Minggu, 10 April 2016

05.53 - No comments

Dunia yang Datar












Pada tahun 1492 Colombus memulai ekspedisi pelayarannya menuju India. Dengan menggunakan tiga kapal: Nina, Pinta, dan Santa Maria, ia berlayar ke barat menyeberangi lautan Atlantik, yang diduganya bisa menjadi rute baru menuju Hindia Timur. Ia tidak mengarah ke Selatan, mengitari Afrika seperti yang telah dicoba penjelajah Portugis ketika itu.

Colombus berangkat dengan asumsi bahwa bumi bulat. Karena itu ia sangat yakin bahwa dengan berjalan ke barat, ia bisa mencapai India. Ternyata dia salah menghitung jarak. Ia mengira bumi lebih kecil daripada ini. Ia juga tidak mengira akan menemukan daratan sebelum mencapai Hindia Timur. Meskipun demikian, ia menamai penduduk asli yang ditemukannya di dunia baru itu sebagai “Indian” yang berarti orang India. Saat kembali, Colombus bisa mengatakan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, bahwa walaupun ia tidak menemukan India, ia dapat memastikan bahwa dunia itu memang bulat.

Berbeda dengan Colombus ketika itu yang berlayar membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai negeri baru yang kini disebut Amerika, kini manusia telah dapat melihat dan mengetahui informasi apa yang terdapat dalam negeri tersebut hanya dalam waktu singkat, dalam hitungan menit orang dapat mengetahuinya. Inilah yang dinamakan dunia tidak lagi bulat, melainkan dunia telah datar (flat).

Makna datar (flat) adalah semua orang bisa mengakses dunia global. Lapangan permainan untuk persaingan global sedang didatarkan. Dunia sedang didatarkan. Menurut Thomas L.Friedman, ada 3 gelombang globalisasi, yaitu:

Globalisasi pertama, berlangsung sejak 1492 ketika Colombus berlayar, membukan perdagangan antara Dunia Lama dan Dunia Baru, hingga sekitar tahun 1800. Proses ini menyusutkan dunia dari ukuran besar menjadi sedang. Globalisasi ini terkait dengan negara dan otot. Dalam globalisasi ini pelaku utama perubahan atau kekuasaan yang mendorong proses penyatuan global adalah seberapa gigih, seberapa besar otot, seberapa besar tenaga kuda, seberapa besar tenaga angin, dan seberapa besar tenaga uap yang dimiliki suatu negara serta seberapa besar kreativitas untuk memanfaatkannya. Pada masa ini, negara maupun pemerintah yang biasanya dipicu oleh agama, imperialism, atau gabungan keduanya mendobrak dinding dan menjalin dunia menjadi satu sehingga terjadi penyatuan global.

Globalisasi kedua, berlangsung dari sekitar tahun 1800 hingga 2000 dengan diselingi oleh masa Depresi Besar serta Perang Dunia I dan II. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Dalam globalisasi kedua ini, pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan ini mendunia demi pasar dan tenaga kerja, dengan dipelopori oleh Revolusi Industri serta ekspansi perusahaan-perusahaan yang bermodal gabungan dari Belanda dan Inggris. Pada paruh pertama masa ini, proses penyatuan global dimotori oleh jatuhnya biaya pengangkutan berkat mesin uap dan kereta api. Paruh berikutnya, proses penyatuan global dimotori oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit serat optik, World Wide Web versi amal. Kekuatan di balik globalisasi masa ini adalah terobosan di bidang perangkat keras, berawal dari kapal uap dan kereta api, hingga kemudian telepon dan computer induk.

Globalisasi ketiga, dimulai tahun 2000. Globalisasi ini menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil sekaligus mendatarkan lapangan permainan. Motor penggerak globalisasi ketiga ini adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Globalisasi ketig memungkinkan begitu banyak orang masuk dan turut bermain, karenanya akan dilihat manusia dari berbagai warna kulit ikut ambil bagian.  Tatanan dunia datar adalah konvergensi antara computer pribadi yang memungkinkan setiap individu dalam waktu singkat menjadi penulis materi mereka sendiri secara digita, serat optik yang memungkinkan mereka untuk mengakses lebih banyak materi di seluruh dunia dengan murah juga secara digital, serta perangkat lunak alur kerja yang memungkinkan individu-individu di seluruh dunia untuk bersama-sama mengerjakan suatu materi digital dari manapun, tanpa menghiraukan jarak antara mereka.
Menurut Friedman, ada sepuluh kekuatan yang mendatarkan dunia:

