Selasa, 13 Juli 2021

Masjid Jin, Kisah Para Jin Masuk Islam

Di masa Rasulullah, para jin menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah dan berbaiat kepada beliau. Lokasi tempat para Jin berbaiat itu dibangun sebuah masjid yang dinamakan Masjid Jin.

Masjid Jin terletak di sebelah kiri jalan ke arah Pekuburan Ma’la, samping jembatan penyeberangan, Makkah. Masjid ini juga dinamakan Masjid Al-Bai’ah karena di tempat ini para jin berbaiat dan menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kisahnya, serombongan Jin berasal dari Nasibain, sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Irak dan Suriah, sedang melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka mendengar bacaan Alqur’an dan mereka takjub dengan bacaan tersebut.

Ternyata saat itu, Rasulullah bersama beberapa orang sahabat sedang melaksanakan shalat berjamaah dan Rasulullah yang memimpin shalat. Beliau membaca surah Ar-Rahman, yang di dalamnya terdapat ayat yang berbunyi, “Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Para jin itu ikut bergabung dan duduk di belakang para sahabat yang sedang melaksanakan shalat. Ketika Rasululullah membacakan ayat surah Ar-Rahman itu, para jin berkata, “Wahai Tuhan kami, tidak ada sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan.”

Seusai shalat, pemimpin jin itu mendatangi Rasulullah. Ia ingin mendengarkan ayat-ayat Alqur’an lebih banyak lagi. Maka pergilah para rombongan jin itu bersama Rasulullah ke suatu tempat. Kemudian Rasulullah membacakan ayat-ayat Alqur’an kepada mereka. Mereka pun memeluk Islam. Setelah menjadi muslim, rombongan jin itu pulang ke kampung mereka dan mulai mendakwahkan Islam kepada kau mereka.

Allah kisahkan dalam Alqur’an: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alqur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.”

Mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alqur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahqaf: 29-32)

Jin Mukmin dan Kafir

Jin adalah salah satu makhluk yang diciptakan dari api, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 26-27).

Mereka ada yang beragama Islam, ada yang Kristen, Hindu, Yahudi, bahkan Atheis. Mereka makan dan minum, dan melahirkan keturunan sama seperti manusia. Hanya saja manusia tidak bisa melihat wujud asli mereka.

Dalam hadits Muslim disebutkan Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian makan, hendaklah makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum, hendaklah dia minum dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” Ini menunjukkan bahwa setan, yang termasuk kalangan jin, juga makan dan minum seperti manusia.

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu menuturkan, “Sesungguhnya para jin turun untuk menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang saat itu sedang membaca Alqur’an di Bathn Nakhlah. Ketika mendengarkan Alqur’an mereka berkata kepada sesamanya, “Dengar dan perhatikanlah!” Mereka berjumlah sembilan jin, salah satunya adalah Zubiah (Zauba’ah).

Maka Allah menurunkan ayat “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alqur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29).


Penulis: Mahardy Purnama

Selasa, 22 Juni 2021

Bait Syair Sultan Idrus Kaimuddin Al-Butuni

 


Sultan Idrus Kaimuddin, salah satu sultan berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Buton. Bukan saja karena ia seorang pemimpin (amir), tapi juga karena ia seorang berilmu (alim-ulama). Ia juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Bait-bait  syairnya memuat nasihat-nasihat penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), menunjukkan kedalaman pemahaman agama dan kebersihan hatinya. Ia menasihati dirinya agar mengingat bagaimana awal kali ia tercipta yakni dari setetes air yang hina (mani).

Sabtu, 20 Maret 2021

Hafal Alqur'an itu Mudah

Di antara tanda kemukjizatan Alqur’an itu adalah ia sangat mudah dihafal. Anda bahkan bisa menghafalnya tanpa harus bisa membacanya. Saya pernah mendapati seorang anak usia 4 tahun menghafal surat An Naba, An-Naziat, dan Abasa (tiga surat awal juz 30) padahal anak itu sendiri belum pandai membaca huruf hijaiyah. Dia hanya dididik menghafal dan mendengar. Lalu melekat dalam memori si anak.

Anda bahkan bisa mengingat dengan baik surat Al Kahfi hanya karena Anda meruntinkan membacanya tiap hari Jumat, tanpa susah payah menghafalnya. Benarlah firman Allah yang diulang-ulang dalam surat Al Qamar.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Furqan: 17).

Tapi Alqur’an bukan hanya soal menghafal. Mungkin dengan sekali duduk antara Maghrib sampai Isya Anda akan mampu menghafal satu halaman Alqur’an atau bahkan lebih bagi yang paham bahasa Arab. Tapi ia akan hilang ketika Anda bangkit dari duduk lalu pulang ke rumah. Dengan hanya menghafal saja hafalan akan mudah hilang.

Jadi lebih dari itu, Alqur’an adalah sejauh mana ketekunan Anda menulang-ulang hafalan. Seperti surat Al Kahfi yang mungkin sebagian kita mampu menghafalnya dengan baik hanya karena diulang ulang setiap Jumat. Atau yang paling simpel surat Al Fatihah yang begitu lancar dibaca karena kita mengulangnya setiap shalat.

Intinya, mulailah menghafal, lalu rutinkan untuk mengulang hafalan itu. Jangan lupa berdoa kepada Allah untuk selalu didekatkan dengan Alqur’an dan dimudahkan menghafalnya.

Kamis, 09 Juli 2020

Asma binti Umais Wanita Dua Hijrah



Wanita kali ini adalah wanita yang mendapatkan keuntungan sebagai salah seorang yang mula-mula masuk Islam. Ia masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah sahabat Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzumi. Rumah tempat beliau menyeru orang-orang untuk masuk Islam di Makkah.

Dia adalah Asma binti Umais bin Ma’ad Al-Khats’amiyah. Istri seorang pemimpin syahid dan lambang para mujahid, Ja’far bin Abi Thalib, anak paman Rasulullah yang dijuluki “Pemilik dua sayap”.

