau dan berbincang sejenak. Ketika istri cantiknya itu hendak kembali ke rumah, Ralulullah bangkit dan berkata, “Jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu.” Kata yang singkat tapi mengandung makna mendalam dan membekas di hati.

Berilah Hadiah
Siapapun pasti akan merasa gembira jika diberi hadiah. Terlebih oleh yang terkasih. Bukan isinya yang utama, tetapi maknanya. Dari situ lahirlah aura keromantisannya. Begitulah yang diajarkan Nabi kita, “Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”

Sandaran mesra
Seorang anak kecil ketika sedang menangis akan merasa nyaman jika berada di pangkuan ayahnya, terlebih ibunya. Kepenatan hilang. Lantas bagaimana jika sepasang insan melakukannya? Pasti nikmat rasanya. Begitulah yang dicontohkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bermanja di pangkuan istrinya- Aisyah-sambil mengulang hapalan Al-Qur’an. Duhai, romantisnya. Bahkan saat-saat terakhir nafas beliau berhembus ia berada di pangkuan istri tercintanya itu.

Kecupan cinta
Jika susah mencari pahala, ciumlah istri dengan ikhlas maka pahala itu akan mengalir. Masyaallah, ciuman berpahala. He…he… (tapi ini buat yang sudah halal). Tak perlu menunggu momen tertentu. Tapi lakukan setiap hari, atau kapanpun diinginkan. Ibunda Aisyah pernah bercerita, “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi (ke masjid) untuk shalat tanpa memperbarui wudhunya.” Duhai,,,so sweeeet!!! Mencium istri ketika akan pergi (farewell kiss) adalah salah satu ciuman yang disunnahkan.

Berjalan-jalan di Malam Hari
Keliling kota dengan pasangan sambil berkendara mungkin hal yang biasa. Mungkin sesekali cobalah tinggalkan kendaraan anda. Cobalah berjalan kaki, bukan di siang hari, melainkan di malam hari. malam yang tenang, indahnya bintang dan bulan memberikan cahaya menambah keromantisan terhadap pasangan kita. Begitulah Rasulullah berjalan bersama Aisyah di malam hari dan berbincang-bincang dengannya. Romantis khan!!???

Memegang Hidung Istri
Rasulullah adalah manusia sama seperti kita. Dalam sebuah rumah tangga terkadang ada sedikit amarah yang timbul, bahkan cekcok. Kehidupan rumah tangga Rasulullah dengan istri-istrinyapun demikian. Tapi, Rasulullah punya cara tersendiri untuk meredam amarah istrinya, yaitu dengan memegang hidung istrinya. Marah ibarat api, jika marah dilawan dengan marah maka akan membakar cinta. Rasulullah melawan amarah itu dengan sedikit candaan. Memegang hidung istri. Canda sederhana untuk mendinginkan suasana. Jika pasangan anda marah, lalu anda pegang hidungnya dengan bercanda ada dua kemungkinan: makin marah atau jadi tersenyum. Kemungkinan terjadi adalah yang kedua. Coba saja!

Sepiring Berdua
Ini bukan karena piring di rumah cuma ada satu. Itu kere’ luar biasa namanya. Sepiring berdua di sini adalah ciri keromantisan. Jika di zaman sekarang kita biasa menonton di film-film sepasang kekasih makan sepiring berdua membuat kita kagum. Sebenarnya itu sudah dicontohkan oleh Nabi kita berabad-abad silam. Hidangan yang tersaji mungkin tidak terlalu mewah, tapi sepiring berduanya yang menambah kelezatannya. Ah, nikmatnya.
Tidak hanya makan, minum juga demikian. Aisyah bercerita, “ Aku pernah minum. Saat itu aku sedang haid. Kemudian aku memberikan minuman tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam (dari gelas yang sama), lalu beliau minum menempelkan mulutnya persis di tempat bekas aku minum.”

Haduh, makin gak kuat melanjutkan tulisan ini. Lemas rasanya belum punya pasangan untuk menulis hal seromantis ini.

Demikianlah sepenggal kisah romantis rasulullah, bukan hanya ucapan tapi juga tindakan yang diberikannya pada istri-istrinya. Sebenarnya masih banyak kisah-kisah yang lain mendeskripsikan keromantisan beliau shallallahu alaihi wa sallam, mungkin akan dilanjutkan di lain waktu.