1.Runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 9 November 1989. Hal ini telah meruntuhkan kekuatan dan juga membebaskan semua orang yang terbelenggu di Kekaisaran Soviet. Kejadian tersebut berdampak besar sehingga mempengaruhi kekuasaan di seluruh dunia ke arah pemerintahan yang demokratis, berlandaskan konsensus, dan berorientasi pasar bebas, serta meninggalkan dukungan terhadap pemerintah otoriter yang menerapkan perekonomian terkendali secara terpusat.

2.Ketika Web Mendunia dan Netscape Memasyarakat (Zaman Konektivitas). Pada tahun 1995 PC-Windows mencapai masa stabilitasnya. Semua orang di seluruh dunia tiba-tiba dapat menuliskan materi mereka sendiri dalam bentuk digital.

3.Perangkat Lunak Alur Kerja. Terobosan besar pertama dalam alur kerja adalah penggabungan PC dan e-mail.  Bagian penjualan bisa menerima pesanan melalui telepon atau surat, memasukkannya ke sistem komputer, mengirim e-mail pesanan ke bagian pengiriman, lalu bagian pengiriman mengirim barang kepada konsumen, dan secara otomatis mengeluarkan faktur yang dicetak komputer pada saat yang sama. Dengan kata lain, PC berbasis Windows memberi kemampuan setiap orang di kantornya untuk menciptakan dan memanipulasi materi digital di ujung jari pada komputer meja mereka.

4.Uploading. Di sini semua orang berkolaborasi merancang perangkat lunak baru lalu meng-uploadnya ke seluruh dunia. Semua orang menawarkan berita dan opini mereka sendiri di web. Semua orang bisa menjadi produsen dan bukan hanya konsumen.

5.Outsourcing. Outsorcing berarti mengambil fungsi tertentu, yang dilakukan oleh perusahaan sendiri, seperti penelitian, call center, perhitungan piutang, dan meminta perusahaan lain melakukan fungsi yang persis  sama untuk perusahaan kita, lalu mengintegrasikan kembali pekerjaan mereka ke dalam operasional kita.

6.Offshoring. Offshoring adalah bila suatu perusahaan mengambil salah satu pabriknya yang beroperasi di Ohio, AS dan memindahkan seluruh pabrik ke luar negeri. Di luar negeri ini , pabrik itu memproduksi produksi yang persis sama dan dengan cara yang juga sama, hanya saja dengan upah lebih murah, pajak lebih rendah, energi tersubsidi, biaya pengobatan lebih rendah.

7. Supply chaining. Yaitu matarantai pemasok barang dan jasa.

8. Insourcing. Misalnya jasa pelayanan pengiriman parcel. Seperti FedEx, UPS (United Parcel Service), Tiki, GNE.

9.In-forming. Misalnya Google, Yahoo, dan MSN. Mesin pencari tersebut menjadikan semua pengetahuan di dunia ini mudah diperoleh dalam setiap bahasa.

10. Steroid.


Banten Abad XV-XXI Pencapaian Gemilang Penorehan Menjelang (Buku Karya Prof. Uka Tjandrasasmita)


Banten merupakan salah satu pusat perkembangan kepudayaan pada masa silam, khususnya pada masa penyebaran agama Islam. pelabuhan Banten merupakan salah satu pelabuhan yang paling penting di antara pelabuhan-pelabuhan lainnya di lingkungan Kerajaan Sunda. Ia telah berhubungan dengan jalur pelayaran dan perdagangan Internasional.

Di antara buku yang membahas tentang sejarah Banten adalah buku “Banten Abad XV-XXI Pencapaian Gemilang Penorehan Menjelang” karya Uka Tjandrasasmita. Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau makalah karya Uka Tjandrasasmita mengenai Banten. Uka Tjandrasasmita adalah salah satu pionir arkeologi Indonesia, karena itu banyak di dapat dalam buku ini pembahasan mengenai peninggalan-peninggalan fisik di Banten masa lampau seperti masjid, menara, kraton, makam, dan lain-lain.