Orang-orang di Makkah yang memeluk Islam terus mendapat tekanan dan siksaan dari orang-orang musyrik Quraisy. Tidak terkecuali Asma binti Umais dan suaminya. Untuk menyelamatkan keimanan mereka, Rasulullah memerintahkan sebagian umat Islam untuk berhijrah ke Habasyah. Di sana mereka akan hidup tenang di bawah naungan Raja Najasy yang adil.

Asma berangkat didampingi suaminya, Ja’far, sekaligus sebagai pemimpin para muhajirin ke bumi Habasyah. Mereka berdua tinggal di sana selama beberapa tahun. Dan baru kembali setelah delapan tahun Rasulullah tinggal di Madinah. Ja’far adalah orang yang cerdas dan fasih lisannya. Melalui dirinyalah Raja Najasy masuk Islam. Dan kaum Muslimin hidup di bawah naungan keadilan dan betah tinggal di dekatnya.

Di Habasyah, Asma melahirkan anak-anaknya, yaitu Abdullah, Aun, dan Muhammad. Ketika ia baru melahirkan Abdullah, Raja Najasy juga baru saja memiliki anak. Sehingga ia mengirim surat kepada Ja’far dan menanyakan nama anaknya. Ja’far menjawab bahwa nama anak mereka Abdullah. Akhirnya Najasy menamakan anaknya Abdullah.

Asma mengambil anak Najasy dan menyusuinya hingga disapih bersama anaknya sendiri. Itulah salah satu sebab Asma mendapatkan kedudukan yang terhormat di kalangan rakyat dan Raja Habasyah.

Hijrah Kedua

Hijrah Asma yang kedua adalah hijrah ke Madinah Al-Munawwarah pada tahun ketujuh hijriah. bertepatan dengan penaklukan Khaibar yang dilakukan oleh Rasulullah. Jadi hijrah Asma merupakan hijrah setelah hijrah. Rasulullah menyebut para Muhajirin dari Habasyah dengan sebutan Muhajirin dengan dua hijrah.

Ketika tiba di Madinah, Umar menyambut mereka dan mengatakan, “Wahai wanita Habasyah, kami mendahului engkau dalam berhijrah.” Asma menjawab, “Demi Allah engkau benar. Engkau selalu bersama Rasulullah, memberi makan orang yang kelaparan, dan mengajar mereka yang bodoh. Adapun kami terbuang sangat jauh.”

Namun pandangan Rasulullah berbeda. Beliau bersabda, “Semua manusia memiliki satu hijrah, sedangkan kalian memiliki dua hijrah. Kalian semua berhijrah kepada Najasy, lalu berhijrah kepadaku.” Satu keutamaan yang tidak dimiliki banyak orang, termasuk Umar bin Khatthab.



Hafalan Hadits

Asma binti Umais cukup banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang menandinginya dari kalangan para wanita Muhajirah dalam hal ini kecuali Ummul Mukminin Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma.


Ia meriwayatkan 60 buah hadits dari Rasulullah. Dari kalangan sahabat yang meriwayatkan hadits darinya adalah Umar bin Khatthab, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Ja’far. Adapun dari kalangan tabi’in di antaranya dalah Urwah bin Zubair, Abdullah bin Syidad, Sa’id bin Musayyib, Asy-Sya’bi, Al-Qasim bin Muhammad.

Senin, 13 April 2020

Beda Pakar dan Awam

Renaisans di Eropa ditandai dengan munculnya para seniman-seniman hebat di utara Italia, Florence. Barangkali yg paling populer adalah Leonardo Da Vinci dgn lukisannya semisal: Mona Lisa dan The Last Supper. Dua lukisan paling terkenal yg lahir dari tangan Da Vinci. Wajarlah kemudian orang2 Barat sangat menghargai seni sebab ia satu bentuk perlawanan terhadap tradisi Abad Tengah yg kaku didominasi oleh gereja.
Renaisans berlalu, masuk zaman pencerahan, lalu romantisisme dan sampailah ke zaman modern. Kita temukan pembagian zaman ini dalam sejarah peradaban Barat. Tiap zaman, berbeda pula gaya dan corak para seniman seniman kanvas. Aliran aliran baru mulai muncul.
Menjelang-sampai awal abad modern muncul banyak seniman dgn berbagai gaya baru. Semisal Van Gogh & Munch dgn impresionisnya, Picasso dgn kubisme-nya, atau Mondrian dgn seni abstraknya.
Kalau mau jujur, tiap tatap lukisan2 mereka, saya yg awam seni, yg hanya bisa gambar pemandangan sawah dan gunung serta matahari dan awan di atasnya, merasa lukisan mereka seperti lukisan anak kecil yg baru belajar lukis. Atau lukisan asal jadi. Lihatlah lukisan Paul Klee "Cat & Bird", lukisan terkenal The Screamnya pelukis Norwegia, Edvard Munch, lukisan corak kubiknya Picasso, atau Tree Graynya Piet Mondrian. Asal gambar sy bilang. Tidak ada menarik-menariknya.