Wassallamu alaikum

Mahardy Purnama

Minggu, 13 Maret 2016

Para Penakluk Muslim (Referensi)

Dalam lintasan sejarah Islam, selalu muncul nama-nama besar penakluk negeri-negeri. Mereka hidup dalam kurun waktu dan zaman yang berbeda. Di masa Rasulullah ada sahabat khalid bin Walid yang mendapat julukan Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Ia sukses menaklukkan negeri Syam dan memporak-porandakan negeri Persia. Selain Khalid bin Walid, nama Amr bin Ash juga sangat dikenal karena perannya dalam penaklukkan Mesir.

Setelah masa Khulafa Ar-Rasyidin, atau di masa kekuasaan Dinasti Umawiyah futuhat semakin meluas. Muncul panglima-panglima besar yang sukses membuka negeri-negeri mulai dari Andalusia hingga Wilayah China. Di masa ini ada nama Uqbah bin Nafi’, Qutaibah bin Muslim, Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi yang menaklukkan wilayah bagian Timur. Sementara itu Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair menaklukkan negeri bagian Barat.

Ketika Jerusalem dan Baitul Maqdis dikuasai oleh orang-orang Kristen pada masa Perang Salib, muncul pejuang bernama Imaduddin Zanki, kemudian Nuruddin Mahmud. Terakhir adalah Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil merebut kembali kota suci umat Islam tersebut dari genggaman pasukan salib.

Dari dinasti Mamluk ada Saifuddin Quthuz yang berhasil mengalahkan pasukan Mongol dalam pertempuran bersejarah di ‘Ain Jalut. Setelahnya muncul kekuatan besar di tangan orang-orang Turki Utsmani. Sultan Bayazid, Muhammad Al-Fatih, dan Sulaiman al-Qanuni adalah di antara panglima perang yang handal dan disegani di dunia Islam maupun Eropa.

Buku ini memberi informasi ringkas mengenai riwayat hidup para penakluk-penakluk Islam di masa silam yang hampir bahkan telah dilupakan oleh umat Islam pada hari ini.

Judul    : Para Penakluk Muslim Yang Tak Terlupakan
Penulis : Tamim Badar
Penerjemah: Muchlisin Nawawi & M. Taufik
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Tebal   : 360 halaman 

Kamis, 03 Maret 2016

Pengaruh Budaya Arab-Islam di Eropa Abad Pertengahan

Jika membuka lembaran-lembaran sejarah Islam, kita akan dapati fakta kebalikan dari apa yang terjadi pada hari ini. Bila hari ini umat Islam banyak yang terpengaruh oleh budaya orang-orang di luar Islam baik dari gaya hidup (life style), cara berpakaian, berbicara, dan pola pikir, maka pada masa kejayaan Islam orang-orang non-muslim banyak yang terpengaruh oleh umat Islam.

Andalusia
Islam pernah memimpin dan berjaya di Andalusia yang pada hari ini mencakup wilayah Spanyol dan Portugal selama hampir 800 tahun. Di mulai dari penaklukan Thariq bin Ziyad pada tahun711 hingga jatuhnya Daulah Bani Ahmar di Granada tahun 1492 di tangan pasukan Salib.

Masuknya Islam di Andalusia membawa perubahan besar bagi penduduk Andalusia. Di bawah naungan Islam, Andalusia tampil sebagai negeri berperadaban. Cordoba sebagai ibu kota Andalusia mengungguli Konstantinopel, bahkan menjadi penyaing utama Baghdad di Timur.

Perpustakaan-perpustakaan tersebar di setiap kota. Sekolah-sekolah dan universitas peradaban banyak dibangun sehingga melahirkan para sarjana dan ilmuwan kelas wahid. Kepopularannya mengundang para pelajar dari negeri-negeri Eropa ramai mendatanginya untuk menimba ilmu. 

Tampilnya umat Islam sebagai pembangun peradaban banyak mempengaruhi orang-orang pribumi Andalusia. Asimilasi budaya pun terjadi. Jika pada hari ini sering kita dapati umat Islam bangga mengikuti gaya hidup orang-orang non-muslim (Barat khususnya), maka di Andalusia pada masa kejayaan Islam orang-orang non-muslim banyak yang terpengaruh gaya hidup umat Islam.