1.      Sumber
Dalam buku ini, Penulis membahas tentang sumber sejarah sebagai jejak arkeologis yang dapat berupa artefak terutama benda-benda bergerak dan benda tak bergerak yang disebut feature. Jejak-jejak arkeologis yang diyakini tersebut kemudian diinventarisasi dan didokumentasikan. Jejak arkeologis Banten yang pernah dilacak dan diinventarisir serta didokumentasikan dapat diteliti atau dibaca antara lain dalam:
1.      Inventaris der Hindoe-oudheden ROD, 1914, Bat. Gen. van Kun Wetschpn. Batavia –‘s- Gravenhage, 1915, halaman 1-15, 20. Lalu Residentie Bantam Afdeeling Serang, Pandeglang, Lebak dan Afdeeling Tanggerang Residentie Batavia.

2.      Jejak-jejak arkeologis setelah tahun 1915 dari daerah Propinsi Banten masih banyak terdapat pada catatan-catatan yang terhimpun di lembaga yang mengurusi peninggalan sejarah dan purbakala atau benda cagar budaya baik di pusat maupun di daerah bersangkutan.

3.      Benda-benda yang khusus berasal dari masa prasejarah, seperti alat-alat kapak batu, pahat, beliung, dan lainnya dari periode Neolitikum/ masa bercocok tanam juga pada masa Hindia-Belanda telah banyak ditemukan dari beberapa tempat daerah Provinsi Banten kini, antara lain dari Serpong, Cihuni, Ciledug, Pandeglang dan lain-lain. Alat-alat batu tersebut telah diinventarisasikan dan tersimpan di museum hasil karya A.N.J Th. Van der Hoop, dalam Catalogus der Praehistorische Verzameling Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1941. Selain jejak arkeologis berupa alat-alat dari masa Batu baru termasuk alat-alat dari tanah liat berupa gerabah atau periuk belanga dari daerah Serpong. Demikian juga dengan jejak arkeologis dari zaman Perunggu dan zaman besi.

4.      Untuk mencari jejak arkeologis masa Kesultanan Banten dari awal abad ke-16 sampai akhir abad ke-19 diperoleh dari sumber-sumber seperti naskah-naskah kuno: Sejarah Banten, Hikayat Hasanuddin, Babad Cirebon, Babad Tanah jawi, Carita Purwaka Caruban nagari, dan lain sebagainya.

2.      Fakta sejarah

Uka Tjandrasasmita menuliskan banyak fakta yang tertuang dalam buku “Banten Abad XV-XXI” ini. Di antaranya:

1.      Berdasarkan jejak-jejak arkeologis yang telah ditemukan maupun dari puing-puing yang sebagian telah dipugar menandakan bahwa Banten (Surasowan) merupakan kota bersejarah yang amat penting dan sebagai pusat perdagangan internasional yang mencapai puncaknya pada abad ke-17 M. data historis berupa berita-berita Portugis, Inggris, Belanda, Prancis, Inggris, juga naskah-naskah kuno baik berisi sejarah maupun keagamaan sangat menunjang keberadaan Banten dengan ibukotanya sebagai kesultanan yang mempunyai peranan sejarah nasional maupun internasional.[1]

2.      Surosowan adalah pusat kerajaan Islam Banten ketika itu yang bertempat di Banten Lama dekat pantai. Dan sultan Hasanuddin, putra sunan Gunung Jati menjadi Sultan Banten pertama. Sultan Hasanuddin menikah dengan putrid Sultan Trenggana dan dinobatkan menjadi Raja Banten pada tahun 1522.[2]

3.      Pada abad ke-16 telah terjadi transaksi di pasar Banten dengan menggunakan mata uang sebagai alat pembayaran. Tomes Pires (1513) ketika mengunjungi beberapa pelabuhan di Pulau Jawa, mata uang yang dipakai sebagai alat tukar adalah mata uang Cina yaitu cash. Juga terdapat mata uang lain yang disebut Tumdaya, namun dapat disebutkan bahwa pada abad ke-16 cash merupakan uang yang paling utama sebagai alat tukar yang digunakan dalam perdagangan di Banten.[3]

4.      Dengan adanya bukti di atas, menandakan bahwa pada abad ke-16 kota Surosowan Banten sudah mendapat perhatian pedagang Internasional dan kelompok di sekitar Banten bukan hanya terdiri atas penduduk setempat saja tetapi juga orang-orang asing.