Barangkali kalau sy bilang seperti itu di depan para seniman, atau di depan murid-muridnya Affandi atau minimal mahasiswa IKJ jurusan seni lukis, sy kan ditertawakan. Tau apa orang awam soal lukisan. Sentuh kuas lukis saja tidak pernah, bedakan cat minyak sama cat air saja tidak bisa. Kira kira begitu pendapatnya. Begitulah, kita hanya orang awam yg cuma tau kulit luar. Ngintip juga tidak pernah mungkin.
Penonton bola paling tau itu. Kita biasa paling jago mengkritik pemain pro yg bertanding di lapangan. Padahal kita sendiri tidak rutin latihan, tidak pernah dilatih coach pro, bahkan tidak punya bola di rumah.
______________________________
Sebenarnya, sama, dalam kondisi kita sekarang ini. Para dokter menyuruh kita banyakan tinggal di rumah, pakai masker kalau keluar, tidak berkerumun, untuk mencegah tersebarnya virus mematikan. Mereka bukan menghalangi kesenangan kita. Tapi semata mata untuk kebaikan orang banyak. Karena mereka ilmui itu. Kita barangkali yg awam masalah kedokteran, virus virusan, baiknya ikut saja tanpa banyak tanya.
Begitu pula para alim ulama, menyuruh kita untuk sementara tidak berjamaah dulu di mesjid bahkan jumat ditiadakan dulu untuk sementara waktu, bukan niat menghalangi kita dari rumah Allah. Tapi dengan ilmu yg mereka miliki menasihati kita para awam ini untuk kebaikan kita. Kita barangkali beragama lebih dengan perasaan daripada ilmu, tapi mereka dengan ilmu mendalam yg mereka punya.
Dan ilmu itu tidak datang lewat mimpi melainkan mereka dapat dengan belajar, mengurangi jatah tidur, melakukan perjalanan lintas benua, bahkan dengan habiskan harta yg mereka punya semata2 untuk dapatkan ilmu warisan para nabi tersebut. Dan menghargai ilmu yg mereka punya ada hal yg baik untuk kita kerjakan. Bukankah ulama pewaris para Nabi?


Jumat, 27 Maret 2020

Firasat Ibnu Thulun



Suatu hari, seorang pengemis dengan mengenakan pakaian lusuh datang saat Ibnu Thulun (ahmad bin Thulun) sedang duduk santai. Ibnu Thulun adalah pendiri Dinasti Thuluniyah yang pernah berkuasa di Mesir antara tahun 868 sampai 905 M.  

Ibnu Thulun lalu menyuruh seorang pelayannya agar memberikan roti campur ayam dan manisan kepada pengemis itu.

Ketika orang itu memegang roti tersebut, tampak ia tidak tertarik dan tidak juga mempedulikan roti yang dipegangnya. Ibnu Thulun lalu memerintahkan kepada pelayannya untuk memanggil pengemis itu menghadap padanya.

Di depan Ibnu Thulun, pengemis itu berdiri dengan percaya diri. Saat ditanya pun, ia menjawab dengan baik dan lancar serta pembawaannya tenang.

Ibnu Thulun berkata, “Berikan kepadaku surat yang kau bawa, dan jujurlah padaku siapa yang mengutusmu. Sungguh aku yakin bahwa kau adalah seorang pencari informasi (mata-mata)!”
Orang itu tidak mau mengaku. Tapi ketika Ibnu Thulun mengeluarkan cambuk dan hendak mencambuknya akhirnya ia mengaku bahwa benar ia seorang yang diperintahkan untuk memata-matai Ibnu Thulun.

Para pengawal terheran-heran dengan kehebatan Ibnu Thulun dapat mengatahui orang itu sebagai mata-mata. “Ini adalah sihir,” kata mereka. Maka Ibnu Thulun berkata, “Ini bukan sihir, tapi firasat yang baik. Aku lihat dia seperti pengemis lalu aku beri makanan yang akan mengenyangkannya. Tapi dia tidak peduli dan menolak pemberianku.”

“Lalu dia aku panggil. Dia menemuiku dengan percaya diri dan tenang. Saat aku lihat penampilannya yang seperti itu, maka tahulah aku bahwa dia seorang pencari informasi. Dan ternyata dugaanku benar.”

Minggu, 23 Februari 2020

Novel: Musim Berganti di Hiroshima



Novel pertama saya. Terinspirasi dari Kak Iwan, sensei juga babang saya yang pernah kerja dan tinggal di Hiroshima selama tiga tahun. Kak Iwan banyak bercerita tentang pengalamannya tinggal di sana. Soal budaya, makanan, pergaulan, dan cara dia menjalankan ibadah sebagai seorang muslim di negeri asing tersebut.

Hiroshima kota yang tidak asing bagi kita yang suka sejarah. Ia adalah kota yang pernah merasakan dahsyatnya senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia, bom atom. Peristiwa itu terjadi pada 6 Agustus 1945. Hiroshima dan Jepang pada umumnya selalu menarik untuk dikisahkan.

Karena kisah-kisah yang saya dengar dari Kak Iwan, maka saya mengangkat Muhammad Riswan atau Risu-san sebagai tokoh utama. Ia melanjutkan studi di Hiroshima dan tinggal bersebelahan dengan seorang gadis Jepang bernama Misaki Nagasawa. Misaki yang hampir bunuh diri bertemu dengan Riswan. Dalam beberapa kesempatan, ia bertanya pada Riswan tentang agamanya, tentang Tuhan. Apakah ia benar-benar ada?

Judul: Musim Berganti di Hiroshima
Penulis: Mahardy Purnama
Tebal: 271 halaman
Penerbit: Alqalam Media Lestari

Sabtu, 01 Februari 2020

Kemajuan Barat dan Kemunduran Islam (Sebuah Catatan Ringan)

Bom Atom Hiroshima 1945

Tidak jarang kita temukan status di medsos yang merendahkan Islam sebagai agama yang kolot dan jauh dari peradaban maju. Isinya cuma shalawat, zikir, dan semisalnya. Sebaliknya mereka meagung-agungkan peradaban dan sains Barat. Yang lucunya, kadang ditulis oleh orang yang mengaku sebagai Islam. Karena kagum (apa minder?) dengan kemajuan Sains dan teknologi Barat, agamanya yang jadi sasaran (Islam) buli. Untuk membahas kemunduran dunia Islam dan kemajuan Barat mestinya harus fair, harus dengan kepala jernih, hati yang tenang. Jangan karena terlanjur benci seorang atau oknum, malah menyerang Islamnya, asal lagi.