Orang-orang Kristen Andalusia merasa bangga ketika mengenakan pakaian khas Arab-Islam seperti jubah dan surban. Para wanitanya mengenakan pakaian yang menutupi aurat layaknya wanita muslimah. Mereka juga berkhitan sebagaimana umat Islam, tidak mengonsumsi daging babi, dan tidak meminum khamr.

Selain itu mereka juga menggunakan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari dan pandai melantunkan syair-syair Arab. Kecintaan mereka pada bahasa al-Qur’an ini menjadikan mereka lupa pada bahasa asli mereka sendiri. Orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Arab mereka anggap sebagai orang terbelakang dan ketinggalan zaman.

Orang-orang Kristen yang terpengaruh dengan budaya Arab-Islam ini dikenal dengan Kristen Mozarab. Ketika wilayah-wilayah Islam di Andalusia direbut oleh kaum Salib, orang-orang Kristen Mozarab tetap hidup dalam budaya dan cara hidup islami. Pada hari ini gereja-gereja Mozarab (Mozarabic Churchs) masih bisa dijumpai di beberapa kota di Spanyol. Di antaranya gereja San Miguel de Escalada dan Santiago Penalba di Leon, San Juan de La Pena di Aragon, dan Santa Maria de Marquet di Barcelona.[i] Bangunan gereja tersebut mengikuti seni arsitektur Masjid Agung Cordoba.

Sisilia
Sisilia adalah pulau terbesar di Laut Tengah (Mediterranean Sea) dan masuk dalam wilayah Italia. Palermo adalah ibu kotanya. Di masa silam Sisilia pernah menjadi wilayah kekuasaan umat Islam lebih dari 200 tahun. Mula-mula oleh Dinasti Aghlabiyah, lalu orang-orang Syiah Fatimiyah dan Daulah Kalbiyah. Namun, pada tahun 1091, orang-orang Norman berhasil merebut seluruh wilayah Sisilia dari umat Islam.

Sebagaimana di Andalusia, orang-orang Kristen Sisilia juga terpengaruh oleh budaya Arab-Islam yang memang merupakan budaya dan peradaban paling maju saat itu. Hal itu disaksikan oleh pakar geografi dan pengelana muslim terkenal bernama Ibn Jubair ketika mengunjungi Sisilia tahun 1184. Ia  menyaksikan di kota Palermo wanita-wanita Kristen memakai hijab layaknya wanita muslimah.

Pengaruh budaya itu juga dialami oleh raja-raja Norman. Para raja Norman selalu mengenakan jubah layaknya orang Arab dengan dihiasi motif-motif Arab. Mereka menggunakan gelar-gelar Arab. Raja Roger II misalnya, ia menggunakan gelar al-Mu’taz Billah. Penerusnya William I memiliki gelar al-Hadi Biamrillah, dan Willian II bergelar al-Musta’iz Billah.

Mereka banyak mengangkat penasehat dan pegawai kerajaan dari kalangan umat Islam-Arab. Di antaranya adalah geografer ternama, Muhammad bin Muhammad al-Idrisi (w.1166). Al-Idrisi membuat peta dunia (globe) dan menulis sebuah kitab berjudul Nuzhah al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, yang lebih dikenal sebagai “Kitab Roger” (Kitab Ar-Rujari) yang ia persembahkan untuk Raja Roger II.

Raja-raja Norman sangat memperhatikan perkembangan keilmuan di Sisilia. Jika mereka tidak mengetahui suatu hal maka mereka bertanya kepada para sarjana muslim. Frederick II contohnya, selalu menanyakan masalah matematika dan filsafat kepada para sarjana muslim. Ia memberi perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Sisilia. Di antara usahanya adalah mendirikan Universitas Naples pada tahun 1224 yang menjadi universitas tertua di Eropa. Dan sesaat sebelum tutup usia, Frederick II meminta untuk dikuburkan dengan menggunakan kain kafan. Tidak mengherankan jika raja-raja Norman disebut dengan “Sultan Kristen Sisilia” atau “Sultan-sultan yang dibaptis”.


Oleh: Mahardy Purnama

[i] untuk melihat gereja-gereja peninggalan kristen mozarab (mozarabic church) di Spanyol silahkan buka: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mozarabic_art_and_architecture