5.      Pada abad ke 16, Banten telah mendapat kemajuan bidang ekonomi dan perdagangan. Serta banyak orang asing terutama orang Asia melakukan hubungan dagang dengan Kerajaan Banten. Dari catatan tahun 1616 didapat keterangan bahwa orang Gujarat merupakan penghubung dengan pedagang asing dan penguasa kerajaan. Di Banten terdapat barang-barang mewah yang diperdagangka, yang menandakan tingkat konsumsi dari masyarakat Banten cukup tinggi. Barang-barang seperti permata dan obat-obatan menjadi komoditas perdagangan orang Persia dan orang-orang Arab.

6.      Tiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. Pada umumnya mereka mengadakan hubungan perdagangan barter dengan lada yaebagai bahan utama. Joudain mencatan bahwa tahun 1614 di Banten ada empat perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. Selain sebagai pedagang, orang Cinta banyak yang datang sebagai imigran. Mereka kemudian bermukim di sekitar pelabuhan Banten Lama, sekarang masih terdapat kampung yang disebut kampung Pacinan.

3.      Hal yang baru

Semua informasi dalam buku Banten Abad XV-XXI Pencapaian Gemilang Penorehan Menjelang” karya Uka Tjandrasasmita ini, kecuali Sultan Ageng Tirtayasa, adalah baru bagi saya. Baik itu sebelum informasi atau jejak-jeka peninggalan sejarah Banten sebelum abad ke XV, maupun setelahnya. Informasi mengenai Banten sebagai pusat perdagangan internasional dengan ibukotanya adalah Surosowan. Surosowan juga sebagai pusat kesultanan Banten dan Sultan Hasanuddin sebagai sultan Banten Pertama. Pada tahun 1526 ia menikah dengan putrid Sultan Trenggana.

-          Pada abad ke-16 telah digunakan mata uang sebagai alat pembayaran di pasar Banten. Dan yang digunakan adalah mata uang Cina.

-          Terhitung ada 22 raja/sultan yang memerintah di Banten sejak tahun 1525 hingga 1813.[4] Dan kesultanan Banten mencapai masa kejayaannya pada masa Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada tahun 1651

-          Keraton Surosowan sebagai pusat kesultanan Banten dihancurleburkan oleh Belanda pada masa pemerintahan Deandels. Ketika itu yang menjadi Sultan adalah sultan Muhammad Rafi’udin yang belum dewasa dan masih diasuh oleh Ratu Aisyah. Penyerbuan Belanda itu berlangsung lama pada tahun 1813 hingga 1832. Gedung-gedung dihancurkan dan ubin-ubinnya dipindahkan ke pemerintahan Belanda di Serang.[5] Setelah kejadian penghangcuran itu, keratin tersebut tidak pernah dibangun kembali yang tersisa adalah tembok benteng yang mengelilingi dengan sisi bangunannya.

-          Banten masuk jaringan “jalan sutra”. Pada masa lampau Banten melimpah dengan beras dan buah-buahannya. Berdasarkan berita dari Tome Pires yang ditulis antara tahun 1512-1515 menandakan bahwa Bandar Banten sangat penting untuk menjadi perhatian bagi pelayaran dan perdagangan internasional.

-          Pada masa sultan Ageng Tirtayasa pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi para pedagang asing dari Persia, India, Arab, Cinta, jepang, Filipina, Melayu, juga dari bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Prancis, Denmark. Hubungan persahabatan dan perdagangan dengan Inggris pada 10 November 1681 dengan menggunakan kapal Inggris dikirimkan utusan Sultan ke Inggris di bawah pimpinan Jaya Sadana.[6]






[1] Hal.9
[2] Hal. 27.
[3] Hal. 29.
[4] Lihat hal. 39.
[5] Lihat hal. 38.
[6] Hal. 71.

Historiografi Haji Indonesia (Buku karya Dr. M. Saleh Putuhena)


Ibadah haji merupakan salah satu di antara lima rukun Islam. sebagaimana ibadah yang lain, haji dalam pengamalannya melewati suatu proses yang dimulai dengan pengetahuan tentang haji, pelaksanaan haji, dan berakhir pada berfungsinya haji, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.