Perlu diketahui, Barat maju dari sisi sains dan peradaban seperti sekarang ini tidak dengan mengedipkan mata. Butuh waktu panjang antara awal munculnya para seniman Firenze di Italia sebagai awal Renaisans Eropa (Abad 14) dengan masa James Watt mematenkan mesin uap (1780) yang kelak mampu menggerakkan kereta pertama kali puluhan kilometer dari Liverpool ke Manchester (1830) sampai kemudian masa fisikawan Einstein (Abad 20) mengemukakan formula terkenalnya E=MC2 yang dengannya bom atom tercipta. Butuh 4-5 Abad bagi Barat untuk menjadi negara maju dan modern.
Sekarang kita lihat dunia Islam. Sejak Kesultanan Usmani mengambil alih Konstantinopel, Islam terus mengalami kemunduran, sampai akhirnya bangsa Barat menjajah dari abad 16-20. Dunia Islam baru kembali berbenah setelah lepas dari kolonialisme barat, dan itu belum lewat seabad. Sekarang baru mulai nampak perkembangan Islam yang dimulai dengan kesadaran umatnya terhadap agamanya. Dimulai dengan kepedulian mereka kepada ilmu, pada Al-Qur’an, pada masjid, pada sekolah-sekolah Islam. Ini ciri majunya peradaban Islam. Dan Insyaallah kepedulian umat Islam akan sains dan teknologi terus berkembang di tahun-tahun mendatang. Jika Barat butuh berabad-abad, seharusnya beri kesempatan juga kepada (umat) Islam untuk maju.

Para sarjana, saintis, dan ilmuwan Islam yang membawa peradaban Islam maju di masa silam adalah orang-orang yang ditempa dengan ilmu agama lebih dulu. Mereka lebih dulu mempelajari ilmu keislaman semisal Al-Qur’an, Hadits, bahasa Arab, Fiqih, lalu mempelajari ilmu umum semisal kimia, astronomi, kedokteran, dan sebagainya. Satu contoh Ibnu Sina (Avicenna), dokter yang pengaruhnya sampai ke Eropa, tapi dia juga seorang penghafal Al-Qur’an. Demikian pula Ibnu Rusyd, Az-Zahrawi, Al-Khawarizmi, dan selainnya.

Jadi dalam Islam sains harus dibimbing oleh agama. Tidak seperti yang terjadi di Barat (Eropa). Di Abad Tengah mereka tertinggal, kita kenal dengan Zaman Kegelapan (Dark Age), sebab di masa itu gereja mendominasi semua lini kehidupan sampai para ilmuwan dihukum jika pendapatnya berseberangan dengan otoritas gereja. Karena trauma dengan agama, mereka kemudian menjadi manusia-manusia sekular-liberal, ateis. Sains mereka terpisah sama sekali dari agama.

Ketika sains dan teknologi yang mereka kembangkan tak mendapatkan bimbingan agama, lihatlah yang terjadi. Di satu sisi teknologi semakin maju, di sisi lain bumi rusak akibat tangan-tangan mereka. Hewan-hewan banyak punah dan jutaan terancam kehilangan habitat. Global warming yang selalu mengancam. Sampai terancamnya nyawa milyaran manusia. Sangat wajar jika Prof.Syed Naquib Al-Attas mengklaim bahwa tidak pernah ada peradaban manusia yang membahayakan umat manusia, hewan, tumbuhan, dan bahan mineral seperti peradaban Barat. Peradaban yang kita semua hidup dan saksikan di masa sekarang ini.

Lihatlah ketika sains tidak dibimbing dengan agama, Jepang dengan rudal dan jet tempurnya menjajah negeri-negeri Asia sampai kepulauan pasifik di masa Perang Dunia 2, Nazi Jerman pun demikian memproduksi V2 yang siap membombardir musuh-musuhnya yang tak berdosa. Di saat yang sama para pakar fisika Amerika di Manhattan mendahului lainnya memproduksi senjata pemusnah massal yang paling mengerikan dalam sejarah manusia, hasil dari teori E=MC2-nya Einstein: Bom Atom. Kita dapat lihat sendiri bagaimana senjata mengerikan itu dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki 6 dan 9 Agustus 1945. Ke depannya, ketika para ilmuwan menciptakan robot-robot canggih semisal AI secara masal, Anda mungkin akan terusir dari dunia kerja dan digantikan dengan robot-robot yang kecerdasannya jauh melampaui kecerdasan Anda. Bahkan bisa menyingkirkan Anda dari dunia ini seperti yang Anda nonton di film-film Hollywood. Apa yang mau dibanggakan dari kemajuan Sains semacam itu?

Lagipula bukan cuma di sebagian dunia Islam yang tertinggal. Lihatlah mereka yang tertinggal di Filipina, atau di negeri-negeri Afrika, di pedalaman Amazon, apa mereka beragama Islam. Bukan! Jadi fairlah menilai.

Hadeh, Kita cukupkan dulu. Lelah hayati….

Senin, 13 Januari 2020

1947, Ucapan Selamat Dari Mesir



MERDEKA!!

Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364, hari di mana Soekarno membacakan Teks Proklamasi di hadapan rakyat Jakarta, rakyat Indonesia, yang isinya “Menyatakan kemerdekaan Indonesia”.

Namun, berita Indonesia dari tangan penjajah tidak serta merta langsung tersiar ke luar negeri.  Dulu, radio milik rakyat gelombang luar negerinya disegel oleh penjajah. Butuh waktu yang tidak singkat serta perjuangan hidup dan mati juga, agar berita kemerdekaan ini sampai ke luar negeri.

Berkat Pemancar Radio Malabar Bandung, berita ini akhirnya sampai ke luar negeri. Pertama kali didengar oleh mahasiswa Indonesia di Bagdad, Irak. Lalu menyebar ke Mesir dan negara lainnya.

Datanglah ucapan selamat dan pengakuan dari berbagai negara atas kemerdekaan Indonesia. Pertama datang dari Mesir pada Maret 1947 diikuti negara lainnya seperti Lebanon, Suriah, Irak, Afganistan, Arab Saudi di tahun yang sama. Dua tahun setelah pembacaan teks proklamasi oleh Presiden Soekarno.

Di tahun itu, semua ucapan selamat dan pengakuan tersebut rata-rata datang dari negara-negara Timur Tengah. Tidak ada satu pun yang datang dari negeri penjajah apalagi negeri komunis. Menariknya, pengakuan negara NKRI dari negeri yang pernah menjajah Indonesia, Kerajaan Belanda, datang pada Hari Kemerdekaan RI ke-60.

Bukan kata saya, kata sejarawan Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah-nya Jilid Kedua.

Merdeka!!

Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira



Dari hari ke hari, perbuatan penduduk Makkah semakin memprihatinkan. Berbagai macam kejahatan telah mereka lakukan. Menyembah berhala, membunuh jiwa, zina merebak, dan yang kuat menindas yang lemah. Perbuatan-perbuatan hina mereka membuat Muhammad banyak merenung dan menyendiri ke gua hira.

Dahulu, sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi ada empat orang di Makkah yang disebut hanafiyyun (hanif). Mereka menolak untuk menyembah patung-patung yang disembah masyarakat Arab. Di antara patung yang terkenal di Hijaz adalah Hubal, Lata, Uzzah, dan Manat.

Dua dari empat orang itu adalah Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr. Mereka berdua berusaha mencari agama yang benar. Waraqah memilih untuk memeluk Kristen mempelajari kitab agama Kristen yang asli.

Sementara Zaid bin Amr orang yang menentang keras penyembahan terhadap berhala hingga ia diusir dari Makkah. Dia mencari agama nenek moyangnya, Nabi Ibrahim, yang telah dilupakan oleh orang-orang Quraisy. Ia menuju Syam dan Irak untuk bertanya kepada para pendeta dan rahib tentang agama Ibrahim alaihissalam.

Ketika meninggalkan Makkah, Zaid berdiri di dekat Ka’bah dan berkata lantang kepada orang-orang Quraisy yang sedang berdo’a, “Wahai Quraisy, Demi Dia yang Tangan-Nya lah terletak jiwaku. Tak seorangpun dari kalian mengikuti agama Ibrahim kecuali aku.” Ia juga berdo’a, “Wahai Rabb, seandainya aku tahu bagaimana Engkau ingin disembah, begitulah aku akan menyembah-Mu, tetapi aku benar-benar tidak tahu.”

Setelah bertanya kepada para pendeta dan rahib di kota yang ia kunjungi dan mereka mengabarkan bahwa akan ada Nabi yang muncul di Makkah, maka Zaid kembali ke Makkah. Namun di perbatasan selatan Syiria ia diserang hingga tewas. Dia tidak pernah berhubungan dengan Nabi Muhammad.

Di Gua Hira

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahan melihat kondisi kaumnya yang telah rusak akhlaknya. Ia memilih banyak menyendiri. Ia menjauh dari pesta-pesta yang riuh di Makkah. Menghindar dari mabuk-mabukan yang menjadi kebiasaan orang-orang Quraisy. Kekecewaannya semakin hari semakin bertambah.

Akhirnya ia memilih menyendiri ke Gua Hira yang jaraknya sekitar dua mil dari Makkah. Di sanalah ia bisa merenung menghabiskan waktu sendiri tanpa melihat berhala-berhala yang selalu disembah penduduk Makkah. Setiap tahun selama tiga tahun berturut-turut, beliau menghabiskan bulan Ramadhan di dalam gua tersebut.

Tidak ada yang menyangka, di gua itulah malaikat Allah, Jibril ‘alaihissalam turun dan menyampaikan wahyu kepadanya. “Bacalah!”. Dia akan menjadi manusia utusan Allah yang akan memperbaiki kondisi penduduk Makkah. Lebih dari itu, ia akan diutus untuk mengubah kondisi seluruh umat manusia.


Senin, 18 November 2019

Orhan Pamuk Peraih Hadiah Nobel Sastra


Orhan Pamuk

Pada tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, novelis muslim asal Turki meraih penghargaan Nobel dalam bidang sastra (Nobel Prize in Literature). Ia menjadi satu-satunya muslim yang memenangkan penghargaan bergengsi tersebut dalam bidang sastra.

Awalnya, Pamuk mahasiswa teknik di Universitas Teknik Istanbul. Keluarganya menginginkan Pamuk menjadi seorang arsitek. Akan tetapi, setelah tiga tahun, Pamuk keluar dari universitas tersebut dan fokus menulis.

Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi di Institut Jurnalis di Universitas Istanbul, dan lulus pada tahun 1976. Karya pertamanya berjudul Karanlik ve Isik (Darkness and Light) yang terbit pada tahun 1979 berhasil meraih penghargaan Milliyet Press Novel.

Sejak itu, Orhan Pamuk terus melahirkan karya yang mengantarnya mendapatkan berbagai penghargaan dalam negeri.

My Name is Red (Benim Adim Kirmizi) yang diterbitkan pada 1998, merupakan novel yang mengangkat namanya di mata internasional. Novel yang berlatar kehidupan di Istanbul abad ke-16 itu telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan mengantarkan Pamuk menjuarai International Dublin Literary Award pada 2003.

Novelnya yang lain, berjudul Snow (Kar) terbit tahun 2002, dicatat The New York Times sebagai salah satu dari sepuluh buku terbaik (Ten Best Books) pada tahun 2004.

Karya-karya novelis kelahiran Istanbul, 7 Juni 1952 ini, telah terjual lebih dari 13 juta buku dan diterjemahkan ke dalam 63 bahasa di dunia. Di antara novelnya yang mendunia adalah The White Castle, The Black Book, The New Life, My Name is Red, dan Snow.