Telah banyak para ulama dan pakar syariah menulis tentang haji. Namun, mengenai sejarah haji di Indonesia masih bisa dihitung jari. Dan di antara karya penting mengenai sejarah haji Indonesia adalah buku Historiografi Haji Indonesia karya Dr. M. Saleh Putuhena, mantan Rektor IAIN Alauddin Makassar.

1.      Sumber-sumber Penulisan
Sumber penulisan Historiografi Haji Indonesia:
1.      Buku ini menjadikan al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai sumber primer. Meskipun al-Qur’an bukan sebuah buku sejarah, sebagian dari ayat-ayatnya memberikan informasi sejarah. Demikian pula dengan hadis sebagian di antaranya menginformasikan fakta-fakta sejarah.

2.      Sumber kedua adalah literatur-literatur tentang Haji Indonesia, seperti Het Mekkaansche Feest dan Mekka In the Latter Part of th 19th Century karya Dr. Christian Snouck Hurgronje. Karya yang disebut pertama adalah disertasinya untuk memperoleh gelar doctor dalam Sastra Semit pada Universitas Leiden tahun 1880. Bagian pertama buku ini menerangkan pengaruh haji Jahiliah terhadap Islam. pada bagian kedua, membahas persoalan persiapan untuk pelaksanaan ibadah haji dan upacara-upacara di mekah. Bagian ketiga uraiannya bertalian dengan haji dan tipografi tempat pelaksanaan haji serta upacara haji pada tempat-tempat tersebut.[1] Literatur lain yang dijadikan sumber rujukan oleh penulis adalah disertasi dari Abdoel Patah berjudul De Medische Zijde van de Bedevaart naar Mekka. Buku ini menjelaskan tentang kondisi kesehatan jamaah haji Indonesia yang disertai dengan uraian tentang patologi dan terapinya. Dan masih banyak buku lainnya yang dijadikan rujukan di dalam penulisan buku ini.

3.      Dokumen pemerintah Belanda. Seperti bundle yang berisi laporan dan surat menyurat antar Konsulat Belanda di Jeddah, dan beberapa dokumen lain yang berbicara tentang berbagai masalah yang bertalian dengan haji.

2.      Fakta-fakta Sejarah
Banyak sekali fakta sejarah yang tertuang dalam buku ini, di antaranya adalah:
1.      proses pelaksanaan haji yang telah dilaksanakan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Dalam al-Qur’an tercantum bahwa Nabi Ibrahim setelah membangun kembali Ka’bah, diberikan petunjuk tentang tata cara haji (Q.S. al-Baqarah: 127-128). Demikian juga beberapa nabi lainnya.[2]

2.      Orang-orang Arab pra Islam juga melaksanakan haji. Mereka masih memelihara tradisi Nabi Ibrahim meskipun tradisi itu kemudian diselewengkan. Misalnya mereka melaksanakan tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana baik itu laki-laki maupun perempuan.  Dari rekonstruksi pelaksanaan haji pada masa Jahiliah terdapat unsur-unsur manasik Nabi Ibrahim. Hal ini menandakan bahwa pada waktu itu suku-suku Arab masih mengikuti millah Ibrahim. Meskipun ajaran Nabi Ibrahim yang murni tersusupi oleh tradisi-tradisi jahiliah.[3]

3.      Peristiwa Haji Wada’ atau haji perpisahan. Nabi Muhammad hanya sekali melaksanakan ibadah haji, yaitu dikenal dengan Haji Wada’. Tidak terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Dikenal dengan Haji Wada’ karena tidak lama setelah itu Nabi wafat.