Selain itu, Pamuk juga mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari berbagai universitas baik dalam negeri Turki maupun luar negeri. Di antaranya adalah dari Bogazici University (Turki), Florence University (Italia), Universitas Amerika Beirut (Lebanon), Georgetown University, Yale University, dan Sofia University (Bulgaria), dan St.Petersburg State University (Rusia).

Gaza Menggugat




Oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin

Hari ini, aku akan menggugat jiwa-jiwamu yang kerdil
Hari ini, aku menggugat seluruh kemalasanmu
Aku menggugat kemalasanmu yang mengaliri setiap setiap darahmu
Aku menggugat hatimu yang hanya pandai membebek pada nafsu

Aku menggugat engkau, 
Wahai yang siang malamnya dipenuhi obsesi-obsesi yang rendah, obsesi para pecinta dunia
Yang setiap kali tiba waktunya berbuka puasa, dengan santainya bertanya “Berbuka apa kita hari ini?”
Yang setiap kali anaknya flu dan demam, 
dengan mudahnya berkata “Ayo bawa kedokter fulan, soal biaya tiada masalah”
Yang setiap kali butuh uang, dengan mudahnya pergi ke ATM atau menggesek kartu kreditnya
Yang setiap hari dengan mudahnya menghabiskan beribu-ribu rupiah untuk membeli pulsa
Yang setiap waktu dapat pergi kemana saja tanpa rasa takut yang mencekam

Hari ini aku menggugatmu,
Wahai penduduk negeri yang para pejabatnya asyik melakukan korupsi secara berjamaah
Wahai penduduk negeri yang artis-artisnya sibuk menjual tawa
Wahai penduduk negeri yang negerinya nyaris ambruk karena perzinaan dan hamil di luar nikah

Wahai penduduk negeri yang katanya krisis, tapi nafsu belanja penduduknya sungguh luar biasa

Hari ini, aku menggugatmu ,
Aku menggugatmu atas nama ribuan manusia yang terpenjara di negeri mereka sendiri
Aku menggugatmu atas nama para ayah yang tidak bisa mencari sepotong roti untuk anak istrinya
Aku menggugatmu atas nama para ibu, yang air susunya mengering karena kekurangan gizi
Aku menggugatmu atas nama anak-anak yang menggigil kedinginan dalam tenda sempit yang telah sobek dihempas angin musim yang menusuk
Aku menggugatmu atas nama orang-orang tua kami yang renta, yang giginya gemeretak karena tertidur dibawah langit terbuka
Aku menggugatmu atas nama para pemuda yang peluru dan rudal keji dengan batu
Aku menggugatmu atas nama setiap tetes darah dan air mata yang menetes di setiap jengkal negeri para nabi dan rasul
Aku menggugatmu atas nama ribuan hamba Allah yang terkurung dalam sebuah penjara terbuka bernama: “GAZA”

Aku menggugat setiap doamu
Aku menggugat setiap tarikan nafasmu
Aku menggugat setiap obsesi hidupmu
Aku menggugat perhatianmu
Aku menggugat setiap rupiahmu
Aku menggugat semua itu

Tapi jika engkau tak peduli
Tidak usah khawatir kawan
Allah pasti akan menolong kami
Jika engkau berlagak tidak tahu,
Tidak usah cemas sobat
Allah pasti akan menolong kami

Tapi apakah Ia akan menolong kalian atas semua ketidakpeduliaan kalian?
Tapi apakah Ia akan mengampuni kalian atas semua lagak ketidaktahuan kalian?

Entahlah…

Namun yang pasti, mulai hari ini hingga seterusnya,
Aku akan terus menggugat
Aku tak akan berhenti menggugatmu

Wahai Palestina…
Wahai Gaza…
Maafkan kami, karena baru hari ini
Kami menggugat dirikami sendiri

Senin, 23 September 2019

Wanita Yahudi Racuni Nabi



Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriyah, Rasulullah mengumumkan kepada umat Islam untuk mengepung benteng-benteng Khaibar. Khaibar adalah perkampungan Yahudi yang subur penuh dengan pepohonan kurma dan biji-bijian, terletak 171 km sebelah utara kota Madinah. Pengepungan dan penyerangan tersebut bukan tanpa alasan. Rasulullah memerintahkan mengepung orang-orang Yahudi di Khaibar karena mereka banyak melanggar perjanjian dengan kaum muslimin. Mereka juga bersekutu dengan orang-orang kafir Makkah untuk memerangi kaum muslimin.

Setelah beberapa benteng berhasil dikuasai, orang-orang Yahudi segera menegosiasikan perdamaian. Mereka setuju keluar dari Khaibar bersama keluarga mereka jika dijamin keselamatannya oleh Rasulullah. Rasulullah mengizinkan mereka keluar dari Khaibar dengan membawa apa saja yang mampu mereka bawa dari harta mereka.

Sebagian lagi meminta kepada Rasulullah agar mereka tetap tinggal di sana untuk mengolah tanahnya dan hasilnya akan mereka bagi dengan kaum muslimin. Rasulullah mengabulkan permohonan mereka. Namun, di masa kekhalifahan Umar bin Khatthab, mereka kembali melakukan makar sehingga mereka semua diusir dari Khaibar tanpa sisa.

Ketika Rasulullah telah menyetujui perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi di Khaibar, mereka kembali melakukan konspirasi untuk membunuh Rasulullah. Seorang wanita yahudi bernama Zainab binti Al-Harits bin Sallam berkhianat kepada Rasulullah. Ia menyajikan kambing panggang kepada Rasulullah yang telah dibubuhi racun yang banyak pada bagian paha (atau kaki depan)kambing itu karena ia mengetahui bahwa bagian tersebut yang paling disukai oleh Rasulullah.

Sahabat Rasulullah bernama Bisyr bin Al-Barra’ bin Ma’rur juga ikut mengambil bagian paha kambing panggang dan memakannya. Sementara Rasulullah baru mengunyah dan tidak langsung memakannya. Rasulullah lalu memuntahkannya. Ia mengetahui daging itu telah dibubuhi racun.