4.      Adanya hubungan antara Nusantara dengan Jazirah Arab melalui perdagangan dengan jalur pelayaran melalui anak benua India yang berlangsung sejak abad pertama Masehi.[4] Pedagang dari India menggunakan kapal yang digunakan oleh para pedagang. Mereka berasal dari India bagian selatan. Dari daerah asalnya, mereka mengangkut berbagai macam komoditas perdagangan untuk ditukar (barter) denga hasil pertanian Nusantara. Pedagang-pedagang India itu kemudian menjual barang komoditas dari Nusantara kepada pedagang-pedagang Arab, terutama Yaman. Hubungan perdagangan India dengan Arab Selatan sudah terkenal sejak dahulu. Perahu Arab secara regular berlayar ked an dari India demikian pula sebaliknya dengan perahu India.[5]

5.      Pada abad XVII terdapat orang Nusantara yang berkunjung ke Hijaz untuk belajar di Mekah dan Madinah.[6] Di antara mereka ada yang merantau untuk belajar sambil melaksanakan ibadah haji. Dari sejumlah orang yang tercatat telah melaksanakan ibadah haji pada abad XVII pada umumnya terdiri dari mereka yang bermaksud untuk melanjutkan studinya di Hijaz.[7]

3.      Pendekatan yang dipakai
Selain pendekatan sosiologi, dalam buku ini juga menggunakan pendekatan politik. Pada halaman 251 penulis menulis bab VII dengan judul Haji dan Politik, di dalamnya banyak menggunakan pendekatan politik. Misalnya penulis membahas tentang konflik atau pertentangan antara kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib dan pendukung Khalifah Utsman bin Affan, pertentangan Aisyah dengan Muawiyah dan lainnya. Kemudian peranan orang-orang yang telah berhaji dalam ikut serta pada peperangan melawan penjajah Belanda di berbagai daerah di Nusantara.

4.      Hal-hal yang baru
Banyak hal atau informasi baru yang didapat dari buku ini, beberapa di antaranya adalah:
1.      Berdasarkan sumber-sumber yang didapat diidentifikasi bahwa mereka yang pertama kali melaksanakan haji bukan jama’ah haji, melainkan para pedagang, utusan sultan, dan para musafir penuntut ilmu. Sejak abad XVI hingga abad XVII mereka telah berkunjung ke Hijaz untuk melaksanakan pekerjaan masing-masing sambil melaksanakan ibadah haji.[8]

2.      Pada permulaan abad XVI telah dijumpai pribumi Nusantara di Mekah yang kemungkinan besar mereka adalah pedagang yang adatang dengan kapalnya sendiri. Jama’ah haji yang dijumpai oleh Louis Berthema di Mekah pada 1503 barangkali adalah orang-orang Nusantara yang melaksanakan haji. Mereka adalah pedagang dan pelayar yang berlabuh di Jedah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekah. Kemudian sebuah sumber Venesia melaporkan bahwa pada 1556 dan 1566 terdapat lima buah kapal dari Aceh yang berlabuh di Jeddah.[9] Sebelumnya pada abad XV, belum ditemukan pedagang Nusantara di pelabuhan internasional yang tersebar antara Nusantara dengan Arab.[10]

3.      Kemudian pada abad XVII, mulai terdapat orang Nusantara yang berkunjung ke Hijaz dengan maksud untuk belajar di Mekah dan Madinah. Mereka selain menuntu ilmu dan bermukim di Hijaz selama beberapa waktu juga melaksanakan ibadah haji.

4.      Mengenai hubungan antara Arab dengan Nusantara. Pedagan Arab yang semula hanya berlayar sampai ke India, sejak abad VIII mulai masuk ke Nusantara dalam rangka perjalanan ke Cina. Meskipun hanya sekedar transit, hubungan Arab-Nusantara menjadi bersifat langsung. Pelayaran ke Nusantara menjadi semakin ramai ketika pedagang arab dilarang masuk ke Cina. Sejak saat itu, para pedagang Arab lebih banyak lagi yang singgah dan menetap di Indonesia. Dan sejak saat itu mulai terbentuk komunitas Arab di Indonesia.

5.      Pada tahun 977 M, pedagang Arab telah mendapat kepercayaan dari kerajaan Sriwijaya untuk menjadi utusan resmi pemerintah ke Cina. Mereka dipilih karena lebih menguasai dan memahami keadaan di Cina dan mempunyai keahlian dalam berdiplomasi.[11]



[1] Lihat hal. 13.
[2] Lihat hal. 21.
[3] Lihat hal 30.
[4] Lihat hal 68.
[5] Lihat hal. 70.
[6] Lihat hal 107.
[7] Lihat hal. 110.
[8] Hal. 105.
[9] Hal. 105
[10] Hal. 76.
[11] Hal. 86.