Rasulullah lalu meminta wanita Yahudi itu didatangkan. Wanita itu mengaku bahwa ia telah membubuhkan racun pada daging panggang tersebut. Dengan kemurahan hati dan sifat pemaaf Rasulullah, beliau memaafkan wanita yahudi tersebut. Akan tetapi ketika Bisyr bin Al-Barra’ yang ikut memakan daging tadi meninggal dunia, maka Rasulullah meminta wanita Yahudi itu diqishash sebagai balasan atas perbuatannya membunuh jiwa. Pada tahun 11 Hijriyah saat sakit menjelang wafat, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku santap di Khaibar. Dan inilah saat aku merasakan urat nadiku terputus karena racun tersebut.”

Mukjizat Rasulullah

Kisah Rasulullah diracuni ini menunjukkan bahwa beliau atas seorang Nabi dan Rasul utusan Allah. Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah menggigit daging kambing panggang, daging itu memberitahukan kepada Rasulullah bahwa ia beracun.

Kenabian beliau juga diakui oleh wanita Yahudi dan orang-orang Yahudi lainnya. Mereka mengatakan jika seandainya Muhammad seorang pendusta dan bukan Nabi maka ia telah mati memakan daging panggang itu. Namun, jika ia seorang Nabi, maka pasti ia akan tahu daging itu beracun.

Jumat, 26 Juli 2019

Imam Ahmad dan Madzhabnya



Dia adalah seorang imam besar, al-hafizh, ulamanya kota Baghdad. Sampai hari ini, madzhab fiqihnya banyak diikuti oleh umat Islam di berbagai negeri.

Namanya adalah Ahmad bin Hanbal bin Asad Adz-Dzuhli Asy-Syaibani, lahir di Baghdad pada tahun 164 Hijriyah. Ia lebih muda sekitar 14 tahun dari Imam Asy-Syafi’i. Sejak usia 16 tahun Ahmad bin Hanbal telah berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menuntut ilmu. Ia telah melakukan perjalanan ke berbagai kota pusat ilmu pengetahuan seperti di Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Khurasan, dan Syam.

Dari negeri-negeri yang dikunjunginya itu, Imam Ahmad belajar kepada ulama-ulama besar. Ia berguru kepada Sufyan bin Uyainah di Makkah dan Abdurrazzaq Ash-Shan’ani di Yaman. Dan guru yang paling dekat dengannya, sekaligus menjadi sahabatnya adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Tidaklah mengeherankan, setelah pencarian ilmunya ke berbagai negeri, ia kembali ke Baghdad dan menjadi ulama besar di sana. Orang-orang ramai mendatangi majelisnya, mengambil manfaat dari ilmu dan adabnya. Atau hanya sekadar melihat wajahnya yang tenang dan berwibawa.

Imam Asy-Syafi’i pernah memuji ketinggian ilmu Ahmad bin Hanbal, “Aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia mengatakan ‘haddatsana’ (artinya: telah menceritakan hadits kepada kami), maka orang-orang mengatakan, ‘Dia benar!’” Dia adalah Ahmad bin Hanbal, kata sang Imam.

Dalam kesempatan yang lain, ketika Imam Asy-Syafi’i meninggalkan Baghdad dan menetap di Mesir, ia tetap memuji muridnya itu. Ia mengatakan, “Aku meninggalkan Baghdad. Dan tidaklah aku meninggalkannya seorang yang lebih takwa dan lebih pandai fiqih dibandingkan Ibnu Hanbal.”

Di masa Khalifah Al-Mu’tashim Al-Abbasi, Imam Ahmad mendapatkan ujian yang berat. Saat itu, pemikiran Mu’tazilah dianut dan didukung oleh Khalifah. Mereka, orang-orang Mu’tazilah, menganggap Alqur’an adalah makhluk. Mereka menguji ummat Islam dengan masalah tersebut. Siapa yang mengatakan Alqur’an bukan makhluk ia akan dihukum bahkan dibunuh.

Imam Ahmad adalah salah satu yang dipanggil di hadapan Khalifah Al-Mu’tashim dan ditanyakan masalah tersebut. Imam Ahmad menjawab bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Ia hampir saja dihukum mati. Tapi akhirnya Khalifah memutuskan agar ia dihukum cambuk. Sang Imam dicambuk sampai pingsan. Karena peristiwa itulah ia digelari Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Setelah itu, Imam Ahmad dipenjara sampai Khalifah Al-Mu’tashim wafat dan digantikan Al-Watsiq. Al-Watsiq tidak sekeras Al-Mu’tashim. Hanya saja ia melarang Imam Ahmad untuk mengajarkan ilmunya. Ia dilarang keluar dari rumahnya. Imam Ahmad baru bisa mengajar kembali di masa Al-Mutawakkil.


Dasar-dasar Madzhab

Pijakan Imam Ahmad bin Hanbal dalam madzhabnya dan fatwa-fatwanya berlandaskan pada lima dasar. Pertama, Teks dari Alqur’an dan hadits. Kedua, fatwa para sahabat (ijma’ sahabat) jika tidak ditemukan nash dari Alqur’an dan hadits.

Ketiga, jika terdapat banyak pendapat para sahabat dalam satu kasus, maka ia memilih mana yang lebih dekat dengan Alqur’an dan hadits. Dengan kata lain, ia tidak keluar dari salah satu pendapat ini. Terkadang Imam Ahmad tawaqquf dari fatwa jika tidak ditemukan sesuatu yang menguatkan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.

Keempat, mengambil hadits mursal atau dhaif (lemah) lebih utama baginya dibandingkan qiyas selama tidak ada atsar lain yang menolaknya, juka tidak ada pendapat para sahabat yang bertentangan dengannya. Dan kelima, jika ia tidak menemukan sesuatu dari keempat dasar yang disebutkan sebelumnya, maka ia beralih kepada qiyas. Beliau menggunakan qiyas dalam keadaan darurat.

Murid-murid Imam Ahmad

Imam Ahmad memiliki banyak murid. Murid-muridnya itulah yang menyebarkan madzhab fiqih sang guru. Di antara mereka yang terkenal antara lain, Abu Bakar Al-Atsram bin Muhammad bin Hani Al-Khurasani Al-Baghdadi. Ia termasuk seorang fuqaha, ulama, dan penghafal hadits (al-hafizh). Karyanya adalah “Kitab As-Sunan fi Al-Fiqh ‘Ala Madzhab Ahmad wa Syawahiduhu min Al-Hadits”.

Lalu, Ahmad bin Muhammad bin Al-Hujjaj Al-Maruzi, wafat pada tahun 275 H. Ia termasuk salah satu murid Imam Ahmad yang paling mulia, seorang imam dalam fiqih dan haidits serta memiliki banyak karya.

Kemudian, Ibrahim Al-Harbi Abu Isqah, wafat pada tahun 285 H. Ia belajar fiqih kepada Imam Ahmad sehingga menjadi salah satu pemimpin para ulama. Ia banyak menulis kitab khususnya dalam bidang hadits. Dan masih banyak lagi murid beliau yang lainnya.

Minggu, 02 Juni 2019

Ayah Dapat Hidayah Sebab Putri Kecilnya



Syaikh Mahmud Al-Misri berkisah, ada seorang laki-laki yang tinggal di kota Riyadh, Arab Saudi. Ia adalah seorang ayah yang memiliki putri berusia lima tahun. Namun, ia sangat jauh dari Allah. Beberapa tahun belakangan ia tidak pernah masuk ke masjid, bahkan tidak pernah bersujud kepada Allah.

Laki-laki itu berkisah, “Dulu saya selalu begadang hingga pagi hari bersama teman-teman yang buruk akhlaqnya di tempat-tempat hiburan dan permainan. Saya meninggalkan istri dalam kesunyian, ia merasakan kesendirian, kesulitan, dan rasa sakit. Hanya Allah saja yang mengetahuinya. Istri shalihah dan berbakti itu telah lelah menghadapi saya. Ia terus memberikan nasihat dan mengarahkan saya, akan tetapi tidak ada hasilnya.

Pada suatu malam, saya kembali dari salah satu tempat begadang saya. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saya dapati istri saya dan putri kecil saya sedang terlelap di kamar. Saya menuju ruang sebelah untuk menghabiskan sisa-sisa malam dengan menonton film porno.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, terlihat putri kecilku yang berusia lima tahun keluar. Ia memandangku penuh keheranan. Ia lalu berkata kepadaku, “Ayah, jangan lakukan itu. Bertaqwalah kepada Allah.” Ia mengulanginya tiga kali. Setelah mengatakan itu, ia kembali ke kamar dan menutup pintu.

Mendengar perkataan putriku itu aku segera mematikan video, aku duduk dalam keadaan bingung. Kata-katanya terus berulang di telingaku, bahkan hampir membunuhku. Aku lalu masuk ke kamarnya tapi aku dapati dia telah tidur kembali.

Akut tidak tahu apa yang telah menimpaku saat itu. Hanya beberapa saat setelah itu terdengar suara muadzin dari masjid dekat rumahku memecah keheningan malam yang mencekam, ajakan untuk mendirikan shalat Subuh.

Aku berwudhu lalu pergi ke masjid. Sebenarnya aku tidak terlalu ingin melaksanakan shalat, hanya yang menyibukkanku dan mencemaskan perasaanku adalah kata-kata putri kecilku.

Shalat pun dilaksanakan. Ketika sujud, aku menangis histeris dalam sujudku. Aku tidak tahu sebabnya. Ini pertama kalinya aku sujud kepada Allah sejak tujuh tahun silam.
Saat pagi tiba, aku pergi bekerja. Temanku merasa heran mengapa aku datang cepat. Biasanya aku datang terlambat satu jam karena begadang sepanjang malam. ketika ia bertanya kepadaku tentang sebabnya, aku beritahukan kepadanya apa yang aku alami tadi malam. ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menundukkanmu, putri kecilmu telah membangunkanmu dari kelalaianmu. Ia tidak mengutus malaikat maut untuk mencabut ruhmu saat itu.”

Waktu shalat Zhuhur pun tiba. Aku sangat lelah karena belum tidur sejak semalam. Aku meminta kepada temanku agar mengerjakan pekerjaanku. Kemudian aku pulang ke rumah untuk beristrahat. Aku sangat rindu ingin melihat putri kecilku yang telah menjadi penyebab aku mendapat hidayah, kembali kepada Allah.”

Ketika sampai di rumah, aku dapati istriku berdiri di depan pintu rumah tidak seperti biasanya. “Kami terus menghubungimu, tapi kami tidak menemukanmu. Kamu dari mana saja?” tanya istriku. “Aku dari masjid tempat aku bekerja, apa yang terjadi?”jawabku. Istriku lalu berkata, “Putri kita telah meninggal dunia.”

Aku tidak kuasa menguasai diriku, aku menangis keras. Aku kembali mengingat kata-katanya, “Ayah, jangan lakukan itu. Bertaqwalah kepada Allah. Ayah, jangan lakukan itu, bertaqwalah kepada Allah.”

Aku menelepon temanku, aku kabarkan kepadanya bahwa putriku yang Allah jadikan sebagai penyebab aku keluar dari kegelapan menuju cahaya, telah meninggal dunia.
Di pemakaman, saat aku meletakkannya di makamnya, aku berkata kepada orang-orang di sekeliling, “Aku tidak mengubur putriku. Aku mengubur cahaya yang telah menerangi jalanku menuju Allah. Putriku ini, Allah telah menjadikannya sebagai penyebab aku mendapat hidayah. Aku memohon kepada Allah agar mempertemukanku dengannya di dalam surga-Nya.” Orang-orang yang berada di sekitar menangis mengingat putri kecil yang penuh berkah itu.